Internet dan Nalar yang Memudar

ACEP MUSLIM

Dalam sebuah pidato di universitas Notre Dame pada tahun 1955, David Sarnoff, seorang pengusaha media, menyatakan bahwa segala teknologi (termasuk teknologi media) pada dasarnya netral. Bagaimana orang menggunakan teknologi itulah yang menentukan nilai teknologi tersebut. Pernyataan Sarnoff ini merupakan bagian dari upayanya menepis kritikan banyak kalangan terhadap efek (buruk) media massa yang menjadi area bisnis perusahaannya.

Marshall McLuhan, seorang pakar media massa saat itu yang melegenda hingga sekarang, mencibir pernyataan Sarnoff tersebut. Menurut McLuhan, setiap media pada dasarnya dapat mengubah diri pemakainya. Teknologi seperti media massa lebih dari sekedar saluran informasi yang menghimpun dan menyebarluaskan informasi yang dengannya dapat memengaruhi pikiran dan tindakan khalayak. Untuk melihat dampak dari media massa, tidak cukup dengan meneliti isi dari media itu, tapi juga perlu ditelisik diri dan watak media massa-nya itu sendiri (Barker: 2001). Itulah makna dari perkataan McLuhan yang sangat terkenal: the medium is the message.

Perdebatan antara ‘Kubu Sarnoff’ dan ‘Kubu McLuhan’ tidak berhenti di situ. Di kemudian hari, seiring bermunculannya aneka media baru, perdebatan itu terus berlanjut. Internet, media yang sangat populer dalam setidaknya satu dekade terakhir, pun tak lekang dari perdebatan itu. Satu kubu menganggap bahwa internet pada dasarnya netral; dampak positif dan negatifnya tergantung isi yang dimuat dan bagaimana cara orang menggunakan internet itu. Kubu lain berpendapat internet, lepas dari isi dan cara menggunakannya, sedikit banyak tetap memberi dampak tertentu bagi pemakainya. Di kubu terakhir inilah Nicholas Carr, penulis The Shallows: Apakah  Internet Mendangkalkan Pikiran Kita?, berdiri.


Judul Buku: The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?;
Penulis: Nicholas Carr; Penerbit: Mizan;
Cetakan: Juli, 2011; Tebal: 279 Halaman.

Karena Otak Dapat Berubah
Selain mengutip pendapat McLuhan, dalam porsi lebih besar Nicholas Carr dalam bukunya mengemukakan argumen neurologis tentang bagaimana internet dapat memengaruhi otak dan cara bertindak manusia. Konsep neurologis yang menjadi kunci argumen Carr adalah neuroplasticity (kelenturan saraf otak).

Inti konsep neuroplasticity adalah bahwa otak manusia terus menerus berubah, menyesuaikan diri, termasuk pada perubahan kecil dalam keadaan dan perilaku kita (hal. 28). Semua sirkuit saraf  kita—baik yang terlibat dalam merasa, melihat, mendengar, bergerak, berpikir, belajar, memahami, atau mengingat—bisa berubah (hal. 24).

Termasuk hal paling berpengaruh terhadap struktur otak kita adalah teknologi yang kita gunakan untuk mencari, mengorganisisir, menafsir, dan menyimpan informasi. Semua teknologi yang dari waktu ke waktu telah memengaruhi bagaimana kita menemukan, menyimpan, dan menerjemahkan informasi, bagaimana kita mengarahkan perhatian kita dan menggunakan indra kita, bagaimana kita mengingat dan bagaimana kita lupa, telah membentuk struktur fisik dan cara kerja pikiran manusia (hal.48).  Ketika seseorang terbiasa menggunakan internet untuk mencari dan mengorganisir informasi, misalnya, maka otak kita akan membentuk pola tertentu sesuai kebiasaan itu.

Dari Membaca Buku yang Tidak Selesai hingga Pikiran yang Dangkal
Salah satu dampak nyata penggunaan internet terhadap otak, menurut Carr, adalah kian sulitnya otak pengguna internet untuk fokus dan berkonsentrasi ketika membaca buku. Ia hanya mampu membaca beberapa halaman, kemudian merasa gelisah dan mulai mencari-cari hal-hal lebih menarik di buku itu atau memutar perhatian ke sekelilingnya, bosan, lalu berhenti membaca sebelum buku itu tuntas.

Itu terjadi karena orang yang terbiasa menggunakan internet biasa membaca teks-teks pendek dan gurih dengan banyak tautan (link) di sekitarnya. Setelah membaca semua atau sebagian teks itu ia pindah membaca informasi lain dengan mengklik tautan yang ada di dekat tulisan itu. Selain itu, ketika menggunakan internet, orang bisa mendapat informasi dengan sangat cepat. Dengan Google, orang tinggal memasukan kata tertentu di kotak pencarian dan sedetik kemudian berderet-deret tautan menuju informasi yang berkaitan dengan kata itu akan bermunculan.

Pola penemuan dan pembacaan informasi demikian lama-lama terbentuk menjadi kebiasaan dan otak menyusunnya sebagai pola atau prosedur standar yang digunakan jika ia ingin mendapatkan dan menyerap suatu informasi. Maka, ketika seseorang membaca buku, secara tergesa ia ingin menemukan sesuatu yang menarik di buku itu. Ketika ia tidak menemukannya dalam waktu segera, kebosanan pun muncul dan ia memilih mencari buku atau hal lain di sekitarnya yang lebih menarik. Membaca buku pun tidak lagi menjadi momen kontemplatif dimana orang meresapi satu demi satu makna yang berserakan di dalamnya.

Kesulitan membaca secara mendalam (deep reading) dan tuntas hanya bagian atau gejala dari kondisi lebih serius pada diri seseorang karena seringnya menggunakan internet. Soal lebih besar itu adalah menurunnya kamampuan berpikir linear, kontemplatif, dan mendalam yang berganti dengan berpikir tergesa, instan, atau grasa-grusu.  Kesulitan untuk fokus ketika membaca, dan makin asingnya cara berpikir linear, dalam, dan kontemplatif  inilah yang yang secara ringkas disimpulkan oleh Nicholas Carr bahwa penggunaan internet bisa mendangkalkan pikiran. Ini tentu saja kesimpulan yang mencemaskan mengingat pengguna internet saat ini sudah berjumlah milyaran dan akan terus bertambah. Jika kesimpulan Nicholas Carr itu valid berarti dunia saat ini dihuni oleh lebih dari satu milyar orang yang berpikiran dangkal.

Manusia Larut di Hadapan Internet
Walau menyertakan sederet dalil dan temuan ilmiah, pemikiran Nicholas Carr bukan tak mengandung kelemahan. Di antara kelemahan itu terletak pada asumsi yang mendasari analisis-analisis Carr yang menyatakan bahwa ketika orang menggunakan internet, ia akan larut, kehilangan kemampuan memilih dan pikiran kritisnya. Asumsi itu juga berbunyi bahwa di depan internet orang menjadi pasif dan dikuasi internet sedemikian rupa sehingga dirinya dibentuk oleh internet. Carr  agaknya hendak menyamakan semua pengguna internet dengan dirinya yang, seperti ia ceritakan, telah banyak berubah sejak ia menjadi ‘adiktif’ terhadap  internet. Carr bahkan harus mengasingkan diri ke daerah dengan akses internet yang sangat terbatas agar bisa fokus dan tuntas menulis buku The Shallows ini.

Meski begitu, buku finalis Pulitzer Award 2011 ini sangat penting sebagai pewanti-wanti bagi kita para pengguna internet untuk lebih berhati-hati agar tidak menjadi adiktif dan obsesif terhadap internet sehingga kita terlalu mengandalkannya untuk mencari, mengolah, menafsir, dan menyimpan informasi melebihi otak kita sendiri. Internet cukup digunakan untuk membantu sebagian kecil kerja otak dan bukan untuk menggambil alih sebagian besar apalagi seluruh fungsinya. []

Edisi ringkasnya terbit di Koran Tempo 13 November 2011

Peduli Perpustakaan

ACEP MUSLIM

Ini adalah berita duka: 47 Kota/Kabupaten di Indonesia tidak memiliki institusi khusus perpustakaan dan dari 77.977 desa/kelurahan, baru 21.607 di antaranya yang memiliki perpustakaan (Kompas/14/04/2011). Fakta itu menggenapkan kemalangan kondisi dunia pendidikan, pengetahuan, budaya, sastra, dan perbukuan di negara kita.

Ada tidaknya perpustakaan di berbagai kota/kabupaten adalah satu masalah. Sedangkan bagaimana kondisi perpustakaan-perpustakaan yang sudah ada adalah masalah lain. Mari kita tengok perpustakaan di kota masing-masing. Hampir bisa dipastikan bahwa perpustakaan-perpustakaan itu bukanlah tempat yang penting dan menarik untuk dikunjungi. Jajak pendapat yang dilakukan Kompas menunjukkan hanya satu dari sepuluh orang warga yang sering datang ke perpustakaan di daerahnya (27/03/2011).

Masalah perpustakaan di berbagai daerah berderet dari rendahnya sosialisasi tentang keberadaan perpustakaan; jumlah dan ragam koleksi yang minim; suasana dan kegiatan yang monoton; hingga petugas perpustakaan yang tidak dapat mengelola dan mengembangkan perpustakaannya dengan baik. Padahal perpustakaan kota/kabupaten mestinya merupakan “sekolah terbuka” dimana masyarakat dari berbagai usia dan beragam latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan bisa bebas belajar dan mengembangkan diri. Ia pun menjadi alternatif pendidikan bagi masyarakat yang tidak mampu mengakses jalur pendidikan formal. Di sana tersedia koleksi lengkap mulai dari bermacam novel atau buku cerita untuk segala usia, buku-buku tentang beragam ilmu pengetahuan, aneka ensiklopedia, hingga berjenis majalah dan koran.

Kegiatannya pun bukan hanya membaca dan meminjam buku, tapi juga diskusi, nonton bareng, lomba-lomba, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan lain di luar membaca dan meminjam buku penting diselenggarakan karena di samping sebagai tempat belajar perpustakaan juga bisa dijadikan ruang publik dan tempat rekreasi. Orang bisa datang ke perpustakaan untuk menghibur diri, kumpul-kumpul dengan teman, sekaligus mendapat pengetahuan bermakna.

Dokumentasi Pengetahuan dan Budaya Lokal
Salah satu fungsi khusus perpustakaan kota/kabupaten semestinya adalah menyediakan informasi dalam berbagai bentuk (buku, manuskrip, terbitan berkala, film dokumenter) yang menyimpan segala macam informasi tentang kota/kabupaten tersebut. Sehingga jika seseorang ingin mengetahui bagaimana sejarah atau seluk beluk suatu kota, misalnya, ia bisa mengunjungi perpustakaan kota setempat.

Dalam hal ini perpustakaan berfungsi sebagai pusat dokumentasi kekayaan pengetahuan dan budaya lokal dimana perpustakaan itu berada. Anak-anak, generasi muda, semua warga, kini dan nanti, bisa kenal secara mendalam ikhwal daerah tempat tinggalnya dengan mempelajarinya di perpustakaan.

Sudahkah fungsi-fungsi di atas terpenuhi? Di beberapa kota kita malah bisa lebih banyak mendapat pengetahuan tentang seluk beluk atau sejarah kota-kota itu di beberapa perpustakaan milik pribadi daripada di perpustakaan (pemerintah) kota-kota itu.

Waktu buka dan jam layanan adalah masalah lainnya. Perpustakaan-perpustakaan di berbagai daerah, seperti halnya institusi pemerintah lain, kebanyakan hanya buka di hari dan jam kerja. Di hari kerja tentu saja kebanyakan warga pun bekerja atau bersekolah. Orang tidak bisa mengunjungi perpustakaan sepulang kerja, karena perpustakaan sudah tutup. Orang tua dan anaknya tidak bisa main ke perpustakaan di hari libur karena perpustakaan pun libur.

Siapa Peduli Perpustakaan?
Tiadanya institusi perpustakaan di puluhan kota/kabupaten di Indonesia serta belum optimalnya beragam fungsi dari perpustakaan-perpustakaan kota/kabupaten yang sudah ada, cukup menjadi bukti bahwa kepedulian pemerintah di berbagai tingkatan begitu rendah atas keberadaan perpustakaan. Kritisnya kondisi PDS HB Jassin, beberapa waktu lalu, adalah bukti lainnya. Sebelum itu, puluhan ton koleksi buku milik mantan Wakil Presiden RI Adam Malik yang dijual ke pedagang buku bekas lantaran tiadanya biaya untuk mengelola peninggalan beliau yang amat berharga itu (Koran Tempo/30/01/2011). Kita bisa menyelidik beberapa perpustakaan atau ribuan koleksi buku peninggalan tokoh lain yang nasibnya menyedihkan.

Di antara berita-berita muram itu, kabar baik justru datang dari bawah, dari masyarakat. Di berbagai daerah muncul individu-individu dan berbagai komunitas yang berinisiatif membangun perpustakaan atau taman bacaan. Mereka menggelorakan semangat literasi dari daerahnya masing-masing. Di Kabupaten Bandung, misalnya, ada Perpustakaan Sariwangi dan Sudut Baca Soreang; di Bogor ada Warung Baca Lebak Wangi; di Sumedang ada Perpustakaan Batu Api; di Banten ada Rumah Dunia; di Yogyakarta ada Perpustakaan Iboekoe; dan banyak lagi.

Banyak di antara orang-orang yang membangun dan mengembangkan perpustakaan dan taman bacaan itu bukanlah orang yang secara materi melimpah. Tapi mereka punya kepedulian, kemauan, bahkan kerelaan berkorban demi menyediakan kesempatan, ruang, dan pengetahuan bagi masyarakat. Ayi Rohman, pengelola perpustakaan Sariwangi, di masa merintis perpustakaannya, rela menyisihkan beberapa ribu rupiah tiap hari dari hasil usahanya berjualan gorden keliling kampung demi bisa membeli buku untuk perpustakaannya.

Kata Bertrand Russell

Saya menemukan beberapa ungkapan dari Bertrand Russell yang menarik. Itu di antaranya berkaitan dengan cara kita melihat dan menilai sesuatu.

• Jika suatu permasalahan dapat diatasi dengan pengamatan, lakukanlah sebuah pengamatan sendiri.

• Pikiran bahwa anda tahu sedangkan pada kenyataannya anda tidak mengetahuinya merupakan kesalahan fatal, yang kita semua sering lakukan.

• Jika suatu pendapat yang bertentangan dengan pendapat Anda membuat anda marah, hal itu menandakan bahwa anda secara tak sadar mengakui bahwa anda tidak memiliki argumen yang kuat bagi pandangan anda.

• Cara terbaik untuk membersihkan diri anda dari berbagai macam dogma adalah memahami pendapat-pendapat yang dipertahankan di lingkungan yang berbeda dengan lingkungan anda.

• Cobalah membayangkan suatu perdebatan dengan orang yang mempunyai prasangka berbeda dengan anda. Ini adalah cara menguji argumen kita atas suatu hal.

• Waspadalah terhadap pendapat-pendapat yang menyanjung harga diri anda.

• Di samping harga diri, rasa takut adalah sumber kesalahan yang lain. Menaklukan rasa takut merupakan suatu permulaan dari sebuah kebijaksanaan

Motor Anda, Telinga Saya

Saran bagi para pengendara motor bersuara bising

Baiklah, karena itu motor Anda, Anda boleh berbuat apapun atas motor Anda itu. Memereteli lampu-lampunya, memodifikasi bodinya, termasuk mengganti knalpotnya dengan knalpot bersuara bising, lalu menungganginya secara bebas-lepas di jalan raya. Terserah. Ini tidak aneh. Banyak orang merasa bebas melakukan apa saja atas barang miliknya tanpa memerhatikan aturan atau apapun di sekitarnya.

Tapi jangan lupa, suara motor Anda juga masuk ke telinga saya, telinga tetangga saya, telinga orang-orang yang anda lewati sepanjang jalan, telinga para pengendara lain. Dan sori, jika menutur Anda suara motor Anda itu keren, menurut banyak orang, suara motor Anda itu memuakkan. Saya sering mendengar orang-orang mengumpati para pengendara motor bersuara bising yang lalu lalang di jalan.

Nah, bagaimana ini? Kebebasan Anda mengganggu kenyamanan banyak orang, mengganggu kenyamanan bayi yang lagi tidur, mengganggu orang-orang yang lagi menggelar suatu acara. Saban hari Anda bikin banyak orang terganggu. Ini masalah serius. Sebaiknya Anda memikirkan ini. Dan urusannya kian serius jika orang-orang yang merasa terganggu itu mengharapkan atau mendoakan macam-macam atas diri Anda.

Oke, Anda mungkin tidak peduli. Anda masih merasa boleh melakukan apa saja dengan motor Anda di jalan raya atau jalan perumahan atau di gang sekalipun. Dan Anda masih merasa gagah dengan kebisingan motor Anda itu. Anda keras kepala, tidak apa, itu kepala Anda.

Tapi karena saya peduli dengan kenyamanan pendengaran saya dan banyak orang pun peduli dengan pendengarannya masing-masing, inilah Saya ajukan jalan tengah yang semoga baik bagi Anda, baik bagi saya, baik bagi banyak orang.

Modifikasilah knalpot sepeda motor Anda sedemikian rupa sehingga volume suaranya normal bagi orang lain tapi tetap bising untuk Anda sendiri. Kepada bengkel kepercayaan Anda, Anda bisa minta dibikinkan headset untuk knalpot motor Anda. Headset itu tersambung dari knalpot ke telinga Anda. Setiap kali Anda mengendarai motor, pasanglah headset itu. Dengan begitu, Anda masih tetap bisa menikmati suara motor Anda, dan telinga orang lain tidak terganggu oleh suara motor Anda.

Itu adalah saran kedua, karena saran pertama, saran yang kiranya lebih sulit bagi Anda, adalah mengganti knalpot motor Anda dengan knalpot yang volume suaranya biasa saja.

Namun jika saran kedua ini masih berat dilakukan, saya kira knalpot bising itu memang tak semata Anda pasang untuk memanjakan telinga Anda, tapi juga sebagai upaya Anda untuk bisa eksis di jalanan.

Prinsip-Prinsip Pengembangan Diri Orang Yahudi

Eran Katz, pemegang Guinness Book of World Record for Memory Stunts, menulis buku tentang kecerdasan orang Yahudi. Judulnya Jerome Becomes A Genius (2009). Pada tahun yang sama Penerbit Ufuk menerjemahkan buku tersebut dalam bahasa Indonesia dengan judul serupa ditambah anak judul: mengungkap rahasia kecerdasan orang Yahudi.

Ini tentu bukan buku pertama yang mengungkit soal otak orang Yahudi. Jika kita jalan di beberapa toko buku, buku-buku soal kepintaran orang Yahudi tak susah dicari. Di beberapa toko, buku-buku itu dipajang di satu baris khusus.

Saya tidak akan menulis kembali daftar ilmuwan atau hartawan berlatar Yahudi. Mereka sudah galib dikenal. Eran pun tak secara khusus mendaftar orang-orang itu di bukunya. Di buku yang ia tulis dengan bahasa renyah itu, Eran fokus pada upaya mencari tahu apa sebenarnya yang bikin orang-orang Yahudi di berbagai belahan bumi ini relatif lebih pintar, kaya, dan berkuasa dibanding orang-orang dari agama lainnya. Padahal secara statistik mereka adalah minoritas di dunia.

Eran melacak misteri tadi di antaranya dari kitab-kitab, para tokoh, dan dari sejarah perjalanan orang-orang Yahudi.  Berikut adalah beberapa temuan Eran tersebut. Mereka dirangkum dalam lima prinsip.

Prinsip Imajinasi. Sesuatu yang tidak logis dapat menjadi logis dengan bantuan imajinasi kreatif. Imajinasikan kenyataan yang berbeda, tinggalkan logika dan kemungkinan, wujudkanlah yang tidak mungkin dengan cara-cara yang mungkin.

Kecerdasan mempertahankan hidup. Ubah kenyamanan dan hal-hal rutin. Teruslah mengembara secara fisik maupun mental untuk mengetahui dan mengalami wilayah-wilayah lain. Sebaiknya kau tidak pernah merasa puas atau merasa telah mencapai suatu tingkat kenyamanan dan keamanan finansial.

Prinsip pengetahuan yang paling pokok. Belajarlah selamanya.  Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan dan jangan pernah membuat asumsi apa-apa dahulu.

Prinsip peningkatan mutu. Tak ada alasan membuang-buang waktu dengan melakukan sesuatu mulai dari awal kembali. Lebih baik gunakan apa yang sudah ada dalam sebuah cara yang paling sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan khususmu.

Prinsip Inspirasi. Temukan seorang teladan untuk kau tiru, berjalanlah tepat dalam langkah-langkahnya (tidak secara membabi buta) dan tambahkan inovasi-inovasimu sendiri sepanjang jalan itu.

Dari buku Eran, saya jadi punya duga  bahwa semua agama memiliki prinsip-prinsip pengembangan diri. Dalam Islam, misalnya, ada prinsip tentang perubahan yang akan terjadi jika yang mau berubah berupaya untuk berubah, ada juga ajaran tentang keutamaan waktu dan bagaimana menggunakan waktu.

Kendati begitu, saya masih ragu bahwa orang Islam atau Yahudi bisa cerdas semata karena mereka taat penuh pada ajaran agamanya. Soal ini sayangnya tidak dijelaskan dengan terang dalam buku Eran.

Albert Einstein dan Sigmund Freud tak diragukan adalah dua di antara banyak ilmuwan besar abad dua puluh berlatar Yahudi.  Tapi, apakah mereka berotak cemerlang dan berkarir gemilang lantaran bersungguh-sungguh mengamalkan ajaran agamanya ?

Bagi saya, alih-alih isinya, yang lebih  menarik dari karya Eran ini adalah metode penulisannya. Beda dengan banyak buku pengembangan diri lain, buku Eran minim gambar atau ilustrasi. Ia sepenuhnya menggunakan kekuatan kata, kekuatan cerita. Jerome Becomes A Genius adalah sebuah narasi yang begitu hidup.

Cerita tentang Pawang Anjing dari Sudut Pandang Si Anjing

Photo by Todd Heisler/The New York Times

Oleh ACEP MUSLIM

Dalam satu dekade terakhir, Malcolm Gladwell telah menjadi salah satu penulis paling bersinar di jagat penulisan buku nonfiksi populer. Tiga bukunya, Tipping Point (2000), Blink (2005), dan Outliers (2008), terjual jutaan kopi dan diterjemahkan ke lebih dari duapuluh bahasa di berbagai negara. Tahun 2010  lalu Gladwell kembali hadir dengan karyanya berupa buku kumpulan tulisan yang menyimpan banyak kejutan. What The Dog Saw dan Petualangan-Petualangan Lainnya.

Malcolm Gladwell adalah staf penulis di majalah The New Yorker sejak 1996 hingga sekarang. Meskipun karirnya sebagai penulis kini begitu cemerlang, sebelumnya ia tak pernah berpikir atau bercita-cita jadi penulis. Saat kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Toronto, Kanada, ia bercita-cita jadi pengacara tapi di tahun akhir kuliah  memutuskan untuk memasuki dunia periklanan. Setelah  lulus (1984),  ia melamar ke delapan belas biro iklan di kota Toronto. Semuanya ditolak. Ia sempat berpikir untuk melanjutkan studi pascasarjana, tapi nilai-nilainya kurang bagus. Ia lantas mengikuti seleksi penerima beasiswa. Ditolak lagi. “Akhirnya saya menulis; setelah cukup lama, saya baru sadar bahwa menulis bisa dijadikan pekerjaan,” tulis Gladwell di bagian pengantar buku What The Dog Saw. Lalu ia melanjutkan, “Pekerjaan itu berat dan serius. Menulis itu asyik” (hal xviii).

Sebelum bekerja di New Yorker, Gladwell bekerja di Washington Post, awalnya sebagai penulis bidang sains lalu menjadi kepala biro New York City. Tina Brown, editor senior di New Yorker, mengajak Gladwell bergabung di salah  satu  majalah  bergengsi di Amerika itu. Sejak itu secara rutin Gladwell memproduksi artikel-artikel panjang untuk New Yorker. Tulisan-tulisannya menjangkau aneka bidang. Psikologi, kesehatan, kecantikan, olah raga, ekonomi, dan banyak lagi. Dari banyak artikel yang ditulisnya sejak 1996 itulah Gladwell memilih sembilan belas artikel favoritnya lalu dibundel dalam buku What The Dog Saw dan Petualangan-Petualangan Lainnya.

Beberapa artikel dalam What The Dog Saw, dalam versi aslinya di New Yorker,  sebenarnya lebih dulu terbit dibanding ketiga buku Gladwell, Tipping Point (2000), Blink (2005) dan Outliers (2008). Artikel berjudul Ledakan merupakan artikel yang paling awal terbit dibanding ketiga buku tadi juga dibanding artikel lain dalam What The Dog Saw. Ia terbit di New Yorker pada Januari 1996.  Artikel tersebut mengupas tragedi ledakan pesawat ulang alik Challenger pada tahun 1986 berikut perdebatan yang melingkupinya.

Setelah menceritakan rincian kejatuhan Chalengger dan mengemukakan pendapat para ahli tentang penyebab kecelakaan itu, Gladwell mengajukan pendekatan lain atas masalah itu dengan menggunakan teori homeostatis resiko. Kepingan dari gagasan dasar teori itu adalah bahwa, “manusia punya kecenderungan yang sepertinya mendasar untuk menggimbangi mengecilnya resiko di satu hal dengan mengambil resiko lebih besar di hal lain” (hal 320).

Teori itu nyatanya cukup relevan untuk menerangkan sisi lain tragedi Chalengger. Diketahui bahwa resiko kerusakan pada bagian tertentu di Chalengger sebenarnya sudah diduga oleh para insinyur NASA. Tapi pada peluncuran sebelumnya resiko tersebut bisa ditangani. Hal itu membuat para petinggi  NASA percaya diri bahwa pada peluncuran selanjutnya pun resiko itu akan tertangani. “Kita (NASA-pen) bisa menurunkan standar kita sedikit karena kemarin kita tidak apa-apa” (hal 323). Homeostatis resiko.

Artikel berjudul Paling Mungkin Berhasil merupakan yang terakhir terbit dalam versi New Yorker, Desember 2008. Ia menguliti proses seleksi pekerja baru yang dilakukan banyak lembaga, termasuk perusahaan-perusahaan. Dalam artikel ini, Gladwell menekankan pentingnya memberi perhatian lebih dalam melakukan seleksi calon guru untuk menghasilkan guru-guru hebat yang pada gilirannya mampu mendongkrak kualitas pendidikan secara umum. Gladwell membandingkan seleksi calon guru dengan seleksi untuk memilih penasehat keuangan yang dilakukan oleh perusahaan  North Star Resource Group di Menneapolis. Dari seribu pelamar yang diwawancara perusahaan itu, melalui seleksi yang amat ketat, hanya dua puluh tiga orang yang lolos. “Apakah artinya,” tulis Gladwell, “bila masyarakat lebih memberi perhatian dan kesabaran terhadap seleksi orang yang mengelola uang daripada yang mengelola anak?” (hal 372).

Artikel  Ledakan dan  Paling Mungkin Berhasil ditulis Gladwell dalam jarak waktu 12 tahun, dengan tema  yang  amat berlainan. Akan tetapi kualitas keduanya, baik dari segi substansi maupun teknik penulisan, tak jauh beda. Isinya menukik dalam. Alur penulisannya lancar. Demikian juga dengan tujuh belas artikel lainnya yang terbit dalam rentang waktu belasan tahun dan mengangkat bermacam tema, dari soal pewarna rambut, pawang anjing, hingga perkara bakat. Semuanya asyik.

Dalam What The Dog  Saw Gladwell menjawab pertanyaan banyak orang

Photo by Sari Goodfriend, Observer

tentang bagaimana ia menemukan gagasan untuk menulis karya-karyanya.“Kunci menemukan gagasan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita,” demikian jawabnya (hal xvi). Setelah menemukan sudut pandang strategis (juga seringkali unik) untuk menggarap gagasan itu, Gladwell libatkan teori dan pendapat para pakar untuk menguatkan atau menguji gagasannya. Dan terakhir, ia sajikan semuanya dalam tulisan yang mengalir, relatif gampang dimengerti, dan seringkali memprovokasi.

Judul buku What The Dog Saw sendiri diambil dari artikel tentang Cesar Milan, seorang pawang anjing sekaligus pemilik Dog Psycology Center, yang mampu menjinakkan anjing liar dalam hitungan menit. Di antara delapan belas tulisan lainnya, tulisan tentang pawang anjing itu menjadi semacam ikon dari keunikan Gladwell dalam menemukan gagasan dan mengambil sudut pandang atas gagasan itu. Gladwell membahas kemahiran Cesar Milan dalam menjinakkan segala jenis anjing dari ‘sudut pandang’ si anjing. “Ketika Milan melakukannya” tulis Gladwell ketika menceritakan kisah di balik penulisan artikel itu, “apa yang ada dalam kepala si anjing?” (hal xv).

Sentra Tanaman Hias Cihideung

ACEP MUSLIM
Pertama kali ditulis di bulan April 2010

Bagi para peminat dan pebisnis tanaman hias di Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya, Cihideung tentu bukan nama asing. Daerah yang terletak di utara Kota Bandung ini merupakan satu di antara sedikit daerah sentra bunga dan tanaman hias yang ada di Indonesia. Bukan hanya menarik sebagai tempat belanja aneka bunga dan tanaman hias, Cihideung juga cocok dijadikan tempat berwisata. Udaranya yang bersih dan sejuk serta panoramanya yang indah bisa mentralisir kepenatan pikiran dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Para pembeli atau wisatawan yang datang ke Cihideung berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan sesekali ada juga yang berasal dari luar negri.

Untuk memperluas jangkauan pasar dan mempermudah dalam proses transaksi jarak jauh, kini di Cihideung terdapat portal online www.cihideung.com. Situs yang dibuat oleh Balai Informasi Masyarakat (BIM) Cihideung ini memuat aneka informasi tentang beragam bunga, tanaman hias, jasa dekorasi, berikut harganya. BIM sendiri merupakan telecenter yang didirikan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) yang bekerjasama dengan Kelompok Tani Giri Mekar (KTGM) Desa Cihideung, beberapa institusi swasta, serta pemerintah.

Awal Mula

Menurut Ganda Suganda, salah seorang tokoh pertanian tanaman hias di Cihideung, berdasarkan cerita yang Ia dapat secara turun temurun, tanaman hias mulai masuk di kawasan Cihideung sejak masa kolonial Belanda, tepatnya pada tahun 1920-an. Sebagian wilayah Cihideung waktu itu merupakan area perkebunan yang ditinggali oleh beberapa orang Belanda. Orang-orang Belanda inilah yang mulanya membawa tanaman hias ke Cihideung untuk memperindah rumahnya. Mereka menanam tanaman hias di pekarangan atau menaruhnya di teras rumah.

Tanaman hias di rumah orang-orang Belanda di Cihideung pada umumnya dirawat oleh warga setempat. Sambil merawat tanaman hias kepunyaan orang Belanda, warga-warga ini mencoba membudidayakan tanaman hias tersebut di pekarangan rumah atau kebunnya masing-masing. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menemukan nilai ekonomi dari tanaman hias yang mereka tanam. Banyak di antara orang Belanda dan warga pribumi yang tertarik pada tanaman hias yang mereka tanam itu lalu membelinya.

Dari masa kemerdekaan hingga era 80-an, pertanian dan perdagangan tanaman hias di Cihideung perlahan tapi pasti terus berkembang. Meskipun perkembangannya tidak terlalu signifikan, namun ketenaran Cihideung sebagai sentra tanaman hias mulai tersebar ke beberapa daerah. Perkembangan pesat mulai tejadi di akhir tahun 80-an dan tahun 90-an. Pada masa ini, hampir 100 persen kebutuhan bunga di Kota Bandung dipenuhi dari Cihideung. Pada masa ini pun jumlah warga yang beralih mata pencaharian menjadi petani tanaman hias semakin banyak. Warga ini terdiri dari para petani yang sebelumnya menggunakan lahan untuk menanam sayuran dan padi. Nilai ekonomi tanaman hias yang dinilai lebih tinggi membuat para petani sayur dan padi ini beralih menjadi petani tanaman hias.

Perkembangan pesat pertanian tanaman hias di Cihideung di akhir tahun 80-an dan 90-an tak lepas dari faktor pembangunan jalan permanen (aspal) yang menghubungkan kawasan Cihideung dengan kota Bandung. Jalan ini dibangun pada tahun 80-an. Kini jalan itu dikenal dengan Jalan Terusan Sersan Bajuri. Pembangunan jalan ini telah meningkatkan kunjungan masyarakat dari daerah lain ke Cihideung dan pada gilirannya meningkatkan nilai transaksi jual beli tanaman hias di Cihideung.

Masalah Lahan

Di balik kegiatan pertanian dan jual beli tanaman hias di Cihideung, ada masalah penting yang tidak tampak di permukaan. Yakni masalah lahan. Banyak lahan yang diolah oleh para petani Cihideung merupakan milik orang dari luar Cihideung. Di RW 10, misalnya, sekitar 70 persen tanah yang digunakan oleh para petani merupakan tanah sewaan. Para petani tanaman hias ini mengolah lahan dengan menyewanya dari para pemilik lahan yang berasal dari Bandung, Jakarta, dan daerah lainnya.

Pembelian tanah mulai marak sejak akhir tahun 80-an dan 90-an. Tawaran harga yang cukup tinggi (untuk ukuran waktu itu) membuat satu persatu warga melepas lahan yang mereka miliki. Beberapa diantaranya menjual hanya sebagian lahan dari seluruh lahan yang mereka miliki, namun tak sedikit juga yang menjual sebagian besar lahan miliknya dan menyisakan sedikit lahan saja di pekarangan rumah.

Di atas tanah yang bukan lagi milik warga Cihideung itu kini telah berdiri perumahan, villa, atau tempat usaha. Banyak pula yang setelah dibeli, tanah itu dibiarkan begitu saja, tidak diurus. Tanah-tanah tak terurus inilah yang disewa oleh oleh petani Cihideung untuk dijadikan tempat menanam aneka tanaman hias.

Harga sewa tanah itu bervariasi. Jika lahan yang disewanya berada jauh dari jalan utama (Jalan Terusan Sersan Bajuri), harganya berkisar antara Rp.1750 m2/tahun sampai dengan Rp.2500/m2/tahun. Adapun harga sewa tanah di pinggir jalan berkisar antara Rp.5000/m2/tahun sampai dengan Rp.7000/m2/tahun. Harga sewa di pinggir jalan lebih mahal karena selain bisa dijadikan tempat menanam, tanah itu bisa juga dimanfaatkan untuk membuka kios tanaman hias, sehingga nilai ekonominya lebih tinggi.

Pertanian tanaman hias di Cihideung dengan sistem sewa tanah dari orang luar merupakan masalah serius yang membayangi masa depan pertanian tanaman hias di sana. Cepat atau lambat para pemilik lahan itu akan menggunakan lahannya untuk dibangun rumah, villa, tempat usaha, atau mungkin dijual ke orang lain yang belum tentu mau menyewakan tanahnya kepada petani di Cihideung. Petani di Cihideung sangat sulit untuk bisa membeli tanah-tanah yang mereka sewa itu karena harga tanah-tanah itu kini jauh lebih mahal dari waktu dulu mereka menjualnya.

Masalah ini bukannya tidak diketahui pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat (Departemen Pertanian) sudah mengetahui kondisi ini. Beragam solusi pun sempat muncul, misalnya dengan mencari lahan alternatif dimana petani tanaman hias Cihideung bisa membudidayakan tanaman hiasnya. Namun, hingga beberapa bulan ke belakang, belum ada kejelasan tentang tindak lanjut penyelesaian masalah ini.

Cerita dari Jalan Raya (1): Kliping Stiker-1

Saya ingin sekali memfoto stiker-stiker itu. Stiker-stiker yang isinya unik. Stiker-stiker yang punya cerita. Caranya: satu tangan saya memegang stang motor, dan satu tangan lagi harus megang kamera; membidik objek (stiker di motor lain yang juga sedang berjalan). Tapi itu bahaya. Bahaya bagi saya, juga bahaya bagi pengendara lain. Maka setiap melihat stiker menarik di motor-motor yang melaju di depan saya, saya berusaha mengingatnya, lalu mencatatnya ketika sampai di tempat kerja atau di rumah.

Berikut adalah isi dari stiker yang saya kumpulkan beberapa hari ini.

-Maafkan Daku Mendahuluimu

-Ya Tuhan, Selamatkanlah aku Yang Pergi. Lindungilah (mereka) yang Kutinggalkan

-Beli Es Cendol ke Depok. Lu Nyenggol Gua Tabok

Lomba Menulis Agustus-September 2010

Berikut adalah empat lomba menulis skala nasional yang digelar Seputar Agustus dan September 2010. Bentuk tulisannya ada yang artikel ada pula esai. Pesertanya ada yang pelajar, mahasiswa, wartawan, juga umum. Untuk info lebih banyak soal lomba-lomba tersebut, silakan klik link yang telah disertakan di setiap info lomba.

1.Lomba Penulisan Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia Tahun 2010 (LPAKI 2010). Digelar oleh Perpustakaan Nasional RI. Ini lomba sudah dimulai sejak Juni silam. Info lengkapnya ada di sini.

2.Lomba Penulisan Artikel Pertanian dengan tema Pertanian Industrial Unggul Berkelanjutan yang Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Meningkatkan Kemandirian Pangan, Nilai Tambah, Daya Saing, Ekspor dan Kesejahteraan Petani. Digelar oleh Departemen Pertanian. Info lengkap di sini.

3.Kompetisi Esai Mahasiswa “MENJADI INDONESIA”. Tema, Nasionalisme Ala Gue. Info lengkapnya di sini.

4.Lomba Karya Tulis bertema Peran dan Fungsi LPS dalam Menjamin Simpanan Nasabah Perbankan. Digelar oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Info lengkap di sini.

Cerita Dari Jalan Raya (Pembuka)

JALAN RAYA KAYA AKAN CERITA. Bukan hanya tentang macet dan tabrakkan; di sana ada pula cerita pertengkaran dan gebuk-gebukkan. Pungutan liar. Pungutan ‘resmi’. Polusi. Polisi. Galian kabel. Klakson-mengklakson. Pengemis. Geng Motor. Dan banyak lagi.

Sekira dua jam dalam sehari dan lima hari dalam seminggu saya pulang pergi bekerja dengan bermotor. Saya tinggal di pinggiran Bandung Selatan dan bekerja di daerah Dago di Bandung Utara. Perjalanan saya setiap hari adalah perjalanan membelah kota Bandung. Dari jalan Soekarno Hatta, Kiara Condong, Jalan Jakarta, Supratman, Diponegoro, muter ke Dipati Ukur, lalu Dago.

Sepanjang perjalanan pergi-pulang itu banyak hal menarik saya saksikan. Lebih dari sekali saya melihat dua pengendara motor bertengkar gara-gara salah satu pengendara menyenggol pengendara lainnya. Pernah pula saya menyaksikan tabrakan beruntun. Sebuah Toyota Avanza yang dikendarai seorang perempuan belia sepertinya direm mendadak. Akibatnya, sekitar empat sepeda motor di belakang mobil itu bertumbukkan. Salah seorang pengendara motor itu  menghampiri pengendara mobil yang sudah keluar dari mobilnya. Mereka beradu mulut di trotoar.

Yang saya sebut menarik dari jalan raya  bukan hanya kejadian-kejadian berupa kecelakaan atau konflik antar pengendara. Kondisi fisik jalan  menarik. Spanduk-spanduk yang bergelayutan di pinggir jalan  menarik. Stiker-stiker yang menempel di mobil dan motor pun menarik. Mereka punya ceritanya masing-masing.

Stiker-stiker yang menempel di bagian belakang sebagian sepeda motor  menempati posisi khusus di antara cerita-cerita lain dari jalan raya. Saya kerap memerhatikan stiker-stiker itu dan kadang dibikin geli karenanya . Stiker-stiker itu seakan menyuarakan pikiran dan emosi para pengendara.

Di antara stiker itu ada yang berisi perdebatan antara pengendara motor matic dan pengendara motor  bergigi. Salah satu stiker yang menempel di sebuah motor matic berbunyi “Hari gini masih over gigi, cape deh”.  Stiker lain yang menempel di sebuah motor bergigi melawan “Hari gini pake matic, sekalian aja pake lipstick”.

Karena begitu banyak cerita yang bisa diungkit dari jalan raya, saya berniat membuat tulisan berseri seputar jalan raya. Tulisan ini adalah tulisan pembuka.

Saya sadar betul bahwa pengalaman saya di jalan raya adalah pengalaman yang jamak dialami pengendara lainnya. Karenanya, kalaupun saya ceritakan, bukanlah cerita unik dan menarik untuk dibaca orang lain. Tak apa. Saya punya motif pribadi menuliskan pengalaman itu di sini. Ini, sebut saja, semacam rekaman perjalanan saya selama berkendara di kota Bandung. Sangat mungkin seri tulisan ini melebar melebihi batas pengalaman pribadi. Misalnya, pengalaman orang lain atau nukilan dari buku. Yang pasti, semuanya takkan kabur jauh dari jalan raya.