Generasi Yang Enggan Menjadi Petani

Oleh ACEP MUSLIM

Selain lahan yang terus menyempit, infrastruktur yang rusak, pertanian di Indonesia juga punya masalah serius dalam perkara sumber daya manusia. Di Jawa barat 40 persen petani berusia dia tas 50 tahun (Kompas, 4/8/2008). Usia yang tidak lagi produktif untuk melakukan pekerjaan-pekarjaan di bidang pertanian ini tentu saja menuntut adanya regenerasi sehingga bisa menjamin tetap bergulirnya aktivitas pertanian yang merupakan sumber utama penghidupan sebagian besar rakyat Indonesia, terutama di Jawa barat.

Namun demikian, generasi muda, yang semestinya menjadi generasi penerus, sangat jarang yang memilih pertanian sebagai mata pencaharian mereka. Di desa, kaum muda yang umumnya lahir dan dibesarkan di keluarga petani, sebagian besar enggan untuk melanjutkan profesi orang tua mereka untuk menjadi petani. Mereka lebih memilih pekerjaan ‘non tanah’ sebagai sumber penghidupan. Misalnya menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, atau tukang ojek. Sebagian dari mereka tergoda untuk pergi mengadu nasib di kota macam Jakarta. Hal ini bisa dilihat diantaranya dari fenomena urbanisasi tahunan pasca lebaran. Puluhan ribu orang dari desa berbondong-bondong ke kota. Di kota mereka biasanya bekerja di sektor informal seperti pedagang kaki lima, pembantu rumah tangga, menjadi buruh bangunan, adapula yang terpaksa menjadi pengamen jalanan.

Di ranah pendidikan, kian sedikit para lulusan SMA yang memilih pertanian sebagai bidang studi yang mereka geluti. Dalam Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negri (SNMPTN) tahun ini tersisa 2894 kursi kosong atau sekitar 50 persen pada program studi pertanian dan peternakan di 47 PTN di seluruh Indonesia (Kompas, 1/8/2008). Fenomena ini begitu ironi, pertanian yang merupakan sumber utama kehidupan masyarakat Indonesia kini bidang studinya makin kurang diminati.

Ironi ini berlanjut ketika para sarjana lulusan studi pertanian banyak yang memilih pekerjaan non pertanian. Bidang seperti perbankan lebih mereka minati dari pada pertanian. Saya pernah terlibat perdebatan yang alot dengan seorang teman yang merupakan sarjana lulusan sebuah PTN pertanian terbesar di Indonesia. Teman saya berpendapat bahwa meski Ia kuliah di bidang pertanian, pilihan karir di bidang selain pertanian tetap lebih menjanjikan. Sementara saya sendiri punya argumen sederhana, jika setelah lulus teman saya itu dengan sengaja memilih karir di bidang non pertanian, lantas mau dikemanakan ilmu yang bertahun-tahun Ia dalami di bangku kuliah. Belum lagi jika memikirkan pertanian Indonesia yang membutuhkan banyak tenaga ahli, jika bukan mereka yang lulusan dari studi pertanian, siapa lagi? Namun teman saya tetap keukeuh berpendapat bahwa kuliah pertanian yang selama empat tahun yang di jalaninya hanya fondasi awal dalam pemilihan karir Ia ke depan.

Dari Pendidikan
Semakin lunturnya minat generasi muda terhadap pertanian diantaranya disebabkan oleh citra pertanian (dalam hal ini petani) yang sering diidentikkan dengan kerja kasar dan kotor serta penghasilan yang pas-pasan. Tentu saja itu adalah pandangan yang sempit. Karena jika profesi di bidang pertanian itu ditekuni dan dikerjakan dengan manajeman dan keilmuan yang mumpuni, bila diukur secara materi, bisa menghasilkan pendapatan yang berlipat-lipat dibanding pekerja kantoran. Namun demikian, pekerjaan-pekerjaan di bidang selain pertanian, masih dianggap menawarkan kemakmuran yang lebih besar dengan cara yang praktis dan ‘bergengsi’.

Bagi mereka yang hendak memilih jurusan di perguruan tinggi, jurusan seperti tehnik, komputer (TI), kedokteran, hukum, komunikasi, dan akuntansi tetap menjadi pilihan utama. Sebab mengapa jurusan-jurusan tersebut diminati, diantaranya, adalah karena di kehidupan sehari-hari seorang dokter, IT engineer, pengacara, atau akuntan sudah lazim dikenal sebagai kelompok profesi ‘bergengsi dengan penghasilan yang besar. Meski argumen tersebut terlalu menyederhanakan masalah—karena tidak semua lulusan akuntansi jadi akuntan handal atau tidak semua lulusan kedokteran jadi dokter yang sukses secara karir dan materi—tapi banyak orang sudah terlanjur memandang hal tersebut sebagai suatu keniscayaan.

Dalam mazhab pendidikan kritis, pemikiran seperti itu disinyalir sebagai dampak masuknya dominasi kapitalisme dalam pendidikan. Menurut Giroux (Nuryatno,2008) produk paling nyata dari dominasi kapitalisme dalam pendidikan adalah lahirnya “culture of positivism”. Kapitalisme dan budaya positivisme inilah yang menjadikan proses pendidikan semata-semata sebagai proses penyesuaian individu-individu dengan dunia masyarakat industri dengan mengorbankan critical subjectivity, yaitu kemampuan melihat dunia secara kritis. Sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing sebagai hasil proses pendidikan yang belakangan digembor-gemborkan, jika dilihat dalam kacamata mazhab pendidikan kritis, bisa jadi tak lebih dari menjadikan mereka sebagai teknisi-teknisi yang ikut menggerakan mesin kapitalisme.

Pendidikan Indonesia, dalam semua tingkatan, tidak dipraktekkan sebagai pendidikan yang membangun pola pikir kritis-reflektif, yang melihat kehidupan secara kritis dengan idealisme untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Sebaliknya, pragmatisme lebih kental dalam setiap proses pembelajaran. Sekolah disederhanakan sebagai pintu gerbang memasuki dunia kerja semata. Di lain sisi, pendidikan kita seakan-akan dilangsungkan di sebuah negri yang bukan Indonesia. Tidak membumi. Hal ini sudah banyak dikritisi para ahli pendidikan. Bahwa institusi pendidikan di Indonesia memiliki jarak yang jauh, bahkan mungkin, alam yang barbeda dengan lingkungan dan masyarakat dimana pendidikan itu dilangsungkan. Di Institusi pendidikan seperti sekolah atau Perguruan tinggi, Indonesia tidak dikenal sebagai negara agraris. Dan ini masalahnya, kerap kali konsep Indonesia dalam proses pendidikan tidak begitu jelas. Apa dan negara macam apakah Indonesia. Sehingga, tidak mengherankan jika amat jarang dari para peserta didik, baik pelajar atau mahasiswa, yang mengenal Indonesia secara benar terlebih memedulikannya.

Demikianlah, jika ditelusuri, paceklik SDM pertanian Indonesia salah satunya berakar pada bagaimana proses pendidikan di republik ini dijalankan.

5 thoughts on “Generasi Yang Enggan Menjadi Petani

  1. seharusnya generasi muda lebih membantu petani untuk menaikan derajatnya! dapatkah kita bayangkan jika tidak ada petani?

    emang siapasih yang tidak membutuhkan jasa petani???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s