Penanganan Kemiskinan Indonesia: Maju Selangkah Mundur Dua Langkah

Oleh ACEP MUSLIM

Beberapa waktu yang lalu Presiden RI geram karena ada sejumlah pihak yang, katanya, mengatakan bahwa pemerintah yang Ia pimpin tidak mengantongi kebijakan dan strategi program untuk mengatasi kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan (kompas.com,Juni 2008). Menanggapi tuduhan itu, Presiden mengemukakan pembelaan dengan membeberkan beragam kebijakan dan strategi pemerintahnya dalam rangka pengentasan kemiskinan. Saya tidak tahu arti pidato pembelaan presiden itu saat baru saja Ia bersama konco-konconya menaikan harga BBM yang berarti pula meningkatkan jumlah rakyat miskin di Indonesia. Saya pun tidak tahu apa guna pembeberan beragam kebijakan dan strategi pengentasan kemiskinan itu dikala usia pemerintahnya sudah tinggal beberapa bulan saja. Apa sekedar basa-basi? Entahlah.

Apapun yang presiden katakan, faktanya, rakyat miskin saat ini makin serba susah dalam menghidupi diri dan keluarganya. Jumlah rakyat miskin pun makin melimpah dari tahun sebelumnya. Jika melihat dinamika kemiskinan di Indonesia sejak pemerintahan sekarang memulai debutnya di tahun 2004, maka nampaklah bahwa tidak ada perubahan yang signifkan dalam perbaikan kondisi rakyat miskin di Indonesia. Data Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukan bahwa pada tahun 2004 tercatat 36,10 juta rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah tersebut pernah turun pada angka 35,10 juta jiwa di tahun 2005. Namun karena penaikan harga BBM angka itu melonjak ke jumlah 39,30 juta jiwa pada 2006. Pada tahun 2007, jumlah rakyat miskin sempat turun lagi ke jumlah 37,17 juta jiwa. Dan kini, di tahun 2008, setelah kenaikan harga BBM, bisa dipastikan jumlah rakyat miskin itu akan meninggi lagi. Tim Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Tim P2E-LIPI) memperkirakan warga miskin tahun ini akan bertambah menjadi 41,7 juta orang (21,92 persen).

Melihat pola penurunan dan penaikan jumlah masyarakat miskin di Indonesia, memang tak salah jika dikatakan bahwa penanganan kemiskinan di Indonesia memang mengalami ‘kemajuan’ (seperti pembelaan yang dilancarkan presiden). Namun sayangnya setiap kali maju selangkah, masalah kemiskinan yang diderita bangsa ini mundur lagi dua langkah.

Masih Ada Harapan
Penanganan kemiskinan di Indonesia sulit mengalami kemajuan karena proses penanganan kemiskinan dilakukan dengan pembentukan definisi, penetapan kategori, serta penciptaan solusi kemiskinan yang masih bersifat top down dari pemerintah ke rakyat. Dalam mekanisme ini rakyat miskin hanya diposisikan sebagai objek yang begitu saja didikte, dihitung, diotak atik, lalu dijejali berjenis cara penanganan yang tak jarang malah menciptakan masalah baru. Padahal, penduduk miskin, sebagai mana halnya penduduk yang tidak miskin, adalah subjek yang berpikir dan secara natural mampu bertindak untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Masalahnya, tak jarang kemampuan rakyat itu justru menjadi beku karena secara struktural mereka telah ‘dimiskinkan’. Pemiskinan berlangsung dengan berbagai cara, mulai dari penerapan kebijakan yang lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang dilandasi kepercayaan fanatik pada mekanisme pasar, sampai pada penciptaan solusi penanganan kemiskinan yang praktis tapi tidak mendidik rakyat, seperti program bantuan langsung tunai (BLT) sebagai penanganan atas melonjaknya jumlah rakyat miskin pasca kenaikan BBM.

Namun demikian, seperti bunyi sebuah pepatah Rusia—‘siapa yang terakhir mati? Yang terakhir mati adalah harapan’—bangsa Indonesia masih memiliki persediaan harapan yang cukup untuk memperbaiki nasibnya. Upaya pengentasan kemiskinan tak boleh berhenti betapapun upaya selama ini kerap menemui kegagalan.

Langkah baru bisa dimulai dengan mengubah cara pandang dan perumusan konsep kemiskinan. Bukan sekedar tunjuk si ini dan si itu sebagai orang miskin lalu dihitung dan ditumpuk pada database dalam bentuk angka-angka statistik. Lebih dari itu, definisi dan kategori kemiskinan mesti dirumuskan bersama rakyat. Beri kesempatan rakyat untuk menyuarakan kemiskinan yang mereka derita. Demikian pula saat pemerintah merumuskan kebijakan pengentasan kemiskinan, rakyat beserta segenap elemen masyarakat lain mesti dilibatkan. Dengan demikian solusi yang dimunculkan pun bisa tepat guna dan tepat sasaran dalam mengentaskan kemiskinan.

Selain itu, kebijakan dan strategi penanganan kemiskinan harus merupakan titian anak tangga yang secara pasti bergerak menuju arah yang semakin hari semakin nyata perbaikannya. Konsep ini mensyaratkan kebijakan dan strategi penanganan kemiskinan sebagai agenda yang terumus dalam sebuah rencana terukur, berjangka (panjang, menengah, pendek), bertahap, sekaligus rinci. Dan semua itu hanya bisa dilakukan oleh pemerintah yang memiliki visi yang jelas, ide-ide perubahan yang cemerlang, integritas yang andal, serta tekad yang kuat untuk memperbaiki nasib rakyat yang mereka pimpin. Kapankah pemerintah macam itu hadir di depan, tengah, dan belakang rakyat Indonesia?


Satu komentar on “Penanganan Kemiskinan Indonesia: Maju Selangkah Mundur Dua Langkah”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.