Acep di sini

Entries categorized as ‘Baca Buku’

Memenuhi Panggilan Alam Liar

Agustus 20, 2009 · & Komentar

Oleh ACEP MUSLIM

Sesosok mayat ditBuku Jon Krakauer, Into The Wildemukan di kawasan taman nasional Denali, Alaska. Lokasinya yang terisolir dari peradaban, membuat mayat itu baru ditemukan setelah dua minggu nyawa pergi dari raganya. Berat mayat itu hanya 30 kg. Penyebab kematiannya masih diperdebatkan, antara kelaparan atau keracunan.

Penemuan mayat pemuda itu segera tersebar melalui media massa. Orang-orang geger. Lokasi dan penyebab kematian yang tidak lazim mengundang banyak tanya dan respon dari masyarakat. Lalu, siapakah lelaki malang itu? Hasil identifikasi polisi menunjukkan bahwa pemuda itu adalah Christopher Johnson McCandless. Seorang lelaki berumur 24 yang lebih dari dua tahun lalu pergi dari rumahnya.

Tertarik atas peristiwa ini, penulis Jon Krakauer melakukan penelusuran tentang asal usul mayat McCandles. Ia meneliti secara rinci hidup McCandles dari mulai keluarga, pendidikan, hingga petualangannya selama dua tahun menuju alam liar Alaska. Hasil penelusurannya itu disajikan dalam buku Into The Wild. Buku biografi bergaya novel yang apik dan detil ini terbit pada tahun 1996, empat tahun pasca kematian McCandles.

Sebelas tahun setelah buku Krakauer terbit, Sean Penn mengangkat kisah hidup McCandles ke layar lebar. Film besutan Sean Penn ini berhasil mengadaptasi buku Krakauer secara nyaris sempurna. Dalam film itu, sosok Chris McCandles yang diperankan Emile Hirsch begitu hidup. Dilatari oleh lagu-lagu nyentrik Eddie Vedder, menjadikan film Into The Wild begitu kuat dan menyentuh.

Berpetualang sebagai pilihan

McCandles pergi dari rumah menuju alam liar bukan karena  putus asa atas kebuntuan hidupnya. McCandles bukanlah pemuda tanpa masa depan. Ia memiliki modal sempurna untuk meraih karier yang ideal. Dari segi bakat, sejak kecil Ia dikenal pintar dan memiliki bakat kuat dalam bisnis. Pada usia delapan tahun Ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri dengan menjual sayuran pada para tetangga. Dan bakat ini semakin kentara ketika Ia dewasa. Aspek akademiknya pun bersinar. Ia melalui setiap jenjang pendidikan dengan prestasi cemerlang. Didukung oleh keluarga yang secara materi berkecukupan, singkat kata, McCandles memiliki jaminan untuk memperoleh masa depan yang gemilang.

Tapi siapa menduga, selepas lulus dari universitas dengan prestasi cum laude, Ia tidak memilih memasuki dunia karier yang menjanjikan. Atau merintis bisnis sesuai bakatnya. Ia bahkan menolak pemberian mobil baru dari orang tuanya. Bukan hanya menolak hadiah dari orang tuanya, McCandles juga menyumbangkan tabungan yang dimiliki ke lembaga amal. Sisa uang lainnya Ia bakar di pinggir mobil yang Ia biarkan terparkir begitu saja di tepi jalan. Kini tekadnya bulat dan ekstrim: berpetualang menuju alam liar Alaska dengan bekal dan pengetahuan seadanya. Tanpa peta, tanpa kompas. Sejak itu pula Ia mengganti namanya sendiri menjadi Alexander si petualang super (Alexander supertramp)

Dua tahun Alex Supertramp melakukan perjalanan. Dari Atlanta menuju Alaska. Melintasi kurang-lebih setengah benua Amerika. Berjalan kaki berkilo-kilo, menumpang di sembarang mobil yang lewat, menjadi penumpang ilegal di kereta barang, berarung jeram melintasi sungai menggunakan kano. Si petualang menginap di mana saja. Di tenda di pinggir jalan, di pinggir pantai, di kawasan peternakan, di gua, atau di kereta. Untuk memenuhi kebutuhan selama melakukan perjalanan si petualang siap bekerja apa saja. Mulai dari karyawan restoran cepat saji hingga pengemudi traktor di ladang. Semua proses itu ia lalui dengan penuh antusias. Dengan senang hati. Karena Ia sadar bahwa inilah pilihan terbaik dalam hidupnya saat itu.

Idealisme dan Pemberontakan

Tidak seperti kebanyakan orang, McCandles adalah orang yang bersikeras hidup menurut keyakinan-keyakinannya.

Pemuda ini sangat memikirkan ketidakadilan dalam kehidupan. Ketika menjadi murid senior di SMA Woodson, McCandles terobsesi dengan masalah pendindasan ras di Afrika Selatan. Dengan sungguh-sungguh dia mengajak teman-temannya untuk menyelundupkan senjata ke negara itu dan bergabung dengan perjuangan untuk mengakhiri apharteid. Tentu saja, kawan-kawannya menolak. Apa yang dikemukakan McCandles adalah gagasan gila bagi kawan-kawannya.

Petualangannya seorang diri menuju alam liar adalah bagian dari idealime hidupnya. Ia memandang bahwa kehidupan di sekitarnya penuh ketidakadilan dan kepalsuan. Dalam salah catatan hariannya Ia menulis bahwa tujuan petualangannya adalah

perjuangan menaklukan iklim untuk membunuh diri yang palsu, yang ada di dalam sana dan mengakhiri revolusi spiritual dengan kemenangan.

Dalam jarak dekat, McCandles menemukan kepalsuan pada diri ayahnya, Walt McCandles. Diam-diam Ia menumpuk kekesalan pada orang tuanya yang Ia nilai munafik dan sok shaleh.

Seperti banyak orang tua lain, Ayah McCandles kerap memberikan nasihat pada anaknya. Nasihat yang mengarahkan anaknya untuk berbuat baik dan meraih masa depan cerah. Si anak tidak suka sikap orang tuanya ini. Ia tidak suka karena mengetahui bahwa dibalik sikap menggurui dan ‘sok suci’ itu tersimpan kisah kilam tentang ayahnya. Diketahui bahwa ibunya adalah selingkuhan ayahnya di masa lalu. Ayahnya memulai rumah tangga baru bersama ibu, chris, adiknya, setelah mengalami friksi yang serius dengan istri pertamanya yang berakhir dengan perceraian.

Dipengaruhi Buku

Jack London, Leo Tolstoy, W. H. Davies, dan Henry David Thoreau adalah beberapa penulis yang dikagumi si petualang super. Buku-buku mereka memenuhi setengah isi tas ranselnya. Sedikit-banyak pandangan dan prinsip hidup si petualang dipengaruhi oleh buku-buku yang ditulis ke empat penulis itu.

Pandangan Alex tentang dunia mapan dan kemurnian dipengaruhi oleh Tolstoy. Kecintaanya terhadap alam dipengaruhi oleh Jack London. Julukan bagi dirinya sendiri, Alexander Supertramp, kemungkinan dipengaruhi oleh W.H. Davies dalam karyanya The Autobiography of a Super-Tramp (1908)

Sepanjang perjalanan Ia membaca buku-bukunya itu. Demikian juga saat berada di alam liar Alaska, Ia selalu membaca buku-bukunya. Kehidupan liar, iklim yang keras, dan membaca buku merupakan cara Alex Supertramp dalam memaknai hidupnya.

Kebahagiaan sebenarnya

Anak orang kaya itu ‘menyusahkan diri sendiri’ dengan hidup sendiri di alam Alaska. Terpisah dari peradaban. Ia tinggal di sebuah bus tua dan rombeng yang ia sebut bus ajaib. Bus itu sebenarnya merupakan bus peninggalan perusahaan pertambangan pada tahun 1930-an. Kendaraan itu dimaksudkan sebagai tempat menginap bagai karyawan pertambangan. Bus itu diderek ke tengah alam liar menggunakan traktor. Jika dilihat dari udara, bus itu memang terlihat aneh. Ia terparkir di tengah alam Alaska dan jauh dari jalan raya. Wajar jika Alex menyebutnya bus ajaib.

Si Petualang Super memakan apa saja yang bisa didapat di alam liar. Binatang buruan adalah menu utamanya: karibu, bajing, unggas, dan lainnya. Masalah sudah pasti Ia hadapi. Cuaca yang ekstrim dan sulitnya mencari makanan merupakan masalah sekaligus konsekuensi dari jalan hidup yang dipilihnya. Susah senang selama menjalani hidup di alam liar itu dituangkan dalam catatan-catatan singkat di jurnal harian.

Setelah dua bulan mengasingkan diri di bus ajaib di belantara Alaska, McCandles sepertinya telah menemukan kepuasan. Ia telah menemukan apa yang Ia cari. Ia memutuskan untuk mengakhiri masa petualangannya dan kembali ke peradaban.

Sehari sebelum memutuskan pulang, McCandles (dalam cacatatan hariannya Ia tidak lagi menamai dirinya Alex Supertramp) telah menyelesaikan membaca buku Family Happiness karya Tolstoy. Ia memberi tanda pada beberapa kalimat yang menyentuh hatinya

Dia benar saat mengatakan bahwa satu-satunya jenis kebahagiaan yang pasti dalam kehidupan adalah hidup untuk orang lain.

Selesai berkemas, McCandles bergegas menuju jalan pulang. Ia berjalan sejauh kurang lebih 10 km menuju sungai Teklanika yang membatasi tempatnya berdiam dengan peradaban. Dan di sinilah petaka itu bermula. Sungai Teklanika yang dua bulan lalu—waktu McCandles tiba di area itu—berupa sungai kecil dengan kedalam sepinggang, sekarang telah menjadi sungai yang lebar dan dalam dengan arus yang sangat kuat. Datangnya musim semi telah mencairkan es di sepanjang sungai itu. Mustahil Chris bisa menyebranginya dengan berenang. Maka Ia pun memilih untuk kembali ke bus ajaib tempatnya tinggal selama dua bulan ini.

Pria itu kembali ke bus ajaib dan mulai menjalani rutinitas hariannya seperti hari-hari sebelumnya. Saat itu tubuhnya sudah sangat kurus. Tulang-tulang rahanya terlihat jelas. Matanya menjorok ke dalam. Dia terus memperkecil ukuran ikat pinggang untuk menyesuaikan dengan ukuran pinggangnya yang semakin mengecil.

Saat binatang buruan makin susah dicari, McCandles mulai merambah ke tumbuhan. Buku tentang tanam-tanaman menjadi panduannya untuk membedakan mana tumbuhan yang bisa dimakan mana yang tidak.

Christoper Johnson McCandles 'Si Petualang Super'

Berakhir Tragis

Beda dengan sebagian pihak yang menyatakan bahwa kematian McCandles disebabkan oleh kelaparan akut, menurut analisa Krakauer, McCandles tewas karena keracunan. Ia keracunan sejenis kentang liar. McCandles kemungkinan salah memilih tumbuhan kentang liar yang memiliki beberapa ragam. Bentuk tumbuhan itu, satu sama lain memang sulit dibedakan. Beberapa kentang liar memang bisa dimakan, namun yang lain diantaranya bisa mematikan.

Dalam filmnya, Sean Penn menggambarkan saat-saat jelang kematian McCandles dengan dramatis. Pada mulanya Chris berteriak, mengerang. Sebelah tangannya menekan perut, sebelah tangan lain merogoh mulut: mencoba mengeluarkan racun yang kadong ditelan. Tapi usahanya sia-sia. Setelah merasakan sakit di sekujur badannya, Chris Johnson McCandles sepertinya sadar bahwa inilah akhir hidupnya.

Menggunakan sisa-sisa tenaga lelaki malang ini meraih lap dan mulai membersihkan badannya.  Selesai itu ia kenakan kembali pakaian kemudian berbaring di atas ranjang keras di dalam bus rombeng yang selama empat bulan telah menjadi rumahnya. Dalam pembaringannya wajah McCandles tampah cerah. Tatapan matanya seperti menembus atap bus menuju langit. Senyumnya merekah. Beginilah kisah Chris McCandles berakhir. Ia mati dalam usia muda dengan gelar petualang alam liar.

Kategori: Baca Buku

Seabad Kebangkitan Nasional dan Seabad Kontroversi Sejarah

Juni 20, 2008 · & Komentar

Oleh ACEP MUSLIM

Judul : Seabad Kontroversi Sejarah
Penulis : Asvi Warman Adam
Penerbit : Ombak
Tahun terbit : 2007 ( cetakan I )

Tatkala sejarah menyadarkan kita tentang perbedaan-perbedaan, ia sebetulnya telah mengajarkan toleransi dan kebebasan –Francois Caron

Jika Budi Utomo masih berdiri hingga sekarang, organisasi yang didirikan Dr Wahidin Soedirohoesodo itu pasti tengah sibuk menggelar hajatan besar untuk memperingati hari lahirnya. Usia yang diperingati pun spesial, 100 tahun. Namun nyatanya organisasi itu telah lama tiada. Meski telah lama bubar, BU tetap menjadi salah satu organisasi pra revolusi yang terus populer bahkan hingga satu abad sejak kelahirannya. Pasalnya, pada hari kelahirannyalah, yaitu 20 Mei 1908, bangsa (atau tepatnya pemerintah) kita telah lama berkeyakinan sebagai momen yang tepat dan pantas diperingati sebagai hari bangkitnya nasionalisme bangsa Indonesia. Salah satu dalilnya, menurut sejarawan Prof. Dr. Suhartono, Budi Utomo lah penyebab berlangsungnya perubahan-perubahan politik sehingga terjadinya integrasi nasional.Wajarlah kalau kelahiran BU tanggal 20 Mei disebut hari kebangkitan nasional. Lahirnya BU menampilkan fase pertama dari nasionalisme Indonesia.

Lain Prof. Suhartono lain A.K. Pringgodigdo, sejarawan yang satu ini menyatakan bahwa “walaupun Budi Utomo perkumpulan buat seluruh jawa dan oleh karena itu bermula mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa perantaraan, tetapi sudut sosiaal cultureel Budi Utomo hanya memuaskan untuk penduduk Jawa Tengah”. Pendapat hampir senada disampaikan sejarawan M.C. Ricklefs, yang salah satu intinya mengungkapkan bahwa Budi Utomo adalah organisasi kaum priyayi Jawa.

Perbedaan pandangan tentang hari kebangkitan nasional adalah sebagian dari beragam kontroversi sejarah yang disajikan dalam buku sejarawan kawakan LIPI Asvi Warman Adam, Seabad Kontroversi Sejarah. Terkait BU dan hari kebangkitan nasional, Asvi sendiri menulis bahwa Budi Utomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif (hal 23). Dan karena sifatnya itu Budi Utomo disambut baik oleh Belanda. Beda dengan sikap terhadap BU, penguasa kolonial lebih berhati-hati bahkan menentang kehadiran Sarekat Islam yang pergerakannya dianggap membahayakan mereka. SI, selain bersifat massal, area gerakannya pun lebih luas dari BU, meliputi bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Di sisi lain, karena sifat dan jangkauan geraknya tidak sedikit pihak yang mengganggap bahwa kelahiran SI lebih tepat dijadikan sebagai titik mula kebangkitan nasional bangsa Indonesia.

Selain kebangkitan nasional, beberapa momen sejarah Indonesia lain pun tak sepi dari kontroversi. Diantaranya tentang agama dan kepercayaan Kartini, Sumpah Pemuda, G 30 S, Supersemar, Peristiwa Malari, serta Timor-Timur. Dengan ringkas penulis buku menampilkan beragam versi dari keping-keping sejarah Indonesia dilengkapi argumen para sejarawan terhadap peristiwa-peristiwa itu. Misal saja ketika membahas agama dan kepercayaan Kartini, buku ini menampilkan tiga pendapat dari tiga orang ahli. Prameodya Ananta Toer, dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, menyatakan bahwa Kartini adalah penganut Sinkretisme. Sedangkan menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam Indonesia Kartini adalah seorang muslimah taat. Bahkan tulisan Kartini “habis gelap terbitlah terang”, menurut Mansur, terpengaruh oleh salah satu ayat dalam Al Quran, “Minazh zhulumati ilan nur”. Beda lagi dengan Th. Sumartana, dalam bukunya Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini, ia berargumen bahwa konsep “Tuhan sebagai Bapa” dalam agama Kristen disambut dengan semangat oleh Kartini. Karena ungkapan itu lebih tepat dengan pengalaman batin Kartini yang begitu dekat dan sayang terhadap ayahnya. Demikian tafsir dari Th. Sumartana ikhwal agama dan kepercayaan Kartini.

Menyajikan sejarah Indonesia dengan beragam sudut pandang yang tak jarang saling bersebrangan adalah kelebihan buku ini. Bahasannya yang mencakup banyak peristiwa yang ditulis secara ringkas menjadi ‘hidangan pembuka’ bagi siapapun yang terobsesi untuk menyelami sejarah Indonesia lebih dalam lagi. Hal tersebut dipermudah karena penulis buku menampilkan langsung referensi-referensi yang memuat beragam versi dari berbagai peristiwa sejarah Indonesia. Meski demikian bukan berarti pula buku ini hanya berisi kumpulan kutipan dari sejarawan lain. Pada setiap bahasan penulis buku memberikan ulasan yang lahir dari analisisnya sendiri. Di tengah perdebatan tentang hari kebangkitan nasional, Asvi sendiri, setelah memberikan analisis, berpendapat bahwa peringatan kebangkitan nasional tanggal 20 Mei dapat diteruskan, namun dengan menyandingkan SI dan BU sebagai dua organisasi perintis kebangkitan nasional Indonesia.

Beberapa kasus sejarah yang tetap dibiarkan mengambang merupakan kelemahan sekaligus sisi lain kemenarikan karya ini. Dengan bahasa tulis yang ringan buku mungil ini bisa dibaca tanpa perlu konsentrasi tinggi. Dan tentu saja bisa dibaca oleh siapapun yang tertarik akan sejarah Indonesia berikut sederet kontroversinya.

Kategori: Baca Buku
Ditandai: