Oleh ACEP MUSLIM
Dalam satu dekade terakhir, Malcolm Gladwell telah menjadi salah satu penulis paling bersinar di jagat penulisan buku nonfiksi populer. Tiga bukunya, Tipping Point (2000), Blink (2005), dan Outliers (2008), terjual jutaan kopi dan diterjemahkan ke lebih dari duapuluh bahasa di berbagai negara. Tahun 2010 lalu Gladwell kembali hadir dengan karyanya berupa buku kumpulan tulisan yang menyimpan banyak kejutan. What The Dog Saw dan Petualangan-Petualangan Lainnya.
Malcolm Gladwell adalah staf penulis di majalah The New Yorker sejak 1996 hingga sekarang. Meskipun karirnya sebagai penulis kini begitu cemerlang, sebelumnya ia tak pernah berpikir atau bercita-cita jadi penulis. Saat kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Toronto, Kanada, ia bercita-cita jadi pengacara tapi di tahun akhir kuliah memutuskan untuk memasuki dunia periklanan. Setelah lulus (1984), ia melamar ke delapan belas biro iklan di kota Toronto. Semuanya ditolak. Ia sempat berpikir untuk melanjutkan studi pascasarjana, tapi nilai-nilainya kurang bagus. Ia lantas mengikuti seleksi penerima beasiswa. Ditolak lagi. “Akhirnya saya menulis; setelah cukup lama, saya baru sadar bahwa menulis bisa dijadikan pekerjaan,” tulis Gladwell di bagian pengantar buku What The Dog Saw. Lalu ia melanjutkan, “Pekerjaan itu berat dan serius. Menulis itu asyik” (hal xviii).
Sebelum bekerja di New Yorker, Gladwell bekerja di Washington Post, awalnya sebagai penulis bidang sains lalu menjadi kepala biro New York City. Tina Brown, editor senior di New Yorker, mengajak Gladwell bergabung di salah satu majalah bergengsi di Amerika itu. Sejak itu secara rutin Gladwell memproduksi artikel-artikel panjang untuk New Yorker. Tulisan-tulisannya menjangkau aneka bidang. Psikologi, kesehatan, kecantikan, olah raga, ekonomi, dan banyak lagi. Dari banyak artikel yang ditulisnya sejak 1996 itulah Gladwell memilih sembilan belas artikel favoritnya lalu dibundel dalam buku What The Dog Saw dan Petualangan-Petualangan Lainnya.
Beberapa artikel dalam What The Dog Saw, dalam versi aslinya di New Yorker, sebenarnya lebih dulu terbit dibanding ketiga buku Gladwell, Tipping Point (2000), Blink (2005) dan Outliers (2008). Artikel berjudul Ledakan merupakan artikel yang paling awal terbit dibanding ketiga buku tadi juga dibanding artikel lain dalam What The Dog Saw. Ia terbit di New Yorker pada Januari 1996. Artikel tersebut mengupas tragedi ledakan pesawat ulang alik Challenger pada tahun 1986 berikut perdebatan yang melingkupinya.
Setelah menceritakan rincian kejatuhan Chalengger dan mengemukakan pendapat para ahli tentang penyebab kecelakaan itu, Gladwell mengajukan pendekatan lain atas masalah itu dengan menggunakan teori homeostatis resiko. Kepingan dari gagasan dasar teori itu adalah bahwa, “manusia punya kecenderungan yang sepertinya mendasar untuk menggimbangi mengecilnya resiko di satu hal dengan mengambil resiko lebih besar di hal lain” (hal 320).
Teori itu nyatanya cukup relevan untuk menerangkan sisi lain tragedi Chalengger. Diketahui bahwa resiko kerusakan pada bagian tertentu di Chalengger sebenarnya sudah diduga oleh para insinyur NASA. Tapi pada peluncuran sebelumnya resiko tersebut bisa ditangani. Hal itu membuat para petinggi NASA percaya diri bahwa pada peluncuran selanjutnya pun resiko itu akan tertangani. “Kita (NASA-pen) bisa menurunkan standar kita sedikit karena kemarin kita tidak apa-apa” (hal 323). Homeostatis resiko.
Artikel berjudul Paling Mungkin Berhasil merupakan yang terakhir terbit dalam versi New Yorker, Desember 2008. Ia menguliti proses seleksi pekerja baru yang dilakukan banyak lembaga, termasuk perusahaan-perusahaan. Dalam artikel ini, Gladwell menekankan pentingnya memberi perhatian lebih dalam melakukan seleksi calon guru untuk menghasilkan guru-guru hebat yang pada gilirannya mampu mendongkrak kualitas pendidikan secara umum. Gladwell membandingkan seleksi calon guru dengan seleksi untuk memilih penasehat keuangan yang dilakukan oleh perusahaan North Star Resource Group di Menneapolis. Dari seribu pelamar yang diwawancara perusahaan itu, melalui seleksi yang amat ketat, hanya dua puluh tiga orang yang lolos. “Apakah artinya,” tulis Gladwell, “bila masyarakat lebih memberi perhatian dan kesabaran terhadap seleksi orang yang mengelola uang daripada yang mengelola anak?” (hal 372).
Artikel Ledakan dan Paling Mungkin Berhasil ditulis Gladwell dalam jarak waktu 12 tahun, dengan tema yang amat berlainan. Akan tetapi kualitas keduanya, baik dari segi substansi maupun teknik penulisan, tak jauh beda. Isinya menukik dalam. Alur penulisannya lancar. Demikian juga dengan tujuh belas artikel lainnya yang terbit dalam rentang waktu belasan tahun dan mengangkat bermacam tema, dari soal pewarna rambut, pawang anjing, hingga perkara bakat. Semuanya asyik.
Dalam What The Dog Saw Gladwell menjawab pertanyaan banyak orang
tentang bagaimana ia menemukan gagasan untuk menulis karya-karyanya.“Kunci menemukan gagasan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita,” demikian jawabnya (hal xvi). Setelah menemukan sudut pandang strategis (juga seringkali unik) untuk menggarap gagasan itu, Gladwell libatkan teori dan pendapat para pakar untuk menguatkan atau menguji gagasannya. Dan terakhir, ia sajikan semuanya dalam tulisan yang mengalir, relatif gampang dimengerti, dan seringkali memprovokasi.
Judul buku What The Dog Saw sendiri diambil dari artikel tentang Cesar Milan, seorang pawang anjing sekaligus pemilik Dog Psycology Center, yang mampu menjinakkan anjing liar dalam hitungan menit. Di antara delapan belas tulisan lainnya, tulisan tentang pawang anjing itu menjadi semacam ikon dari keunikan Gladwell dalam menemukan gagasan dan mengambil sudut pandang atas gagasan itu. Gladwell membahas kemahiran Cesar Milan dalam menjinakkan segala jenis anjing dari ‘sudut pandang’ si anjing. “Ketika Milan melakukannya” tulis Gladwell ketika menceritakan kisah di balik penulisan artikel itu, “apa yang ada dalam kepala si anjing?” (hal xv).

