kesabaran adalah bumi
keberanian menjadi cakrawala
dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
Saya pertama kali membaca puisi itu sekitar lima tahun lalu. Bukan dari buku puisi, tapi dari sebuah dinding triplek. Triplek yang menjadi dinding sebuah kamar kecil. Letaknya di kolong tribun stadion Siliwangi, Bandung. Saya tak tahu siapa perakit puisi itu. Tapi saya yakin yang mencoretkan puisi itu di triplek adalah si pemilik kamar.
Saat membacanya, saya merasakan puisi itu sederhana, mudah dimengerti, dan begitu bertenaga.
Kamar tempat puisi itu tercoret adalah kamar salah seorang ball boy tenis. Yang tak bukan adalah saudara saya. Selain kamar itu, ada beberapa kamar lagi yang diisi selusinan ball boy lain. Semua kamar itu bentuknya tak beda dengan kamar saudara saya. Berdinding triplek, beralas tembok, tikar, dengan kasur yang sudah kehilangan endutannya.
Kini si pemilik kamar itu telah membuka usaha sendiri. Sebuah konveksi mini. Omsetnya lumayan. Sementara teman-teman ball boy-nya yang lain, setiap hari, masih berlari kesana kemari mengejar-ngejar bola tenis di lapangan tenis indor Siliwangi.
Saudara saya itu memulai bisnisnya dari nol. Dari mulai menyisihkan sedikit dari honornya untuk membeli mesin jahit. Lalu ia mulai menjahit satu-dua pakaian olah raga di sela-sela waktunya bekerja di lapangan.
Pakaian olah raga buatannya mulai dikenali para petenis yang biasa maen di lapang tempat saudara saya bekerja. Mereka tertarik. Mereka membeli dan mengabarkan kepada rekan-rekan yang lain bahwa produk saudara saya itu bagus dan murah.
Begitulah, ringkasnya, kian hari usaha saudara saya makin berkembang.
Saya tak pernah tanya, apakah jalan hidup saudara saya itu dipengaruhi oleh puisi yang belakangan saya kenali sebagai puisi WS Rendra. Tapi perjalanan hidupnya, buat saya, identik dengan puisi Rendra yang ia coretkan dengan spidol hitam di dinding triplek kamarnya.
Pertemuan dengan Si Burung Merak
Saya bersyukur, setahun sebelum kepergiannya, saya sempat menyaksikan langsung Si Burung Merak membacakan puisi. Saya menyaksikan aksinya itu dalam acara 80 tahun Prof. S.M.P. Tjondronegoro. Di Bogor. Kesan saya atas Rendra waktu itu hanya satu : keren banget.
Ketika acara ulang tahun pak Tjondro itu memasuki waktu istirahat, saya jalan-jalan keliling gedung tempat acara berlangsung. Sekedar cari angin seusai santap siang. Saat jalan-jalan itulah, saya melihat Rendra sedang duduk di koridor gedung. Nampaknya Ia sedang menunggu jemputan.
Ingin sekali menegurnya, tapi keberanian saya tak cukup. Akhirnya saya ajak teman untuk mendekati Rendra. “kita minta foto bareng..” ajak saya.
Kami hampiri Rendra. Teman saya yang pertama kali menyapa penyair berambut gondrong itu. Rendra menyambut dengan ramah. Teman saya salaman dengan sang penyair, saya pun menyusul salaman. Jabatan tangannya begitu kuat. Beberapa menit, kami sempat ngbrol-ngobrol dengan sang penyair itu.
Mengakhiri obrolan, kami meminta kesedian Rendra untuk berfoto bersama. Dan beliau pun bersedia. Kami senang.. Cekrak-cekrak. Dua-tiga kali kami berfoto.
Sayang sekali foto itu kini hilang. Kalau ada, pasti foto itu yang saya pajang di tulisan ini.
Rendra telah pergi, tapi karya-karyanya selalu di sini. Menggedor kejumudan. Memberi spirit. Mengajak orang untuk, meminjam kata-kata Romi SW, Tetap Dalam Perdjoeangan!
Gambar WS Rendra diambil dari http://vibizdaily.com/detail/sosbud/2009/08/07/jenazah_ws_rendra_tiba_di_bengkel_teater



