Selamat pagi, diri. Selamat pagi, bumi. Selamat pagi, matahari. Semoga hari ini indah. Biar mendung, tetap indah.
Selamat Pagi
Oktober 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar
→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
WordPress dan lainnya
September 11, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar
Ternyata wordpress masih lebih asik dibanding blog yang lain. Kata saya ini mah.
→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Memenuhi Panggilan Alam Liar
Agustus 20, 2009 · & Komentar
Oleh ACEP MUSLIM
Sesosok mayat dit
emukan di kawasan taman nasional Denali, Alaska. Lokasinya yang terisolir dari peradaban, membuat mayat itu baru ditemukan setelah dua minggu nyawa pergi dari raganya. Berat mayat itu hanya 30 kg. Penyebab kematiannya masih diperdebatkan, antara kelaparan atau keracunan.
Penemuan mayat pemuda itu segera tersebar melalui media massa. Orang-orang geger. Lokasi dan penyebab kematian yang tidak lazim mengundang banyak tanya dan respon dari masyarakat. Lalu, siapakah lelaki malang itu? Hasil identifikasi polisi menunjukkan bahwa pemuda itu adalah Christopher Johnson McCandless. Seorang lelaki berumur 24 yang lebih dari dua tahun lalu pergi dari rumahnya.
Tertarik atas peristiwa ini, penulis Jon Krakauer melakukan penelusuran tentang asal usul mayat McCandles. Ia meneliti secara rinci hidup McCandles dari mulai keluarga, pendidikan, hingga petualangannya selama dua tahun menuju alam liar Alaska. Hasil penelusurannya itu disajikan dalam buku Into The Wild. Buku biografi bergaya novel yang apik dan detil ini terbit pada tahun 1996, empat tahun pasca kematian McCandles.
Sebelas tahun setelah buku Krakauer terbit, Sean Penn mengangkat kisah hidup McCandles ke layar lebar. Film besutan Sean Penn ini berhasil mengadaptasi buku Krakauer secara nyaris sempurna. Dalam film itu, sosok Chris McCandles yang diperankan Emile Hirsch begitu hidup. Dilatari oleh lagu-lagu nyentrik Eddie Vedder, menjadikan film Into The Wild begitu kuat dan menyentuh.
Berpetualang sebagai pilihan
McCandles pergi dari rumah menuju alam liar bukan karena putus asa atas kebuntuan hidupnya. McCandles bukanlah pemuda tanpa masa depan. Ia memiliki modal sempurna untuk meraih karier yang ideal. Dari segi bakat, sejak kecil Ia dikenal pintar dan memiliki bakat kuat dalam bisnis. Pada usia delapan tahun Ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri dengan menjual sayuran pada para tetangga. Dan bakat ini semakin kentara ketika Ia dewasa. Aspek akademiknya pun bersinar. Ia melalui setiap jenjang pendidikan dengan prestasi cemerlang. Didukung oleh keluarga yang secara materi berkecukupan, singkat kata, McCandles memiliki jaminan untuk memperoleh masa depan yang gemilang.
Tapi siapa menduga, selepas lulus dari universitas dengan prestasi cum laude, Ia tidak memilih memasuki dunia karier yang menjanjikan. Atau merintis bisnis sesuai bakatnya. Ia bahkan menolak pemberian mobil baru dari orang tuanya. Bukan hanya menolak hadiah dari orang tuanya, McCandles juga menyumbangkan tabungan yang dimiliki ke lembaga amal. Sisa uang lainnya Ia bakar di pinggir mobil yang Ia biarkan terparkir begitu saja di tepi jalan. Kini tekadnya bulat dan ekstrim: berpetualang menuju alam liar Alaska dengan bekal dan pengetahuan seadanya. Tanpa peta, tanpa kompas. Sejak itu pula Ia mengganti namanya sendiri menjadi Alexander si petualang super (Alexander supertramp)
Dua tahun Alex Supertramp melakukan perjalanan. Dari Atlanta menuju Alaska. Melintasi kurang-lebih setengah benua Amerika. Berjalan kaki berkilo-kilo, menumpang di sembarang mobil yang lewat, menjadi penumpang ilegal di kereta barang, berarung jeram melintasi sungai menggunakan kano. Si petualang menginap di mana saja. Di tenda di pinggir jalan, di pinggir pantai, di kawasan peternakan, di gua, atau di kereta. Untuk memenuhi kebutuhan selama melakukan perjalanan si petualang siap bekerja apa saja. Mulai dari karyawan restoran cepat saji hingga pengemudi traktor di ladang. Semua proses itu ia lalui dengan penuh antusias. Dengan senang hati. Karena Ia sadar bahwa inilah pilihan terbaik dalam hidupnya saat itu.
Idealisme dan Pemberontakan
Tidak seperti kebanyakan orang, McCandles adalah orang yang bersikeras hidup menurut keyakinan-keyakinannya.
Pemuda ini sangat memikirkan ketidakadilan dalam kehidupan. Ketika menjadi murid senior di SMA Woodson, McCandles terobsesi dengan masalah pendindasan ras di Afrika Selatan. Dengan sungguh-sungguh dia mengajak teman-temannya untuk menyelundupkan senjata ke negara itu dan bergabung dengan perjuangan untuk mengakhiri apharteid. Tentu saja, kawan-kawannya menolak. Apa yang dikemukakan McCandles adalah gagasan gila bagi kawan-kawannya.
Petualangannya seorang diri menuju alam liar adalah bagian dari idealime hidupnya. Ia memandang bahwa kehidupan di sekitarnya penuh ketidakadilan dan kepalsuan. Dalam salah catatan hariannya Ia menulis bahwa tujuan petualangannya adalah
perjuangan menaklukan iklim untuk membunuh diri yang palsu, yang ada di dalam sana dan mengakhiri revolusi spiritual dengan kemenangan.
Dalam jarak dekat, McCandles menemukan kepalsuan pada diri ayahnya, Walt McCandles. Diam-diam Ia menumpuk kekesalan pada orang tuanya yang Ia nilai munafik dan sok shaleh.
Seperti banyak orang tua lain, Ayah McCandles kerap memberikan nasihat pada anaknya. Nasihat yang mengarahkan anaknya untuk berbuat baik dan meraih masa depan cerah. Si anak tidak suka sikap orang tuanya ini. Ia tidak suka karena mengetahui bahwa dibalik sikap menggurui dan ‘sok suci’ itu tersimpan kisah kilam tentang ayahnya. Diketahui bahwa ibunya adalah selingkuhan ayahnya di masa lalu. Ayahnya memulai rumah tangga baru bersama ibu, chris, adiknya, setelah mengalami friksi yang serius dengan istri pertamanya yang berakhir dengan perceraian.
Dipengaruhi Buku
Jack London, Leo Tolstoy, W. H. Davies, dan Henry David Thoreau adalah beberapa penulis yang dikagumi si petualang super. Buku-buku mereka memenuhi setengah isi tas ranselnya. Sedikit-banyak pandangan dan prinsip hidup si petualang dipengaruhi oleh buku-buku yang ditulis ke empat penulis itu.
Pandangan Alex tentang dunia mapan dan kemurnian dipengaruhi oleh Tolstoy. Kecintaanya terhadap alam dipengaruhi oleh Jack London. Julukan bagi dirinya sendiri, Alexander Supertramp, kemungkinan dipengaruhi oleh W.H. Davies dalam karyanya The Autobiography of a Super-Tramp (1908)
Sepanjang perjalanan Ia membaca buku-bukunya itu. Demikian juga saat berada di alam liar Alaska, Ia selalu membaca buku-bukunya. Kehidupan liar, iklim yang keras, dan membaca buku merupakan cara Alex Supertramp dalam memaknai hidupnya.
Kebahagiaan sebenarnya
Anak orang kaya itu ‘menyusahkan diri sendiri’ dengan hidup sendiri di alam Alaska. Terpisah dari peradaban. Ia tinggal di sebuah bus tua dan rombeng yang ia sebut bus ajaib. Bus itu sebenarnya merupakan bus peninggalan perusahaan pertambangan pada tahun 1930-an. Kendaraan itu dimaksudkan sebagai tempat menginap bagai karyawan pertambangan. Bus itu diderek ke tengah alam liar menggunakan traktor. Jika dilihat dari udara, bus itu memang terlihat aneh. Ia terparkir di tengah alam Alaska dan jauh dari jalan raya. Wajar jika Alex menyebutnya bus ajaib.
Si Petualang Super memakan apa saja yang bisa didapat di alam liar. Binatang buruan adalah menu utamanya: karibu, bajing, unggas, dan lainnya. Masalah sudah pasti Ia hadapi. Cuaca yang ekstrim dan sulitnya mencari makanan merupakan masalah sekaligus konsekuensi dari jalan hidup yang dipilihnya. Susah senang selama menjalani hidup di alam liar itu dituangkan dalam catatan-catatan singkat di jurnal harian.
Setelah dua bulan mengasingkan diri di bus ajaib di belantara Alaska, McCandles sepertinya telah menemukan kepuasan. Ia telah menemukan apa yang Ia cari. Ia memutuskan untuk mengakhiri masa petualangannya dan kembali ke peradaban.
Sehari sebelum memutuskan pulang, McCandles (dalam cacatatan hariannya Ia tidak lagi menamai dirinya Alex Supertramp) telah menyelesaikan membaca buku Family Happiness karya Tolstoy. Ia memberi tanda pada beberapa kalimat yang menyentuh hatinya
Dia benar saat mengatakan bahwa satu-satunya jenis kebahagiaan yang pasti dalam kehidupan adalah hidup untuk orang lain.
Selesai berkemas, McCandles bergegas menuju jalan pulang. Ia berjalan sejauh kurang lebih 10 km menuju sungai Teklanika yang membatasi tempatnya berdiam dengan peradaban. Dan di sinilah petaka itu bermula. Sungai Teklanika yang dua bulan lalu—waktu McCandles tiba di area itu—berupa sungai kecil dengan kedalam sepinggang, sekarang telah menjadi sungai yang lebar dan dalam dengan arus yang sangat kuat. Datangnya musim semi telah mencairkan es di sepanjang sungai itu. Mustahil Chris bisa menyebranginya dengan berenang. Maka Ia pun memilih untuk kembali ke bus ajaib tempatnya tinggal selama dua bulan ini.
Pria itu kembali ke bus ajaib dan mulai menjalani rutinitas hariannya seperti hari-hari sebelumnya. Saat itu tubuhnya sudah sangat kurus. Tulang-tulang rahanya terlihat jelas. Matanya menjorok ke dalam. Dia terus memperkecil ukuran ikat pinggang untuk menyesuaikan dengan ukuran pinggangnya yang semakin mengecil.
Saat binatang buruan makin susah dicari, McCandles mulai merambah ke tumbuhan. Buku tentang tanam-tanaman menjadi panduannya untuk membedakan mana tumbuhan yang bisa dimakan mana yang tidak.

Berakhir Tragis
Beda dengan sebagian pihak yang menyatakan bahwa kematian McCandles disebabkan oleh kelaparan akut, menurut analisa Krakauer, McCandles tewas karena keracunan. Ia keracunan sejenis kentang liar. McCandles kemungkinan salah memilih tumbuhan kentang liar yang memiliki beberapa ragam. Bentuk tumbuhan itu, satu sama lain memang sulit dibedakan. Beberapa kentang liar memang bisa dimakan, namun yang lain diantaranya bisa mematikan.
Dalam filmnya, Sean Penn menggambarkan saat-saat jelang kematian McCandles dengan dramatis. Pada mulanya Chris berteriak, mengerang. Sebelah tangannya menekan perut, sebelah tangan lain merogoh mulut: mencoba mengeluarkan racun yang kadong ditelan. Tapi usahanya sia-sia. Setelah merasakan sakit di sekujur badannya, Chris Johnson McCandles sepertinya sadar bahwa inilah akhir hidupnya.
Menggunakan sisa-sisa tenaga lelaki malang ini meraih lap dan mulai membersihkan badannya. Selesai itu ia kenakan kembali pakaian kemudian berbaring di atas ranjang keras di dalam bus rombeng yang selama empat bulan telah menjadi rumahnya. Dalam pembaringannya wajah McCandles tampah cerah. Tatapan matanya seperti menembus atap bus menuju langit. Senyumnya merekah. Beginilah kisah Chris McCandles berakhir. Ia mati dalam usia muda dengan gelar petualang alam liar.
→ 2 CommentsKategori: Baca Buku
Mencoba
Desember 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar
Setelah sekitar 2 minggu saya tak open wordpress, hari ini baru ngopen lagi. Ketika masuk ke ruang dasbor, saya disambut dengan sesuatu yang baru. Baru. Termasuk QuickPress ini juga baru. Makanya saya langsung mencobanya saja. hehe. Ta coba yak.
→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Perlunya Kebijakan Pendidikan yang Sinergis
Oktober 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar
Oleh ACEP MUSLIM
Dalam sidang paripurna DPR pertengahan Agustus lalu, pemerintah menyampaikan komitmennya untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2009. Komitmen itu layak diberi apresiasi positif oleh kita semua. Setelah serangkaian kritik dari berbagai kalangan datang bertubi-tubi, setelah Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN adalah amanat undang-undang yang tidak boleh diabaikan, akhirnya harapan yang telah lama diimpikan itu akan terwujud juga.
Namun demikian, kebijakan pemerintah yang akan digulirkan tahun depan itu bukanlah solusi simsalabim yang secara praktis dapat menyelesaikan permasalahan dunia pendidikan Indonesia yang sudah menahun. Pendidikan bukan perkara sederhana yang cukup dikelola oleh satu tangan, misalnya pemerintah pusat saja. Masalah pendidikan pun tidak mungkin tuntas dengan hanya satu—dua kebijakan dari mentri pendidikan. Kebijakan di bidang lain seperti ekonomi, sosial, politik pun punya peranan penting untuk terselenggaranya pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat.
Ringkasnya, demi tercapainya tujuan pendidikan seperti yang dicita-citakan itu, diperlukan kebijakan dan program yang bersinergi satu sama lain. Sinergi tersebut mesti diwujudkan baik antar pemerintah pusat dan daerah maupun antara kebijakan di sektor pendidikan dan sektor lainnya pada setiap level pemerintahan.
Antara Pusat dan Daerah
Dana sebesar 20 persen dari APBN 2009 atau sekitar 200 triliun itu sekilas nampak begitu besar. Namun kita mesti ingat, Indonesia adalah sebuah negara luas dengan penduduk yang melimpah. Anggaran sebesar itu tidak akan cukup untuk dijadikan modal bagi terwujudnya layanan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau bagi segenap masyarakat Indonesia. Untuk mencapai derajat optimal dalam pelayanan pendidikan di setiap daerah, alokasi anggaran dari pemerintah pusat itu harus disokong oleh alokasi anggaran dengan prosentase sama atau lebih dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Beberapa pemerintah daerah sebenarnya telah ada yang mendahului pemerintah pusat dalam mengamalkan apa yang diamanatkan undang-undang itu. Mereka menganggarkan dana dalam jumlah signifikan untuk sektor pendidikan sehingga layanan pendidikan di daerahnya mengalami perbaikan. Namun jumlah pemerintah daerah dengan komitmen mulia ini masih bisa dihitung dengan jari. Mayoritas lainnya masih ragu atau tidak mau memberikan perhatian rill terhadap dunia pendidikan di daerahnya.
Adanya komitmen pemerintah pusat untuk mengalokasikan 20 persen anggaran pada APBN 2009 untuk sektor pendidikan secara tidak langsung akan menjadi pendorong bagi para pemimpin di daerah untuk mengeluarkan kebijakan serupa. Dengan dorongan dari pemerintah pusat serta aspirasi yang kuat dari masyarakat setempat diharapkan pengalokasian anggaran minimal 20 persen dari APBD segera terlaksana di setiap daerah.
Sinergi Dengan Kebijakan Lain
Pernyataan pemerintah untuk merealisasikan anggaran sebesar 20 persen dari APBN 2009 pada sektor pendidikan adalah sebuah kabar sensasional. Hampir semua media massa secara serentak menyajikannya sebagai berita utama. Sehingga, dalam waktu sekejap kita pun bisa mengetahui dan mengapresiasi berita itu. Akan tetapi mungkin hanya sedikit dari kita yang tahu atau pernah mendengar bahwa pada tahun 2007 pemerintah telah menerbitkan kebijakan berupa Peraturan Presiden yang di antara isinya justru bertolak belakang dengan rencana kebijakan ’20 persen’ yang lahir baru-baru ini. Peraturan itu adalah Peraturan Presiden Nomor 77 tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.
Dalam peraturan itu disebutkan bahwa sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, dan pendidikan informal dikategorikan sebagai lembaga yang terbuka bagi masuknya modal pribadi, swasta, atau asing dengan batas kepemilikan hingga 49 persen. Meski peraturan ini dikategorikan sebagai peraturan dalam bidang ekonomi, tapi isinya telah merambah ke wilayah pendidikan. Ketentuan mengenai bolehnya institusi pendidikan untuk dimasuki modal asing merupakan sinyal bahwa pendidikan akan dijalankan dengan logika ekonomi. Jika demikian, pendidikan, tak pelak lagi akan menjadi barang yang (semakin) mahal. Bersamaan dengan itu rakyat miskin pun semakin sulit untuk mengakses pendidikan berkualitas yang memungkinkan mereka bisa mengubah nasibnya menjadi lebih baik.
Kasus di atas tentu saja merupakan sebuah ironi. Sebuah ironi dan penegasan bahwa perkara pendidikan tidak bisa selesai dengan satu tangan atau satu kebijakan yang lahir secara sepihak. Ada banyak tangan dengan beragam kebijakan yang mesti terlibat secara kompak. Kebijakan di bidang ekonomi, politik, budaya, dan lainnya jangan sampai bertolak belakang dengan kebijakan di bidang pendidikan. Semuanya mesti bersinergi dan saling sokong dalam rangka menjelmakan cita pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia.
→ Tinggalkan KomentarKategori: Indonesia
Pertanian, Pembangunan Ekonomi, dan Kesejahteraan Rakyat
Oktober 8, 2008 · 1 Komentar
Oleh ACEP MUSLIM
Kecuali Singapura dan Hongkong, hampir semua negara mengawali pertumbuhan ekonominya dari sektor pertanian, terutama yang berkaitan dengan pangan sebagai pilar penyangga ekonomi (Amang, 2001). Dan, kenyataan saat ini menunjukan bahwa pembangunan ekonomi di negara-negara maju pun dikuatkan oleh sektor pertanian yang kokoh. Komoditas dan produk-produk pertanian mereka telah menguasai sebagian besar pasar internasional, termasuk Indonesia.
Dari pelajaran itu, diantaranya, kita bisa mengerti mengapa keputusan di era orde baru untuk meninggalkan basis ekonomi sebagai negara agraris menjadi negara Industri bisa dikatakan sebagai sebuah keputusan fatal sekaligus prematur. Krisis ekonomi yang terjadi satu dekade yang lalu (hingga kini) adalah salah satu efek keputusan itu. Lompatan ke arah industrialisasi secara total adalah sebuah cerminan bahwa pembangunan era itu tidak berpijak pada potensi sumberdaya nasional berikut kaidah-kaidah dan tahapan pembangunan yang sesuai dengan negara berkembang seperti Indonesia. Pertanian, sebagai salah satu potensi sumberdaya Indonesia yang paling nyata malah diabaikan. Padahal sektor petanian mempunyai 4 fungsi yang sangat fundamental bagi pembangunan suatu bangsa (Bey, 1999), Yaitu (1) Mencukupi pangan dalam negri. (2) Penyedia lapangan kerja dan berusaha. (3) Penyedia bahan baku untuk industri. (4) Sebagai penghasil devisa bagi negara.
Keunggulan pertanian sebagai sektor vital dalam pembangunan ekonomi diantaranya ditunjukan dalam krisis yang merundung perekonomian Indonesia beberapa waktu lalu, sektor pertanian menjadi peredam gejolak ekonomi dengan memberikan sumbangan pada neraca perdagangan luar negri (Dillon, 1999). Dengan demikian, sebenarnya tidak alasan bagi Indonesia untuk menjadikan pertanian sebagai sektor marjinal dengan perhatian minimum. Sebaliknya, upaya membangun fondasi ekonomi yang kuat seharusnya dititik-beratkan pada sektor pertanian.
Menuju Kesejahteraan Rakyat
Sudah selayaknya jika kita menggelorakan kembali semangat back to nature dalam prosesi pembangunan ekonomi Indonesia. Yakni dengan menjadikan pertanian sebagai prioritas sekaligus pijakan utama dalam pembangunan ekonomi. Jika pembangunan ekonomi yang didasarkan pada industrialisasi yang dipandu oleh paradigma pertumbuhan, hutang luar negri, dan investasi asing malah memakmurkan sebagian kecil masyarakat saja (mereka yang bermodal), maka, dengan menjadikan pertanian sebagai pijakan utama, selain pertumbuhan ekonomi makro, efek positif kongkrit berupa pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat luas pun bisa tercapai.
Para pakar pertanian-pedesaan Jawa seperti Boeke, Pelzer, Geertz, Sayogyo, Penny, Hayami, Kikuchi, dan Palte mengasumsikan bahwa gejala kemiskinan di Pedesaan Jawa bermula dari faktor tekanan penduduk yang tidak terimbangi oleh perkembangan teknologi petanian dan kemajuan institusi ekonomi pedesaan (Marzali, 2003). Dari asumsi ini kita bisa melihat begitu eratnya hubungan antara ertaninan dengan persoalan hidup paling penting yang dihadapi masayarakat: kemiskinan. Bahkan keduanya hampir bisa dikatakan sebagai identik satu sama lain. Masalah pertanian juga adalah masalah kemiskinan. Demikian sebaliknya.
Dengan demikian, ketika pertanian diberikan perhatian serius, secara tidak langsung sebenarnya perhatian juga tengah diberikan pada sebagian besar masyarakat miskin. Sebaliknya, mengabaikan sektor pertanian berarti secara tidak langsung juga telah mengabaikan sebagian besar rakyat miskin yang kini tengah megap-megap dibawah tekanan beragam kebutuhan hidup yang semakin mahal.
Pertanian tidak hanya memberikan kontribuksi ‘abstrak’ terhadap pembangunan ekonomi Indonesia di masa kini dan akan datang. Lebih dari itu, sektor pertanian memberikan kotribusi rill terhadap tujuan atau hakekat dari pembangunan ekonomi itu sendiri: peningkatan kesejahteraan rakyat. Perkara pertama, bagaimana peranan ini bisa dilaksanakan secara lebih detil dan maksimal di lapangan. Perkara kedua, bagaimana agar peranan ini bisa terjamin keberlangsungannya hingga masa yang akan datang.
Tidak bisa dipungkiri juga, bahwa jika kemiskinan itu begitu dekat dengan hidup para petani, maka petani yang dimaksud adalah petani guram dan tunakisma. Atau mereka yang hanya menjadi buruh tani. Sementara itu, tak jarang kebijakan pengembangan sektor pertanian yang lalu justru malah lebih menguntungkan para petani yang benar-benar ‘petani’ atau mereka yang telah memiliki lahan cukup luas. Sementara itu petani-petani miskin dengan lahan sedikit atau bahkan tanpa kepemilikan lahan, kurang tersentuh dengan program-program pengembangan tersebut.
Inilah jawaban pertamanya. Jika pertanian ingin memaksimalkan peranannya dalam pembangunan ekonomi secara umum dan peningkatan kesejahteraan rakyat secara khusus, strategi pembangunan di sektor pertanian itu sendiri mesti dipikirkan lagi. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan cara mengintegrasikan pembangunan di sektor pertanian dengan pembangunan atau pengembangan institusi pedesaan. Institusi pedesaan yang dimaksud adalah lembaga-lembaga pemerintahan desa seperti kepala desa dan BPD serta institusi ekonomi-pertanian desa secara khusus. Melalui institusi-institusi inilah diharapkan ‘petani-petani kecil’ bisa menggeliat dari keterpurukannya. Reforma agraria, dalam hal ini, bisa jadi salah satu solusi yang dilakukan via institusi-intitusi tersebut. Pengembangan kapasitas atau keahlian serta pengoperasian teknologi pertanian pun dapat mendongkrak daya tawar ‘petani-petani kecil’ ini. Dengan demkian, kontribusi ekonomi sektor pertanian secara kongkrit akan dirasakan secara merata oleh setiap golongan petani dan pada gilirannya masyarakat umum yang lebih luas.
Adapun tantangan kedua bisa disiasati dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM ahli di bidang pertanian. Fenomena berkurangnya minat generasi muda tehadap pendidikan pertanian jangan dianggap perkara sepele. Hal tersebut harus mendapat perhatian serius. Karena dari pendidikan pertanian itulah tenaga-tenaga ahli yang akan mengembangkan dunia pertanian Indonesia lahir.
Dengan perhatian khusus yang terus ditingkatkan terhadap sektor pertanian, diharapkan peranan yang diberikan sektor pertanian terhadap perekonomian Indonesia jangka panjang serta terhadap perbaikan kondisi masyarakat secara khusus pun dapat terus ditingkatkan. Wallohualam.
Daftar Pustaka
Amang, Bedu dan Sawit, Husein M. Kebijakan Beras dan Pangan Nasional: Pelajaran dari Orde Baru dan Orde Reformasi. Bogor: IPB Press. 2001.
Dillon, H.S. Pertanian Membangun Bangsa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1999
Marzali, Ali. Strategi Peisan Cikalong dalam Menghadapi Kemiskinan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2003
.Harian Kompas
→ 1 CommentKategori: Indonesia
Generasi Yang Enggan Menjadi Petani
Agustus 26, 2008 · & Komentar
Oleh ACEP MUSLIM
Selain lahan yang terus menyempit, infrastruktur yang rusak, pertanian di Indonesia juga punya masalah serius dalam perkara sumber daya manusia. Di Jawa barat 40 persen petani berusia dia tas 50 tahun (Kompas, 4/8/2008). Usia yang tidak lagi produktif untuk melakukan pekerjaan-pekarjaan di bidang pertanian ini tentu saja menuntut adanya regenerasi sehingga bisa menjamin tetap bergulirnya aktivitas pertanian yang merupakan sumber utama penghidupan sebagian besar rakyat Indonesia, terutama di Jawa barat.
Namun demikian, generasi muda, yang semestinya menjadi generasi penerus, sangat jarang yang memilih pertanian sebagai mata pencaharian mereka. Di desa, kaum muda yang umumnya lahir dan dibesarkan di keluarga petani, sebagian besar enggan untuk melanjutkan profesi orang tua mereka untuk menjadi petani. Mereka lebih memilih pekerjaan ‘non tanah’ sebagai sumber penghidupan. Misalnya menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, atau tukang ojek. Sebagian dari mereka tergoda untuk pergi mengadu nasib di kota macam Jakarta. Hal ini bisa dilihat diantaranya dari fenomena urbanisasi tahunan pasca lebaran. Puluhan ribu orang dari desa berbondong-bondong ke kota. Di kota mereka biasanya bekerja di sektor informal seperti pedagang kaki lima, pembantu rumah tangga, menjadi buruh bangunan, adapula yang terpaksa menjadi pengamen jalanan.
Di ranah pendidikan, kian sedikit para lulusan SMA yang memilih pertanian sebagai bidang studi yang mereka geluti. Dalam Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negri (SNMPTN) tahun ini tersisa 2894 kursi kosong atau sekitar 50 persen pada program studi pertanian dan peternakan di 47 PTN di seluruh Indonesia (Kompas, 1/8/2008). Fenomena ini begitu ironi, pertanian yang merupakan sumber utama kehidupan masyarakat Indonesia kini bidang studinya makin kurang diminati.
Ironi ini berlanjut ketika para sarjana lulusan studi pertanian banyak yang memilih pekerjaan non pertanian. Bidang seperti perbankan lebih mereka minati dari pada pertanian. Saya pernah terlibat perdebatan yang alot dengan seorang teman yang merupakan sarjana lulusan sebuah PTN pertanian terbesar di Indonesia. Teman saya berpendapat bahwa meski Ia kuliah di bidang pertanian, pilihan karir di bidang selain pertanian tetap lebih menjanjikan. Sementara saya sendiri punya argumen sederhana, jika setelah lulus teman saya itu dengan sengaja memilih karir di bidang non pertanian, lantas mau dikemanakan ilmu yang bertahun-tahun Ia dalami di bangku kuliah. Belum lagi jika memikirkan pertanian Indonesia yang membutuhkan banyak tenaga ahli, jika bukan mereka yang lulusan dari studi pertanian, siapa lagi? Namun teman saya tetap keukeuh berpendapat bahwa kuliah pertanian yang selama empat tahun yang di jalaninya hanya fondasi awal dalam pemilihan karir Ia ke depan.
Dari Pendidikan
Semakin lunturnya minat generasi muda terhadap pertanian diantaranya disebabkan oleh citra pertanian (dalam hal ini petani) yang sering diidentikkan dengan kerja kasar dan kotor serta penghasilan yang pas-pasan. Tentu saja itu adalah pandangan yang sempit. Karena jika profesi di bidang pertanian itu ditekuni dan dikerjakan dengan manajeman dan keilmuan yang mumpuni, bila diukur secara materi, bisa menghasilkan pendapatan yang berlipat-lipat dibanding pekerja kantoran. Namun demikian, pekerjaan-pekerjaan di bidang selain pertanian, masih dianggap menawarkan kemakmuran yang lebih besar dengan cara yang praktis dan ‘bergengsi’.
Bagi mereka yang hendak memilih jurusan di perguruan tinggi, jurusan seperti tehnik, komputer (TI), kedokteran, hukum, komunikasi, dan akuntansi tetap menjadi pilihan utama. Sebab mengapa jurusan-jurusan tersebut diminati, diantaranya, adalah karena di kehidupan sehari-hari seorang dokter, IT engineer, pengacara, atau akuntan sudah lazim dikenal sebagai kelompok profesi ‘bergengsi dengan penghasilan yang besar. Meski argumen tersebut terlalu menyederhanakan masalah—karena tidak semua lulusan akuntansi jadi akuntan handal atau tidak semua lulusan kedokteran jadi dokter yang sukses secara karir dan materi—tapi banyak orang sudah terlanjur memandang hal tersebut sebagai suatu keniscayaan.
Dalam mazhab pendidikan kritis, pemikiran seperti itu disinyalir sebagai dampak masuknya dominasi kapitalisme dalam pendidikan. Menurut Giroux (Nuryatno,2008) produk paling nyata dari dominasi kapitalisme dalam pendidikan adalah lahirnya “culture of positivism”. Kapitalisme dan budaya positivisme inilah yang menjadikan proses pendidikan semata-semata sebagai proses penyesuaian individu-individu dengan dunia masyarakat industri dengan mengorbankan critical subjectivity, yaitu kemampuan melihat dunia secara kritis. Sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing sebagai hasil proses pendidikan yang belakangan digembor-gemborkan, jika dilihat dalam kacamata mazhab pendidikan kritis, bisa jadi tak lebih dari menjadikan mereka sebagai teknisi-teknisi yang ikut menggerakan mesin kapitalisme.
Pendidikan Indonesia, dalam semua tingkatan, tidak dipraktekkan sebagai pendidikan yang membangun pola pikir kritis-reflektif, yang melihat kehidupan secara kritis dengan idealisme untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Sebaliknya, pragmatisme lebih kental dalam setiap proses pembelajaran. Sekolah disederhanakan sebagai pintu gerbang memasuki dunia kerja semata. Di lain sisi, pendidikan kita seakan-akan dilangsungkan di sebuah negri yang bukan Indonesia. Tidak membumi. Hal ini sudah banyak dikritisi para ahli pendidikan. Bahwa institusi pendidikan di Indonesia memiliki jarak yang jauh, bahkan mungkin, alam yang barbeda dengan lingkungan dan masyarakat dimana pendidikan itu dilangsungkan. Di Institusi pendidikan seperti sekolah atau Perguruan tinggi, Indonesia tidak dikenal sebagai negara agraris. Dan ini masalahnya, kerap kali konsep Indonesia dalam proses pendidikan tidak begitu jelas. Apa dan negara macam apakah Indonesia. Sehingga, tidak mengherankan jika amat jarang dari para peserta didik, baik pelajar atau mahasiswa, yang mengenal Indonesia secara benar terlebih memedulikannya.
Demikianlah, jika ditelusuri, paceklik SDM pertanian Indonesia salah satunya berakar pada bagaimana proses pendidikan di republik ini dijalankan.
→ 2 CommentsKategori: Indonesia
Penanganan Kemiskinan Indonesia: Maju Selangkah Mundur Dua Langkah
Agustus 25, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar
Oleh ACEP MUSLIM
Beberapa waktu yang lalu Presiden RI geram karena ada sejumlah pihak yang, katanya, mengatakan bahwa pemerintah yang Ia pimpin tidak mengantongi kebijakan dan strategi program untuk mengatasi kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan (kompas.com,Juni 2008). Menanggapi tuduhan itu, Presiden mengemukakan pembelaan dengan membeberkan beragam kebijakan dan strategi pemerintahnya dalam rangka pengentasan kemiskinan. Saya tidak tahu arti pidato pembelaan presiden itu saat baru saja Ia bersama konco-konconya menaikan harga BBM yang berarti pula meningkatkan jumlah rakyat miskin di Indonesia. Saya pun tidak tahu apa guna pembeberan beragam kebijakan dan strategi pengentasan kemiskinan itu dikala usia pemerintahnya sudah tinggal beberapa bulan saja. Apa sekedar basa-basi? Entahlah.
Apapun yang presiden katakan, faktanya, rakyat miskin saat ini makin serba susah dalam menghidupi diri dan keluarganya. Jumlah rakyat miskin pun makin melimpah dari tahun sebelumnya. Jika melihat dinamika kemiskinan di Indonesia sejak pemerintahan sekarang memulai debutnya di tahun 2004, maka nampaklah bahwa tidak ada perubahan yang signifkan dalam perbaikan kondisi rakyat miskin di Indonesia. Data Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukan bahwa pada tahun 2004 tercatat 36,10 juta rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah tersebut pernah turun pada angka 35,10 juta jiwa di tahun 2005. Namun karena penaikan harga BBM angka itu melonjak ke jumlah 39,30 juta jiwa pada 2006. Pada tahun 2007, jumlah rakyat miskin sempat turun lagi ke jumlah 37,17 juta jiwa. Dan kini, di tahun 2008, setelah kenaikan harga BBM, bisa dipastikan jumlah rakyat miskin itu akan meninggi lagi. Tim Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Tim P2E-LIPI) memperkirakan warga miskin tahun ini akan bertambah menjadi 41,7 juta orang (21,92 persen).
Melihat pola penurunan dan penaikan jumlah masyarakat miskin di Indonesia, memang tak salah jika dikatakan bahwa penanganan kemiskinan di Indonesia memang mengalami ‘kemajuan’ (seperti pembelaan yang dilancarkan presiden). Namun sayangnya setiap kali maju selangkah, masalah kemiskinan yang diderita bangsa ini mundur lagi dua langkah.
Masih Ada Harapan
Penanganan kemiskinan di Indonesia sulit mengalami kemajuan karena proses penanganan kemiskinan dilakukan dengan pembentukan definisi, penetapan kategori, serta penciptaan solusi kemiskinan yang masih bersifat top down dari pemerintah ke rakyat. Dalam mekanisme ini rakyat miskin hanya diposisikan sebagai objek yang begitu saja didikte, dihitung, diotak atik, lalu dijejali berjenis cara penanganan yang tak jarang malah menciptakan masalah baru. Padahal, penduduk miskin, sebagai mana halnya penduduk yang tidak miskin, adalah subjek yang berpikir dan secara natural mampu bertindak untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Masalahnya, tak jarang kemampuan rakyat itu justru menjadi beku karena secara struktural mereka telah ‘dimiskinkan’. Pemiskinan berlangsung dengan berbagai cara, mulai dari penerapan kebijakan yang lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang dilandasi kepercayaan fanatik pada mekanisme pasar, sampai pada penciptaan solusi penanganan kemiskinan yang praktis tapi tidak mendidik rakyat, seperti program bantuan langsung tunai (BLT) sebagai penanganan atas melonjaknya jumlah rakyat miskin pasca kenaikan BBM.
Namun demikian, seperti bunyi sebuah pepatah Rusia—‘siapa yang terakhir mati? Yang terakhir mati adalah harapan’—bangsa Indonesia masih memiliki persediaan harapan yang cukup untuk memperbaiki nasibnya. Upaya pengentasan kemiskinan tak boleh berhenti betapapun upaya selama ini kerap menemui kegagalan.
Langkah baru bisa dimulai dengan mengubah cara pandang dan perumusan konsep kemiskinan. Bukan sekedar tunjuk si ini dan si itu sebagai orang miskin lalu dihitung dan ditumpuk pada database dalam bentuk angka-angka statistik. Lebih dari itu, definisi dan kategori kemiskinan mesti dirumuskan bersama rakyat. Beri kesempatan rakyat untuk menyuarakan kemiskinan yang mereka derita. Demikian pula saat pemerintah merumuskan kebijakan pengentasan kemiskinan, rakyat beserta segenap elemen masyarakat lain mesti dilibatkan. Dengan demikian solusi yang dimunculkan pun bisa tepat guna dan tepat sasaran dalam mengentaskan kemiskinan.
Selain itu, kebijakan dan strategi penanganan kemiskinan harus merupakan titian anak tangga yang secara pasti bergerak menuju arah yang semakin hari semakin nyata perbaikannya. Konsep ini mensyaratkan kebijakan dan strategi penanganan kemiskinan sebagai agenda yang terumus dalam sebuah rencana terukur, berjangka (panjang, menengah, pendek), bertahap, sekaligus rinci. Dan semua itu hanya bisa dilakukan oleh pemerintah yang memiliki visi yang jelas, ide-ide perubahan yang cemerlang, integritas yang andal, serta tekad yang kuat untuk memperbaiki nasib rakyat yang mereka pimpin. Kapankah pemerintah macam itu hadir di depan, tengah, dan belakang rakyat Indonesia?
→ Tinggalkan KomentarKategori: Indonesia
Membaca Cerdas Bagi Mahasiswa
Juni 23, 2008 · & Komentar
Oleh ACEP MUSLIM
Membaca merupakan kegiatan yang penting bagi semua orang. Namun pada mahasiswa perkara membaca ini menjadi berlipat-lipat pentingnya. Alasannya terang, karena mahasiswa, dari jurusan manapun dia berasal, pada kehidupan kesehariannya tidak lepas dari dunia ilmu pengetahuan dengan beragam bentuk dan tampilannya, terutama buku.
Sudah lumrah pada kegiatan belajar di universitas, seorang dosen dari setiap mata kuliah menyertakan sederet bacaan yang dijadikan referensi atau acuan bagi mahasiswa dalam mendalami mata kuliah bersangkutan. Ada bacaan yang sifatnya wajib dan adapula bacaan yang sifatnya anjuran saja. Tapi sebenarnya, lebih dari sekedar tuntutan dosen, membaca berbagai sumber, baik berupa buku, modul, atau jurnal yang berkaitan dengan mata kuliah yang sedang dipelajari, sudah merupakan kebutuhan bagi mahasiswa. Dikatakan kebutuhan karena jika sebuah ilmu benar-benar dikuasai, maka manfaatnya pertama kali akan dirasakan oleh diri sendiri dan bukan dosen atau yang lainnya.
Permasalahannya, jika satu mata kuliah saja mengharuskan kita untuk membaca literatur yang jumlahnya tidak sedikit, maka bisa dihitung berapa banyak buku atau literatur yang harus kita baca secara keseluruhan dalam satu satuan kuliah (semester). Belum lagi beragam informasi pendukung dengan berbagai bentuk yang bermacam-macam, seperti informasi aktual di koran atau internet, jurnal atau majalah ilmiah, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, bagi mahasiswa membaca jangan sekedar membaca saja. Membaca harus dilakukan dengan cerdas. Menggunakan teknik serta perencanaan yang matang. Jangan sampai kita salah baca, misalnya setelah beratus halaman membaca buku ternyata informasi yang dicari tidak ditemukan juga. Sementara waktu begitu sempit, belum lagi setumpuk bacaan lain yang telah menanti. Problem seperti ini bisa dihindari jika kita membaca dengan menggunakan perencanaan serta teknik yang cerdas.
Memutuskan untuk membaca buku setelah mengetahui kandungannya
Jangan buang waktu kita untuk membaca sebuah buku tanpa sebelumnya mengenali informasi apa yang dipunyai buku tersebut. Kita bisa mengenali kandungan suatu buku dengan mengidentifikasi beberapa bagian dari buku dalam waktu yang relatif singkat.
Beberapa hal yang dapat menjadi penuntun bagi kita, selain judul dan penulis, untuk mengetahui kandungan suatu buku adalah, pertama, Tulisan di sampul belakang. Tulisan yang terdapat pada sampul belakang buku biasanya merupakan hal yang ingin ditonjolkan buku tersebut. Bentuknya bisa berupa tulisan singkat atau bisa juga berupa komentar-komentar dari beberapa orang mengenai buku tersebut.
Kedua, Daftar isi. Daftar isi sangat berguna untuk mengetahui cakupan atau rincian materi yang dikaji di buku. Selain itu, melalui daftar isi kita bisa langsung menemukan tema yang benar-benar dibutuhkan. Karena bisa jadi, dari sekian banyak bab suatu buku, hanya satu atau dua bab saja yang benar-benar sesuai dengan yang kita butuhkan.
Ketiga, Indeks. Buku yang baik dan memenuhi standar adalah buku yang menyertakan indeks di dalamnya. Indeks dalam sebuah buku berisi kosakata-kosakata penting atau kata-kata kunci beserta lokasi/halaman dimana kosakata tersebut berada dalam buku. Indeks biasanya ditempatkan di bagian akhir buku sebelum daftar pustaka. Indeks berguna untuk menelusuri informasi spesifik dalam sebuah buku, misalnya informasi mengenai sebuah teori berikut pencetusnya.
Keempat, Daftar pustaka. Ada dua kegunaan utama daftar pustaka bagi seorang pembaca. Yang pertama adalah untuk mengetahui keluasan bahasan serta bobot ilmiah buku. Dari daftar pustaka kita bisa mengetahui dari mana saja seorang penulis merujuk informasi dalam proses penyusunan bukunya. Yang kedua adalah sebagai penuntun bagi pembaca untuk menentukan buku selanjutnya yang akan dibaca sebagai pendalaman terhadap tema yang serupa dengan buku yang telah dibaca.
Kelima, Pengantar atau bagian pendahuluan. Sebagian pembaca kerap melewatkan bagian ini ketika membaca sebuah buku. Padahal banyak hal yang bisa kita dapat didalamnya. Beberapa diantaranya adalah latar belakang dari ditulisnya buku tersebut, orang-orang yang terlibat dalam penulisan buku, serta metode penyajian buku yang disampaikan langsung oleh penulis. Bahkan ada beberapa buku yang menjadikan bagian pengantar dan pendahuluan sebagai ringkasan dari keseluruhan buku tersebut.
Bagaimana membacanya?
Setelah memutuskan bahwa sebuah buku akan kita baca, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana membaca buku tersebut. Tiga hal utama yang sangat mempengaruhi seefektif apakah kita bisa menyerap gagasan utama atau informasi yang kita butuhkan dalam buku meliputi : metode atau cara membaca, tempat, serta waktu membaca.
Tidak ada standar yang secara tepat dapat digunakan semua orang terkait masalah metode, waktu, dan tempat membaca. Contohnya, tidak semua orang menyenangi membaca di tempat sepi, karena adapula yang lebih senang jika membaca sambil diiringi dengan musik. Jadi, yang terpenting adalah mengetahui selera dalam membaca buku terkait tiga masalah tadi. Kenalilah selera kita ketika membaca.
Selain pertimbangan selera, hal lain yang penting untuk menentukan cara, waktu, serta tempat membaca adalah jenis buku dan tujuan kita membaca buku tersebut. Buku yang isinya ringan dan bahasanya mudah dicerna, bisa dibaca kapan dan dimanapun kita mau. Akan tetapi buku yang ‘berat’ dan sulit dipahami, sementara itu tujuan kita membaca buku itu adalah untuk memahami beberapa teori terkait tugas kuliah yang sedang dihadapi, tentu saja dalam membacanya pun memerlukan tingkat konsentrasi yang tinggi. Membacanya memerlukan waktu yang lama, tidak bisa kita membacanya dengan tergesa menggunakan teknik membaca cepat misalnya. Karena alih-alih mendapatkan sesuatu dari buku tersebut, malah kita kebingungan sendiri dengan apa yang telah dibaca. Yang demikian tentu saja tidak terkategorikan sebagai cara membaca yang cerdas. Karena inti dari membaca cerdas adalah membaca dengan cara yang tepat, waktu yang hemat, serta hasil yang akurat.
→ 4 CommentsKategori: Umum
Seabad Kebangkitan Nasional dan Seabad Kontroversi Sejarah
Juni 20, 2008 · & Komentar
Oleh ACEP MUSLIM
Judul : Seabad Kontroversi Sejarah
Penulis : Asvi Warman Adam
Penerbit : Ombak
Tahun terbit : 2007 ( cetakan I )
Tatkala sejarah menyadarkan kita tentang perbedaan-perbedaan, ia sebetulnya telah mengajarkan toleransi dan kebebasan –Francois Caron
Jika Budi Utomo masih berdiri hingga sekarang, organisasi yang didirikan Dr Wahidin Soedirohoesodo itu pasti tengah sibuk menggelar hajatan besar untuk memperingati hari lahirnya. Usia yang diperingati pun spesial, 100 tahun. Namun nyatanya organisasi itu telah lama tiada. Meski telah lama bubar, BU tetap menjadi salah satu organisasi pra revolusi yang terus populer bahkan hingga satu abad sejak kelahirannya. Pasalnya, pada hari kelahirannyalah, yaitu 20 Mei 1908, bangsa (atau tepatnya pemerintah) kita telah lama berkeyakinan sebagai momen yang tepat dan pantas diperingati sebagai hari bangkitnya nasionalisme bangsa Indonesia. Salah satu dalilnya, menurut sejarawan Prof. Dr. Suhartono, Budi Utomo lah penyebab berlangsungnya perubahan-perubahan politik sehingga terjadinya integrasi nasional.Wajarlah kalau kelahiran BU tanggal 20 Mei disebut hari kebangkitan nasional. Lahirnya BU menampilkan fase pertama dari nasionalisme Indonesia.
Lain Prof. Suhartono lain A.K. Pringgodigdo, sejarawan yang satu ini menyatakan bahwa “walaupun Budi Utomo perkumpulan buat seluruh jawa dan oleh karena itu bermula mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa perantaraan, tetapi sudut sosiaal cultureel Budi Utomo hanya memuaskan untuk penduduk Jawa Tengah”. Pendapat hampir senada disampaikan sejarawan M.C. Ricklefs, yang salah satu intinya mengungkapkan bahwa Budi Utomo adalah organisasi kaum priyayi Jawa.
Perbedaan pandangan tentang hari kebangkitan nasional adalah sebagian dari beragam kontroversi sejarah yang disajikan dalam buku sejarawan kawakan LIPI Asvi Warman Adam, Seabad Kontroversi Sejarah. Terkait BU dan hari kebangkitan nasional, Asvi sendiri menulis bahwa Budi Utomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif (hal 23). Dan karena sifatnya itu Budi Utomo disambut baik oleh Belanda. Beda dengan sikap terhadap BU, penguasa kolonial lebih berhati-hati bahkan menentang kehadiran Sarekat Islam yang pergerakannya dianggap membahayakan mereka. SI, selain bersifat massal, area gerakannya pun lebih luas dari BU, meliputi bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Di sisi lain, karena sifat dan jangkauan geraknya tidak sedikit pihak yang mengganggap bahwa kelahiran SI lebih tepat dijadikan sebagai titik mula kebangkitan nasional bangsa Indonesia.
Selain kebangkitan nasional, beberapa momen sejarah Indonesia lain pun tak sepi dari kontroversi. Diantaranya tentang agama dan kepercayaan Kartini, Sumpah Pemuda, G 30 S, Supersemar, Peristiwa Malari, serta Timor-Timur. Dengan ringkas penulis buku menampilkan beragam versi dari keping-keping sejarah Indonesia dilengkapi argumen para sejarawan terhadap peristiwa-peristiwa itu. Misal saja ketika membahas agama dan kepercayaan Kartini, buku ini menampilkan tiga pendapat dari tiga orang ahli. Prameodya Ananta Toer, dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, menyatakan bahwa Kartini adalah penganut Sinkretisme. Sedangkan menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam Indonesia Kartini adalah seorang muslimah taat. Bahkan tulisan Kartini “habis gelap terbitlah terang”, menurut Mansur, terpengaruh oleh salah satu ayat dalam Al Quran, “Minazh zhulumati ilan nur”. Beda lagi dengan Th. Sumartana, dalam bukunya Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini, ia berargumen bahwa konsep “Tuhan sebagai Bapa” dalam agama Kristen disambut dengan semangat oleh Kartini. Karena ungkapan itu lebih tepat dengan pengalaman batin Kartini yang begitu dekat dan sayang terhadap ayahnya. Demikian tafsir dari Th. Sumartana ikhwal agama dan kepercayaan Kartini.
Menyajikan sejarah Indonesia dengan beragam sudut pandang yang tak jarang saling bersebrangan adalah kelebihan buku ini. Bahasannya yang mencakup banyak peristiwa yang ditulis secara ringkas menjadi ‘hidangan pembuka’ bagi siapapun yang terobsesi untuk menyelami sejarah Indonesia lebih dalam lagi. Hal tersebut dipermudah karena penulis buku menampilkan langsung referensi-referensi yang memuat beragam versi dari berbagai peristiwa sejarah Indonesia. Meski demikian bukan berarti pula buku ini hanya berisi kumpulan kutipan dari sejarawan lain. Pada setiap bahasan penulis buku memberikan ulasan yang lahir dari analisisnya sendiri. Di tengah perdebatan tentang hari kebangkitan nasional, Asvi sendiri, setelah memberikan analisis, berpendapat bahwa peringatan kebangkitan nasional tanggal 20 Mei dapat diteruskan, namun dengan menyandingkan SI dan BU sebagai dua organisasi perintis kebangkitan nasional Indonesia.
Beberapa kasus sejarah yang tetap dibiarkan mengambang merupakan kelemahan sekaligus sisi lain kemenarikan karya ini. Dengan bahasa tulis yang ringan buku mungil ini bisa dibaca tanpa perlu konsentrasi tinggi. Dan tentu saja bisa dibaca oleh siapapun yang tertarik akan sejarah Indonesia berikut sederet kontroversinya.
→ 2 CommentsKategori: Baca Buku
Ditandai: Seabad Kebangkitan Nasional dan..

