Sedikit tulisan tentang sedikit hal

Rendra

Februari 7, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

kesadaran adalah matahari

kesabaran adalah bumi

keberanian menjadi cakrawala

dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata


Saya pertama kali membaca puisi itu sekitar lima tahun lalu. Bukan dari buku puisi, tapi dari sebuah dinding triplek. Triplek yang menjadi dinding sebuah kamar kecil. Letaknya di kolong tribun stadion Siliwangi, Bandung. Saya tak tahu siapa perakit puisi itu. Tapi saya yakin yang mencoretkan puisi itu di triplek adalah si pemilik kamar.

Saat membacanya, saya merasakan puisi itu sederhana, mudah dimengerti, dan begitu bertenaga.

Kamar tempat puisi itu tercoret adalah kamar salah seorang  ball boy tenis. Yang tak bukan adalah saudara saya. Selain kamar itu, ada beberapa kamar lagi yang diisi selusinan ball boy lain. Semua kamar itu bentuknya tak beda dengan kamar saudara saya. Berdinding triplek, beralas tembok, tikar, dengan kasur yang sudah kehilangan endutannya.

Kini si pemilik kamar itu telah membuka usaha sendiri. Sebuah konveksi mini. Omsetnya lumayan. Sementara teman-teman ball boy-nya yang lain, setiap hari, masih berlari kesana kemari mengejar-ngejar bola tenis di lapangan tenis indor Siliwangi.

Saudara saya itu memulai bisnisnya dari nol. Dari mulai menyisihkan sedikit dari honornya untuk membeli mesin jahit. Lalu ia mulai menjahit satu-dua pakaian olah raga di sela-sela waktunya bekerja di lapangan.

Pakaian olah raga buatannya mulai dikenali para petenis yang biasa maen di lapang tempat saudara saya bekerja. Mereka tertarik. Mereka membeli dan mengabarkan kepada rekan-rekan yang lain bahwa produk saudara saya itu bagus dan murah.

Begitulah, ringkasnya, kian hari usaha saudara saya makin berkembang.

Saya tak pernah tanya, apakah jalan hidup saudara saya itu dipengaruhi oleh puisi yang belakangan saya kenali sebagai puisi WS Rendra. Tapi perjalanan hidupnya, buat saya, identik dengan puisi Rendra yang ia coretkan dengan spidol hitam di dinding triplek kamarnya.

Pertemuan dengan Si Burung Merak

Saya bersyukur, setahun sebelum kepergiannya, saya sempat menyaksikan langsung Si Burung Merak membacakan puisi. Saya menyaksikan aksinya itu dalam acara 80 tahun Prof. S.M.P. Tjondronegoro. Di Bogor. Kesan saya atas Rendra waktu itu hanya satu : keren banget.

Ketika acara ulang tahun pak Tjondro itu memasuki waktu istirahat, saya jalan-jalan keliling gedung tempat acara berlangsung. Sekedar cari angin seusai santap siang. Saat jalan-jalan itulah, saya melihat Rendra sedang duduk di koridor gedung. Nampaknya Ia sedang menunggu jemputan.

Ingin sekali menegurnya, tapi keberanian saya tak cukup. Akhirnya saya ajak teman untuk mendekati Rendra. “kita minta foto bareng..” ajak saya.

Kami hampiri Rendra. Teman saya yang pertama kali menyapa penyair berambut gondrong itu. Rendra menyambut dengan ramah. Teman saya salaman dengan sang penyair, saya pun menyusul salaman. Jabatan tangannya begitu kuat. Beberapa menit, kami sempat ngbrol-ngobrol dengan sang penyair itu.

Mengakhiri obrolan, kami meminta kesedian Rendra untuk berfoto bersama. Dan beliau pun bersedia. Kami senang.. Cekrak-cekrak. Dua-tiga kali kami berfoto.

Sayang sekali foto itu kini hilang. Kalau ada, pasti foto itu yang saya pajang di tulisan ini.

Rendra telah pergi, tapi karya-karyanya selalu di sini. Menggedor kejumudan. Memberi spirit. Mengajak orang untuk, meminjam kata-kata Romi SW, Tetap Dalam Perdjoeangan!

Gambar WS Rendra diambil dari http://vibizdaily.com/detail/sosbud/2009/08/07/jenazah_ws_rendra_tiba_di_bengkel_teater

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Profesi yang Memperkaya Diri

Februari 2, 2010 · 1 Komentar

Hanya demi uang?Pengacara adalah profesi yang menjanjikan uang banyak. Tapi saya yang polos ini tidak menyangka bahwa uang yang mereka hasilkan sebegitu banyaknya. Selain ditumpuk, sebagian uang itu cukup untuk membeli belasan mobil mewah,  puluhan rumah, atau untuk membeli ratusan hektar tanah.

Hotman Paris Hutapea adalah contohnya. Pengacara satu ini mengoleksi belasan mobil sekelas Ferari dan 60-an rumah. Semua didapat dari aktivitas kesehariannya sebagai pengacara.

Kompas hari minggu, 31 Januari 2010, bercerita tentang gemerlap harta para jago hukum di Indonesia.

Selain Hotman, pada lembar yang sama, dibahas juga kekayaan Elza Syarief, dan O.C. Kaligis yang diraih dari hasil kerjanya sebagai pengacara.

Beda dengan Hotman yang gemar mengoleksi rumah dan mobil mewah, Elza lebih senang menukar uang hasil keringatnya dengan ratusan hektar tanah yang tersebar di beberapa daerah. Di balik hobinya itu Ia punya cita-cita mulia. Ia berharap dengan tanah-tanahnya itu kelak bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Kaligis lain lagi. Pengacara senior ini berkata “Ada masa di mana saya punya mobil balap, punya lima mercedes. Rasanya semua mobil hebat di masa itu saya punya. Tapi belakangan saya berpikir, untuk apa ya semua itu?..”. Sebagai pengacara senior, OC kini mengedepankan sifat altruistik daripada (atau disamping) prinsip materialistik. Pembelaan cuma-cuma yang Ia berilan pada Prita adalah salah satunya buktinya.

Selain pengacara, dokter adalah profesi lain yang telah lama tersohor asik dari segi penghasilan. Apalagi dokter spesialis. Tahulah kita, berapa uang yang harus dikeluarkan oleh pasien yang cuap-cuap beberapa menit dengan seorang dokter spesialis kulit dan kelamin, misalnya.

Di http://cengkunek.blogdetik.com/2009/03/01/10-profesi-berpenghasilan-terbesar , disebutkan bahwa dari sepuluh jenis profesi yang berpenghasilan terbesar, delapan di antaranya adalah aneka dokter spesialis. Dari Gigi hingga kandungan. Rata-rata penghasilan mareka di atas satu milyar setiap tahunnya.

Pantas saja Doel Soembang pernah berseloroh dalam salah satu lagunya : Can aya caritana, dokter hirup sangsara (belum ada ceritanya, dokter hidup sengsara). Wajar saja setiap tahun ribuan lulusan SMA berduyun-duyun memburu kursi di jurusan kedokteran di berbagai perguruan tinggi. Karena profesi dokter memang menjanjikan materi dan gengsi yang tinggi. Bahkan jika setiap kursi di jurusan kedokteran dihargai ratusan juta rupiah, mereka (orang tuanya) akan menebusnya.

Mari lihat data lain. Menurut survei yang dilakukan oleh Pusat Data dan Analisis Tempo 2008, bekerja di sektor pertambangan, teknologi informatika, akutan, dan pengacara menjadi idaman banyak sarjana baru. Di samping faktor ini itu, besaran penghasilan yang dijanjikan berbagai profesi tersebut tentu menjadi faktor yang sangat menentukan banyaknya anak muda yang mendambakan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Di bidang keuangan, Riko Asri (29) bisa jadi contoh. Ia adalah manajer kuangan PT Unilever untuk kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Turki. Gajinya Rp 20 juta sebulan. Bandingkan dengan gaji Pustakawan yang telah bekerja puluhan tahun. Hehehe.

Tapi di atas profesi-profesi itu, menjadi pengusaha tentu lebih heboh lagi penghasilannya. Jangan dulu bicara pengusaha-pengusaha kelas paus macam Arifin Panigoro atau Ciputra. Sebut saja Elang Gumilang. Umurnya baru 24. Dengan status yang mahasiswa Ia telah menjadi direktur sebuah pengembang perumahan. Nilai proyek yang ada ditangannya sudah menembus 17 milyar.

Atau Agung Nugroho Susanto, 25 tahun, yang dari bisnis mencuci kiloan telah membeli dan meninggali rumah seharga 1,5 milyar, mengoleksi dua BMW keluaran terbaru, sebuah kijang Inova, dan tiga sepedah motor.

Betapapun indahnya, semua cerita di atas bukanlah cerita abra kadabra. Semuanya adalah cerita tentang kekerasan upaya. Tentang kekukuhan tekad.

Dalam meniti usahanya, Agung Nugroho pernah gagal. Tapi kegagalannya hanya dianggap angin lalu. Ia terus melaju. Demikian juga dengan pribadi-pribadi berpenghasilan tinggi lainnya. Sepertinya mustahil di antara mereka ada yang gampang nurut pada kemalasan.

Disamping faktor tekad dan kerja keras, tak dinafikkan juga, sedikit-banyak faktor modal pun berperan. Jika profesi-profesi di atas bisa diraih dengan sekolah hingga tinggi, maka sekolah hingga tinggi amat sulit diraih tanpa biaya.

Diolah dari berbagai sumber. Sedangkan gambar diambil dari http://www.coinexinc.com/images/welcome.jpg

→ 1 CommentKategori: Uncategorized

Belajar Cara Belajar Dari Kang Jalal

Januari 28, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya kagum pada Kang Jalal, paling tidak, karena dua hal. Pertama, Ia seorang multi-pakar. Kedua, dalam menyampaikan suatu materi atau gagasan, Ia menulis dan berbicara dengan cara yang yang mudah dimengerti. Ia seorang yang komunikatif.

Kang Jalal atau Dr. Jalaluddin Rakhmat atau KH Dr Jalaluddin Rakhmat adalah seorang pakar komunikasi, psikologi, filsafat, otak (neurologi), sufistik, dan sejarah Islam. Ia adalah seorang dosen yang kiai. Juga kiai yang dosen. Dan penulis, pasti.

Mungkin ada bidang kepakaran lain yang tak tertulis oleh saya. Untuk jelasnya, silahkan baca buku-buku buah karyanya. Lebih dari empat puluh buku yang dirakit Kang Jalal menggambarkan betapa jangkauan kepakarannya begitu luas.

Di antara buku tersebut adalah Psikologi Komunikasi (1985), Islam Alternatif (1986), Islam Aktual (1991), Retorika Moderen (1992), Reformasi Sufistik (1998), Tafsir Sufi Al-Fâtihah (1999), Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi? (1999), Rindu Rasul (2001), Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih (2002), Psikologi Agama (2003) Meraih Kebahagiaan (2004), Belajar Cerdas Berbasiskan Otak (2005), Memaknai Kematian (2006).

Sebagian kecil dari buku-bukunya pernah saya baca. Isinya oke. Cara nulisnya asik. Bukunya, Psikologi Komunikasi, adalah satu-satunya buku teks kuliah yang enak dibaca selama saya kuliah. Buku lainnya, Belajar Cerdas, adalah buku yang ilmiah, kaya, sekaligus praktis.

Cara dia menyampaikan pesan lisan pun begitu menawan. Baik dalam kuliah di kampus, kuliah rutinnya di Al Munawwarah, maupun dalam berbagai seminar dan acara publik lainnya. Salah satu kelebihannya, Ia bisa menyampaikan suatu teori dengan campuran cerita dan canda. Sehingga pendengarnya bisa memahami suatu materi yang berat seraya tertawa.

Gaya bicaranya di depan publik begitu khas dan orisinil. Saya suka gayanya.

Sederet keunggulan yang dimiliki Kang Jalal membuat saya geregetan. Apa sih rahasia di balik kehebatan dia. Di balik kemultipakarannya. Di balik kelihaiannya dalam berkomunikasi via lisan dan tulisan. Maka pada satu kesempatan, saya sampaikan juga kepenesaranan ini padanya.

“Bagaimana cara anda belajar sehingga bisa menjadi seorang yang multipakar?” demikian kurang lebih pertanyaan yang sampaikan padanya.

Inilah jawaban beliau.

Pertama, selalu pelajari hal baru. Kalau perlu, setiap tahun pelajarilah secara fokus satu subjek ilmu. Inilah rahasia mengapa area kajian dari buku-buku yang ditulis kang Jalal begitu luas. Beberapa diantaranya merupakan persandingan dua tema. Misalnya, buku Psikologi Agama yang mendekati persoalan agama dengan ilmu psikologi.

Rata-rata, setiap tahun Kang Jalal menulis satu buku. Bahkan lebih. Setiap buku yang Ia tulis merupakan hasil studinya dalam jangka waktu tertentu. Meskipun banyak buku-buku yang ditulisnya berbeda bidang kajian satu sama lain, satu tema buku yang secara konsisten ditulis Kang Jalal adalah Buku tentang Rasulullah saww.

Kedua, luaskan pergaulan. Bergaulah dengan sebanyak mungkin orang dari berbagai kalangan. Dari berbagai keahlian. Dan jangan sungkan belajar dari mereka.

Kunci kedua merupakan sambungan dari yang pertama. Kita dapat mempelajari hal-hal baru, di antaranya, dari lingkungan pergaulan kita. Jangan harap ilmu kita berkembang, jika teman kita itu-itu saja. Perluaslah jaringan. Jalin silaturahmi dengan sebanyak mungkin orang. Dan raihlah manfaatnya.

Jawaban dari beliau memang ringkas. Saya cukup puas. Meskipun Ia tidak bilang, tapi saya bisa mengetahui rahasia lain dibalik kecanggihan beliau. Sebut saja yang ketiga, yaitu tuliskan apa yang kita pelajari. Ya, Kang Jalal belajar sesuatu lalu menjasadkannya dalam buku. Ia mengikat makna yang Ia serap dari proses studinya ke dalam tulisan. Ke dalam buku-buku.

Kalau boleh, saya tambah lagi yang keempat. Yakni, rajinlah membaca. Ini mah harus. Kang Jalal memang tidak bilang tentang soal ini, tapi perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa Ia tak pernah lepas dari membaca.

Kala remaja, Kang Jalal sering menghabiskan waktunya di perpustakaan negeri, peningggalan Belanda. Ia tenggelam dalam buku-buku filsafat, yang memaksanya belajar bahasa Belanda. Di situ ia berkenalan dengan para filosof, dan terutama sekali sangat terpengaruh oleh Spinoza dan Nietzsche.

Ketika menjalani masa belajar di Iowa State University pun Ia lebih banyak memperoleh pengetahuan dari perpustakaan universitasnya. Berkat kecerdasan dan keuletannya  Ia lulus dengan predikat magna cum laude dari kampusnya. Jadi, baca-baca dan terus baca.

Hatur nuhun, Kang Jalal.

Gambar diambil dari facebook Jalaluddin Rakhmat

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Tetangga Meninggal

Januari 25, 2010 · 1 Komentar

Ketika saya dan dua orang lain  mengangkatnya, jenazah itu terasa begitu ringan. Kesan serupa dikatakan pula oleh dua pengangkat jenazah lain. “Hampang..” kata seorang. “hampang pisan” kata yang lain. Bobotnya kira-kira tak lebih dari 30 Kg. Amat ringan untuk ukuran lelaki dewasa berusia 37 tahun.

Kami bertiga mengangkat jenazah itu dari pemandian menuju ruang tengah. Sampai di ruang tengah, jenazah diletakkan di atas kain kafan yang telah dilapisi kapas di atasnya. Setelah posisi jenazah pas, kafan pun dipasangkan. Seorang lelaki umur 50 tahunan menyiprat-nyipratkan minyak wangi di atas jenazah yang telah terbungkus kafan itu. Ditaburkannya pula kapur barus yang telah dihaluskan. Aroma khas menyeruak memenuhi ruangan. Aroma kepergian seseorang. Aroma kepiluan keluarga yang ditinggalkan.

Waktu menunjukkan pukul 03.45. Suara-suara yang mengajak umat Islam bangun dari tidur mulai terdengar dari beberapa masjid.

Jenazah yang baru selesai dimandikan itu adalah Jenazah Mas Rana. Ia meninggal pukul 01.30 dini hari tadi. Ia pergi setelah menderita  sakit selama hampir dua tahun. Ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan berumur enam tahun.

Mas Rana adalah tetangga saya. Ia bersama istri dan anaknya tinggal bersama  di rumah mertua yang letaknya  berdekatan dengan tempat tinggal saya.

Saat terakhir kali menjenguknya, dua minggu lalu, saya melihat tubuh Mas Rana amat kurus. Setengah badannya yang tertutup selimut hampir rata dengan tempat tidur. Kedua tangan yang melipat di atas tubuhnya tinggal tulang belaka. Ketika istrinya menyibakan pakaian Mas Rana, yang nampak di dadanya hanya belulang yang berderet menurun ke arah perut yang cekung.

Dia adalah orang terkurus yang pernah saya lihat.

Bulan-bulan terakhir Mas Rana dihabiskan di tempat tidur. Segala hajatnya dilakukan di sana. Ia terlalu lemas bahkan sekedar untuk duduk menyandar pada tumpukkan bantal.

Penyakit yang mendera Mas Rana adalah penyakit  aneh. Begitu pikir keluarga. Demikian juga pikir saya. Aneh karena penyakit yang dideritanya tak jelas apa sebabnya. Setiap dokter yang didatangi kebingungan. Semua hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa tak ada penyakit di tubuh Mas Rana.

“Kata dokter, tekanan darah, jantung, ginjal, dan bagian dalam tubuh lainnya normal” Istri Mas Rana bercerita pada saya satu hari jelang kepergian suaminya.

Sementara semua dokter yang didatangi kebingungan, tubuh Mas Rana kian menyusut. Tenaga dan konsentrasinya terus berkurang.

Mulanya Ia hanya menderita sakit di kepala. Sakit yang awalnya dikira sakit kepala biasa. Tapi sakit itu mulai menghawatirkan karena sering membuat Ia tiba-tiba terjatuh. Sakit di kepala kemudian menemukan pola. Dari ba’da maghrib hingga tengah malam, sakit itu menghebat. Bukan hanya kepala, perutnya pun ikut sakit. Ia meraung. Makanan yang telah ditelan keluar lagi. Ia meraung. Badannya meregang menahan sakit. Ia meraung. Semua anggota keluarga di sekitarnya sedih dan khawatir sangat.

Jelang pagi hingga siang hari, barulah sakitnya mereda. Di waktu duha, saya sering melihatnya duduk berjemur di teras rumah.

Sakit di kepala Mas Rana berlanjut ke kaki. Kakinya lumpuh. Dayanya kian meniada. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Bermacam obat, serta sedikit makanan dan minuman yang setengah dipaksa masuk ke perutnya tak memberi dampak apa-apa. Badannya kian mengempes. Otot-otot di wajah, tangan, kaki, dan sekujur badan, terus berkurang.

Istri dan seluruh keluarganya sudah tak tega melihat penderitaan Mas Rana. Upaya untuk menyembuhkannya sudah maksimal. Mereka tinggal menyerahkan segalanya pada Allah swt. Bagaimanapun harapan mereka masih ada. Selalu ada. Dan Allah mahakuasa. Setiap ba’da magrib, istri, dan anggota keluarganya membacakan Al Quran untuk Mas Rana.

Apa hendak di kata. Manusia ada harap dan upaya. Dan Allah saja yang mahamenentukan. Dini hari tadi adalah akhirnya. Mas Rana pergi. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga amal ibadahnya diterima Allah swt. Semoga setumpuk penderitaan dan berlapis kesabarannya diganjar dengan balasan yang mewah. Dan semoga segala salah-dosanya diampuni.

Anggota keluarga dan para tetangga mengenal Mas Rana sebagai seseorang yang sederhana. Tak banyak bicara. Tak pernah bikin masalah. Cinta dan kesetiannya pada keluarga tak diragukan. Istrinya bercerita panjang lebar pada saya tentang bagaimana tingkah-laku suaminya selama hidup bersamanya. 10 tahun sudah Ia dan Mas Rana menjalin cinta. Selama itu pula tak pernah ada kecewa yang dibikin suaminya.

Jam sembilan pagi jenazahnya dikuburkan. Bersama keluarga Mas Rana dan puluhan tetangga, saya ikut mengantarnya ke pemakaman. Sepulang dari pemakaman saya langsung ke tempat kerja. Dua jam kemudian, di jam istirahat, saya pergi ke bengkel untuk mengganti kunci motor yang kemarin hilang entah ke mana.

Kemarin sore saya mengobrak-ngabrik isi rumah mencari di mana itu si kunci. Tapi tak juga ditemui. Kemarin sore saya amat kesal.

Tapi hari ini saya sadar apalah arti kunci motor itu dibanding  sehat yang selalu menempel di raga saya. Dibanding kehidupan ini. Di banding kesempatan ini. Saya jadi malu.

Gambar diambil dari  cintahakiki.wordpress.com

→ 1 CommentKategori: Cuplikan

Lomba Menulis Tentang Kecerdasan

Januari 22, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hadiahnya Rp 15 juta untuk juara I. Rp 10 juta untuk juara II. Rp 5 juta untuk juara III. Bentuk tulisan yang dilombakan adalah paper/makalah.

Lomba menulis ini diselenggarakan oleh Ary Suta Center. Temanya ada tiga, semuanya tentang kecerdasan.

1. Peran Kecerdasan dalam Membangun Daya Saing Global

2. Peran Kecerdasan dalam Meningkatkan Kinerja Kepemimpinan

3. Peran Intelegensia dalam Menciptakan Sistem Pendidikan yang Kompetitif

Lomba ini terbuka bagi semua kalangan, bisa sendiri atau berkelompok (maksimal 3 orang/kelompok). Naskah bisa ditulis dalam bahas inggris maupun Indonesia. Maksimal 30 halaman.

Batas penyerahan makalah tanggal 19 Maret 2010.

Lebih lengkapnya silahkan lihat di

http://www.arysutacenter.com/index_files/Page1127.htm

Oke. Selamat berlomba!

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Negara-Negara dalam The World Is Flat

Januari 22, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berikut adalah negara-negara yang sering disebut dalam buku Thomas L Friedman, The World Is Flat.

China (151 kali)

India (116 kali)

Jepang (62 kali)

Arab (48 kali)

Afrika (25 kali)

Meksiko (24 kali)

Jerman (21 kali)

Malaysia (17 kali)

Iran (16 kali)

Irak (15 kali)

Indonesia (9 kali)

Apa makna dibalik angka-angka itu?

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Pelarangan Buku Sedjak Doeloe

Januari 21, 2010 · 1 Komentar

Dari 1968 sampai sekarang, terdapat sekitar 200 buku yang dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung RI. Alat pelarangnya sama, yaitu UU No. 4 tahun 1963.

Pada UU tersebut Kejaksaan Agung memiliki kewenangan untuk melarang beredarnya barang-barang cetakan yang dianggap dapat mengganggu ketertiban umum.

Berikut adalah daftar buku-buku yang pernah dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung RI tersebut. Rentangnya dari 1968-1998.

http://issuu.com/lawanpelaranganbuku/docs/daftar_pelarangan_buku_1968-1992?mode=a_p

Adapun beberapa buku yang dilarang selama beberapa tahun terakhir, bisa dilihat di http://indonesiabuku.com/?p=3228

→ 1 CommentKategori: Baca Buku

Bukan 3,5 Abad

Januari 20, 2010 · 1 Komentar

Banyak orang Indonesia kadong percaya bahwa negri tempat mereka  tinggal pernah dijajah oleh Belanda selama 3,5 abad. Kemungkinan besar, kepercayaan ini tegak karena sedari SD sebagian besar kita selalu diajarkan oleh guru sejarah bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Belanda.

Faktanya, kepercayaan itu hanya mitos. Sejarawan senior Taufik Abdullah berkata bahwa justru  Belanda memerlukan lebih dari tiga ratus tahun untuk menaklukan beberapa daerah di Hindia Belanda.

Salah satu kecacatan dari pandangan bahwa Nusantara pernah hidup dalam kolonialisme selama 350 tahun adalah dari awal penghitungan waktu menuju 350 tahun itu. Seperti umum diketahui, hitungan 350 tahun itu dihitung sejak kedatangan Belanda dibawah pimpinan Cornelius de Houtman di pelabuhan Banten pada tahun 1652 hingga 1942 ketika Belanda diserbu Jepang.

Secara logika, awal penghitungan ini  tidak masuk akal. Apakah ketika segerombolan orang Belanda berlabuh di pelabuhan Nusantara, serta merta bangsa ini dijajah oleh Belanda?

Selain Taufik Abdullah, Gertrudes Johan Resink pun  membantah teori 350 tahun kolonialisme di Indonesia. Berdasarkan studi hukum internasional, Resink membuktikan bahwa sebenarnya Belanda tidak menjajah negri ini selama 350 tahun. Tahun 1854 Mentri Urusan Koloni mengatakan kepada Parlemen Belanda bahwa di Kepulawuan Indonesia masih ada negeri-negri merdeka.

Resink sendiri, di antaranya, mengacu pada kepada beberapa kasus pengadilan, di mana hakim dan Mahkamah Agung Hindia Belanda berkesimpulan bahwa mereka tidak mempunyai wewenang mengadili perkara karena yang bersangkutan bukan dianggap penduduk Hindia Belanda melainan merupakan rakyat kerajaan atau negri pribumi yang masih merdeka. Contoh kasus seperti ini adalah dalam perkara seorang Kutai yang dibawa ke pengadilan Surabaya tahun 1904 yang ditolak oleh Mahkamah Agung.

Diperas dari beberapa sumber.

→ 1 CommentKategori: Indonesia

Pilih TV atau Koran

Januari 19, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Indonesia adalah negri yang selalu riuh. Banyak kejadian heboh yang selalu menarik perhatian. Dari pentas politik hingga panggung hiburan. Bencana alam, pembunuhan, korupsi, demo demi demo, silih berganti tampil madia massa dari masa ke masa.

Kini, kasus Century sedang mendapat giliran menjadi hot isu di berbagai media massa. Sebelumnya berita di Koran dan TV kelabu oleh berita-berita seputar kepergian Gusdur. Almarhum Gus Dur ‘merajai’ media massa sekitar semingguan. Sebelumnya ada Prita dan cerita koin keadilan. Sebelumnya lagi ada lagi Cicak VS Buaya. Dan seterusnya..

Seperti ada yang mengatur, peristiwa-peristiwa heboh itu muncul bergiliran. Acara-acara berita tidak pernah kehabisan materi untuk diinformasikan kepada pemirsa. Acara dialog dan debat pun selalu ramai dengan isu-isu hangat. Dan yang paling penting, bagi para pemiliknya,  TV-TV mereka tak pernah sepi dari iklan.

Bisnis media massa adalah salah satu bisnis paling menjanjikan sekarang ini. Peristiwa-peristiwa menarik yang merupakan jualan mereka, kini mudah didapat. Berderetnya peristiwa-peristiwa yang menarik perhatian pemirsa membuat para pemilik usaha media kian kaya.

Salah satu soalnya adalah, sering kali, demi mengejar rating dan memancing iklan, para pengelola media ini menyajikan berita secara berlebihan untuk satu isu dan mengenyampingkan mengenyampingkan berita lainnya. Hal demikian sangat kentara dari cara pemberitaan media TV.

Misalnya, ketika gempa Padang melanda, berita tentang gempa Tasik beserta duka para korbannya sirna seketika. Kalaupun muncul, hanya sebagai selingan atau runing teks saja. Akibatnya, masyarakat pun beramai-ramai memberi perhatian dan sumbangan untuk korban gempa Padang dan ‘melupakan’ derita korban gempa Tasik yang tak kalah pilunya. Ini salah satu contoh efeknya saja.

Beda TV beda lagi koran. Sebagai sumber berita, bagi saya, koran lebih utama daripada televisi. Misalnya, di halaman pertamanya. Meskipun di sana headline utamanya tentang kasus Century, tapi di samping kiri masih ada berita tentang cuaca yang tidak stabil. Di samping kanan ada berita tentang perdagangan bebas yang mengancam para petani dan pengusaha lokal. Di pojok kiri bawah ada berita soal Jazz. Di sela-sela itu semua, terselip juga berita tentang olah raga.

Koran ibaratnya toko yang dilengkapi etalase tempat di mana berita-berita di pajang. Pembaca tinggal memilih, mana yang hendak dibaca lebih dulu. Mana yang yang belakangan. Mana yang tak perlu dibaca, dan seterusnya.

Sementara TV, ibaratnya sales yang menghampiri ‘pembeli’ sambil terus mengoceh dan menjejalkan barang dagangannya. Dia terus-terusan presentasi dan hanya memberi ruang amat sempit bagi ‘pembeli’ untuk memilih. Tak jarang, pembeli tak bisa memilih sama sekali.

Saya tidak tahu bagaimana pendapat anda soal ini. Tapi begitulah pendapat saya sebagai seorang pemirsa TV sekaligus pembaca koran.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Buku-Buku ‘Terlarang’

Januari 12, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berikut adalah beberapa buku yang isinya sensitif, terutama bagi penguasa, karenanya amat sulit didapat di pasaran. Beberapa di antara buku itu merupakan hasil penelitian/investigasi atas beberapa kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

Semuanya ada sebelas judul, termasuk buku Gurita Cikeas (Pra-cetak).

Semuanya ada di

http://www.prakarsa-rakyat.org/download/index.php?kat=Buku


→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized