Seabad Kebangkitan Nasional dan Seabad Kontroversi Sejarah

Oleh ACEP MUSLIM

Judul : Seabad Kontroversi Sejarah
Penulis : Asvi Warman Adam
Penerbit : Ombak
Tahun terbit : 2007 ( cetakan I )

Tatkala sejarah menyadarkan kita tentang perbedaan-perbedaan, ia sebetulnya telah mengajarkan toleransi dan kebebasan –Francois Caron

Jika Budi Utomo masih berdiri hingga sekarang, organisasi yang didirikan Dr Wahidin Soedirohoesodo itu pasti tengah sibuk menggelar hajatan besar untuk memperingati hari lahirnya. Usia yang diperingati pun spesial, 100 tahun. Namun nyatanya organisasi itu telah lama tiada. Meski telah lama bubar, BU tetap menjadi salah satu organisasi pra revolusi yang terus populer bahkan hingga satu abad sejak kelahirannya. Pasalnya, pada hari kelahirannyalah, yaitu 20 Mei 1908, bangsa (atau tepatnya pemerintah) kita telah lama berkeyakinan sebagai momen yang tepat dan pantas diperingati sebagai hari bangkitnya nasionalisme bangsa Indonesia. Salah satu dalilnya, menurut sejarawan Prof. Dr. Suhartono, Budi Utomo lah penyebab berlangsungnya perubahan-perubahan politik sehingga terjadinya integrasi nasional.Wajarlah kalau kelahiran BU tanggal 20 Mei disebut hari kebangkitan nasional. Lahirnya BU menampilkan fase pertama dari nasionalisme Indonesia.

Lain Prof. Suhartono lain A.K. Pringgodigdo, sejarawan yang satu ini menyatakan bahwa “walaupun Budi Utomo perkumpulan buat seluruh jawa dan oleh karena itu bermula mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa perantaraan, tetapi sudut sosiaal cultureel Budi Utomo hanya memuaskan untuk penduduk Jawa Tengah”. Pendapat hampir senada disampaikan sejarawan M.C. Ricklefs, yang salah satu intinya mengungkapkan bahwa Budi Utomo adalah organisasi kaum priyayi Jawa.

Perbedaan pandangan tentang hari kebangkitan nasional adalah sebagian dari beragam kontroversi sejarah yang disajikan dalam buku sejarawan kawakan LIPI Asvi Warman Adam, Seabad Kontroversi Sejarah. Terkait BU dan hari kebangkitan nasional, Asvi sendiri menulis bahwa Budi Utomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif (hal 23). Dan karena sifatnya itu Budi Utomo disambut baik oleh Belanda. Beda dengan sikap terhadap BU, penguasa kolonial lebih berhati-hati bahkan menentang kehadiran Sarekat Islam yang pergerakannya dianggap membahayakan mereka. SI, selain bersifat massal, area gerakannya pun lebih luas dari BU, meliputi bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Di sisi lain, karena sifat dan jangkauan geraknya tidak sedikit pihak yang mengganggap bahwa kelahiran SI lebih tepat dijadikan sebagai titik mula kebangkitan nasional bangsa Indonesia.

Selain kebangkitan nasional, beberapa momen sejarah Indonesia lain pun tak sepi dari kontroversi. Diantaranya tentang agama dan kepercayaan Kartini, Sumpah Pemuda, G 30 S, Supersemar, Peristiwa Malari, serta Timor-Timur. Dengan ringkas penulis buku menampilkan beragam versi dari keping-keping sejarah Indonesia dilengkapi argumen para sejarawan terhadap peristiwa-peristiwa itu. Misal saja ketika membahas agama dan kepercayaan Kartini, buku ini menampilkan tiga pendapat dari tiga orang ahli. Prameodya Ananta Toer, dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, menyatakan bahwa Kartini adalah penganut Sinkretisme. Sedangkan menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam Indonesia Kartini adalah seorang muslimah taat. Bahkan tulisan Kartini “habis gelap terbitlah terang”, menurut Mansur, terpengaruh oleh salah satu ayat dalam Al Quran, “Minazh zhulumati ilan nur”. Beda lagi dengan Th. Sumartana, dalam bukunya Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini, ia berargumen bahwa konsep “Tuhan sebagai Bapa” dalam agama Kristen disambut dengan semangat oleh Kartini. Karena ungkapan itu lebih tepat dengan pengalaman batin Kartini yang begitu dekat dan sayang terhadap ayahnya. Demikian tafsir dari Th. Sumartana ikhwal agama dan kepercayaan Kartini.

Menyajikan sejarah Indonesia dengan beragam sudut pandang yang tak jarang saling bersebrangan adalah kelebihan buku ini. Bahasannya yang mencakup banyak peristiwa yang ditulis secara ringkas menjadi ‘hidangan pembuka’ bagi siapapun yang terobsesi untuk menyelami sejarah Indonesia lebih dalam lagi. Hal tersebut dipermudah karena penulis buku menampilkan langsung referensi-referensi yang memuat beragam versi dari berbagai peristiwa sejarah Indonesia. Meski demikian bukan berarti pula buku ini hanya berisi kumpulan kutipan dari sejarawan lain. Pada setiap bahasan penulis buku memberikan ulasan yang lahir dari analisisnya sendiri. Di tengah perdebatan tentang hari kebangkitan nasional, Asvi sendiri, setelah memberikan analisis, berpendapat bahwa peringatan kebangkitan nasional tanggal 20 Mei dapat diteruskan, namun dengan menyandingkan SI dan BU sebagai dua organisasi perintis kebangkitan nasional Indonesia.

Beberapa kasus sejarah yang tetap dibiarkan mengambang merupakan kelemahan sekaligus sisi lain kemenarikan karya ini. Dengan bahasa tulis yang ringan buku mungil ini bisa dibaca tanpa perlu konsentrasi tinggi. Dan tentu saja bisa dibaca oleh siapapun yang tertarik akan sejarah Indonesia berikut sederet kontroversinya.

3 thoughts on “Seabad Kebangkitan Nasional dan Seabad Kontroversi Sejarah

  1. Menarik sekali. Asvi memang sejarawan yang berbobot; bagi saya pemikiran sejarahnya sangat kredibel. Solusi menyandingkan SI dan BU sebagai organisasi kebangkitan nasional saya kira bijak dan, bahkan, jujur terhadap sejarah. Good job!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s