Memenuhi Panggilan Alam Liar

Oleh ACEP MUSLIM

Sesosok mayat ditBuku Jon Krakauer, Into The Wildemukan di kawasan taman nasional Denali, Alaska. Lokasinya yang terisolir dari peradaban, membuat mayat itu baru ditemukan setelah dua minggu nyawa pergi dari raganya. Berat mayat itu hanya 30 kg. Penyebab kematiannya masih diperdebatkan, antara kelaparan atau keracunan.

Penemuan mayat pemuda itu segera tersebar melalui media massa. Orang-orang geger. Lokasi dan penyebab kematian yang tidak lazim mengundang banyak tanya dan respon dari masyarakat. Lalu, siapakah lelaki malang itu? Hasil identifikasi polisi menunjukkan bahwa pemuda itu adalah Christopher Johnson McCandless. Seorang lelaki berumur 24 yang lebih dari dua tahun lalu pergi dari rumahnya.

Tertarik atas peristiwa ini, penulis Jon Krakauer melakukan penelusuran tentang asal usul mayat McCandles. Ia meneliti secara rinci hidup McCandles dari mulai keluarga, pendidikan, hingga petualangannya selama dua tahun menuju alam liar Alaska. Hasil penelusurannya itu disajikan dalam buku Into The Wild. Buku biografi bergaya novel yang apik dan detil ini terbit pada tahun 1996, empat tahun pasca kematian McCandles.

Sebelas tahun setelah buku Krakauer terbit, Sean Penn mengangkat kisah hidup McCandles ke layar lebar. Film besutan Sean Penn ini berhasil mengadaptasi buku Krakauer secara nyaris sempurna. Dalam film itu, sosok Chris McCandles yang diperankan Emile Hirsch begitu hidup. Dilatari oleh lagu-lagu nyentrik Eddie Vedder, menjadikan film Into The Wild begitu kuat dan menyentuh.

Berpetualang sebagai pilihan

McCandles pergi dari rumah menuju alam liar bukan karena  putus asa atas kebuntuan hidupnya. McCandles bukanlah pemuda tanpa masa depan. Ia memiliki modal sempurna untuk meraih karier yang ideal. Dari segi bakat, sejak kecil Ia dikenal pintar dan memiliki bakat kuat dalam bisnis. Pada usia delapan tahun Ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri dengan menjual sayuran pada para tetangga. Dan bakat ini semakin kentara ketika Ia dewasa. Aspek akademiknya pun bersinar. Ia melalui setiap jenjang pendidikan dengan prestasi cemerlang. Didukung oleh keluarga yang secara materi berkecukupan, singkat kata, McCandles memiliki jaminan untuk memperoleh masa depan yang gemilang.

Tapi siapa menduga, selepas lulus dari universitas dengan prestasi cum laude, Ia tidak memilih memasuki dunia karier yang menjanjikan. Atau merintis bisnis sesuai bakatnya. Ia bahkan menolak pemberian mobil baru dari orang tuanya. Bukan hanya menolak hadiah dari orang tuanya, McCandles juga menyumbangkan tabungan yang dimiliki ke lembaga amal. Sisa uang lainnya Ia bakar di pinggir mobil yang Ia biarkan terparkir begitu saja di tepi jalan. Kini tekadnya bulat dan ekstrim: berpetualang menuju alam liar Alaska dengan bekal dan pengetahuan seadanya. Tanpa peta, tanpa kompas. Sejak itu pula Ia mengganti namanya sendiri menjadi Alexander si petualang super (Alexander supertramp)

Dua tahun Alex Supertramp melakukan perjalanan. Dari Atlanta menuju Alaska. Melintasi kurang-lebih setengah benua Amerika. Berjalan kaki berkilo-kilo, menumpang di sembarang mobil yang lewat, menjadi penumpang ilegal di kereta barang, berarung jeram melintasi sungai menggunakan kano. Si petualang menginap di mana saja. Di tenda di pinggir jalan, di pinggir pantai, di kawasan peternakan, di gua, atau di kereta. Untuk memenuhi kebutuhan selama melakukan perjalanan si petualang siap bekerja apa saja. Mulai dari karyawan restoran cepat saji hingga pengemudi traktor di ladang. Semua proses itu ia lalui dengan penuh antusias. Dengan senang hati. Karena Ia sadar bahwa inilah pilihan terbaik dalam hidupnya saat itu.

Idealisme dan Pemberontakan

Tidak seperti kebanyakan orang, McCandles adalah orang yang bersikeras hidup menurut keyakinan-keyakinannya.

Pemuda ini sangat memikirkan ketidakadilan dalam kehidupan. Ketika menjadi murid senior di SMA Woodson, McCandles terobsesi dengan masalah pendindasan ras di Afrika Selatan. Dengan sungguh-sungguh dia mengajak teman-temannya untuk menyelundupkan senjata ke negara itu dan bergabung dengan perjuangan untuk mengakhiri apharteid. Tentu saja, kawan-kawannya menolak. Apa yang dikemukakan McCandles adalah gagasan gila bagi kawan-kawannya.

Petualangannya seorang diri menuju alam liar adalah bagian dari idealime hidupnya. Ia memandang bahwa kehidupan di sekitarnya penuh ketidakadilan dan kepalsuan. Dalam salah catatan hariannya Ia menulis bahwa tujuan petualangannya adalah

perjuangan menaklukan iklim untuk membunuh diri yang palsu, yang ada di dalam sana dan mengakhiri revolusi spiritual dengan kemenangan.

Dalam jarak dekat, McCandles menemukan kepalsuan pada diri ayahnya, Walt McCandles. Diam-diam Ia menumpuk kekesalan pada orang tuanya yang Ia nilai munafik dan sok shaleh.

Seperti banyak orang tua lain, Ayah McCandles kerap memberikan nasihat pada anaknya. Nasihat yang mengarahkan anaknya untuk berbuat baik dan meraih masa depan cerah. Si anak tidak suka sikap orang tuanya ini. Ia tidak suka karena mengetahui bahwa dibalik sikap menggurui dan ‘sok suci’ itu tersimpan kisah kilam tentang ayahnya. Diketahui bahwa ibunya adalah selingkuhan ayahnya di masa lalu. Ayahnya memulai rumah tangga baru bersama ibu, chris, adiknya, setelah mengalami friksi yang serius dengan istri pertamanya yang berakhir dengan perceraian.

Dipengaruhi Buku

Jack London, Leo Tolstoy, W. H. Davies, dan Henry David Thoreau adalah beberapa penulis yang dikagumi si petualang super. Buku-buku mereka memenuhi setengah isi tas ranselnya. Sedikit-banyak pandangan dan prinsip hidup si petualang dipengaruhi oleh buku-buku yang ditulis ke empat penulis itu.

Pandangan Alex tentang dunia mapan dan kemurnian dipengaruhi oleh Tolstoy. Kecintaanya terhadap alam dipengaruhi oleh Jack London. Julukan bagi dirinya sendiri, Alexander Supertramp, kemungkinan dipengaruhi oleh W.H. Davies dalam karyanya The Autobiography of a Super-Tramp (1908)

Sepanjang perjalanan Ia membaca buku-bukunya itu. Demikian juga saat berada di alam liar Alaska, Ia selalu membaca buku-bukunya. Kehidupan liar, iklim yang keras, dan membaca buku merupakan cara Alex Supertramp dalam memaknai hidupnya.

Kebahagiaan sebenarnya

Anak orang kaya itu ‘menyusahkan diri sendiri’ dengan hidup sendiri di alam Alaska. Terpisah dari peradaban. Ia tinggal di sebuah bus tua dan rombeng yang ia sebut bus ajaib. Bus itu sebenarnya merupakan bus peninggalan perusahaan pertambangan pada tahun 1930-an. Kendaraan itu dimaksudkan sebagai tempat menginap bagai karyawan pertambangan. Bus itu diderek ke tengah alam liar menggunakan traktor. Jika dilihat dari udara, bus itu memang terlihat aneh. Ia terparkir di tengah alam Alaska dan jauh dari jalan raya. Wajar jika Alex menyebutnya bus ajaib.

Si Petualang Super memakan apa saja yang bisa didapat di alam liar. Binatang buruan adalah menu utamanya: karibu, bajing, unggas, dan lainnya. Masalah sudah pasti Ia hadapi. Cuaca yang ekstrim dan sulitnya mencari makanan merupakan masalah sekaligus konsekuensi dari jalan hidup yang dipilihnya. Susah senang selama menjalani hidup di alam liar itu dituangkan dalam catatan-catatan singkat di jurnal harian.

Setelah dua bulan mengasingkan diri di bus ajaib di belantara Alaska, McCandles sepertinya telah menemukan kepuasan. Ia telah menemukan apa yang Ia cari. Ia memutuskan untuk mengakhiri masa petualangannya dan kembali ke peradaban.

Sehari sebelum memutuskan pulang, McCandles (dalam cacatatan hariannya Ia tidak lagi menamai dirinya Alex Supertramp) telah menyelesaikan membaca buku Family Happiness karya Tolstoy. Ia memberi tanda pada beberapa kalimat yang menyentuh hatinya

Dia benar saat mengatakan bahwa satu-satunya jenis kebahagiaan yang pasti dalam kehidupan adalah hidup untuk orang lain.

Selesai berkemas, McCandles bergegas menuju jalan pulang. Ia berjalan sejauh kurang lebih 10 km menuju sungai Teklanika yang membatasi tempatnya berdiam dengan peradaban. Dan di sinilah petaka itu bermula. Sungai Teklanika yang dua bulan lalu—waktu McCandles tiba di area itu—berupa sungai kecil dengan kedalam sepinggang, sekarang telah menjadi sungai yang lebar dan dalam dengan arus yang sangat kuat. Datangnya musim semi telah mencairkan es di sepanjang sungai itu. Mustahil Chris bisa menyebranginya dengan berenang. Maka Ia pun memilih untuk kembali ke bus ajaib tempatnya tinggal selama dua bulan ini.

Pria itu kembali ke bus ajaib dan mulai menjalani rutinitas hariannya seperti hari-hari sebelumnya. Saat itu tubuhnya sudah sangat kurus. Tulang-tulang rahanya terlihat jelas. Matanya menjorok ke dalam. Dia terus memperkecil ukuran ikat pinggang untuk menyesuaikan dengan ukuran pinggangnya yang semakin mengecil.

Saat binatang buruan makin susah dicari, McCandles mulai merambah ke tumbuhan. Buku tentang tanam-tanaman menjadi panduannya untuk membedakan mana tumbuhan yang bisa dimakan mana yang tidak.

Christoper Johnson McCandles 'Si Petualang Super'

Berakhir Tragis

Beda dengan sebagian pihak yang menyatakan bahwa kematian McCandles disebabkan oleh kelaparan akut, menurut analisa Krakauer, McCandles tewas karena keracunan. Ia keracunan sejenis kentang liar. McCandles kemungkinan salah memilih tumbuhan kentang liar yang memiliki beberapa ragam. Bentuk tumbuhan itu, satu sama lain memang sulit dibedakan. Beberapa kentang liar memang bisa dimakan, namun yang lain diantaranya bisa mematikan.

Dalam filmnya, Sean Penn menggambarkan saat-saat jelang kematian McCandles dengan dramatis. Pada mulanya Chris berteriak, mengerang. Sebelah tangannya menekan perut, sebelah tangan lain merogoh mulut: mencoba mengeluarkan racun yang kadong ditelan. Tapi usahanya sia-sia. Setelah merasakan sakit di sekujur badannya, Chris Johnson McCandles sepertinya sadar bahwa inilah akhir hidupnya.

Menggunakan sisa-sisa tenaga lelaki malang ini meraih lap dan mulai membersihkan badannya.  Selesai itu ia kenakan kembali pakaian kemudian berbaring di atas ranjang keras di dalam bus rombeng yang selama empat bulan telah menjadi rumahnya. Dalam pembaringannya wajah McCandles tampah cerah. Tatapan matanya seperti menembus atap bus menuju langit. Senyumnya merekah. Beginilah kisah Chris McCandles berakhir. Ia mati dalam usia muda dengan gelar petualang alam liar.

5 thoughts on “Memenuhi Panggilan Alam Liar

  1. Subhanallah, gw juga pernah nonton pilemnya bro, ekstreem banget tuh orang, tapi sebenarnya dia tuh di akhir cerita dah tobat dan menyadari kesalahannya yang terlalu ekstreem memilih jalan hidup, tapi sayang sebelum melanjutkan idealisme barunya dia keburu mati……sangat tragis….sangat tragis….nice blog bro…lam kenal….

  2. Iya, mas. Makasih sudah berkunjung ke blog saya. Salam kenal juga.. Pas McCandles kembali mikir ‘realistis’ dia memutuskan untuk mengusaikan petualangannya di alam liar dan berniat kembali ke peradaban. Sayangnya sungai yang harus dia lewati menuju pulang meluap dan terlalu sulit untuk disebrangi. Dia balik lagi dan akhirnya mati seorang diri. Tragis, memang. Oiya, buku (novel-Jon Krakauer) dan musik2 yang jadi soundtracknya (Eddie Vedder0) juga asik, Mas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s