Pilih TV atau Koran

Indonesia adalah negri yang selalu riuh. Banyak kejadian heboh yang selalu menarik perhatian. Dari pentas politik hingga panggung hiburan. Bencana alam, pembunuhan, korupsi, demo demi demo, silih berganti tampil madia massa dari masa ke masa.

Kini, kasus Century sedang mendapat giliran menjadi hot isu di berbagai media massa. Sebelumnya berita di Koran dan TV kelabu oleh berita-berita seputar kepergian Gusdur. Almarhum Gus Dur ‘merajai’ media massa sekitar semingguan. Sebelumnya ada Prita dan cerita koin keadilan. Sebelumnya lagi ada lagi Cicak VS Buaya. Dan seterusnya..

Seperti ada yang mengatur, peristiwa-peristiwa heboh itu muncul bergiliran. Acara-acara berita tidak pernah kehabisan materi untuk diinformasikan kepada pemirsa. Acara dialog dan debat pun selalu ramai dengan isu-isu hangat. Dan yang paling penting, bagi para pemiliknya,  TV-TV mereka tak pernah sepi dari iklan.

Bisnis media massa adalah salah satu bisnis paling menjanjikan sekarang ini. Peristiwa-peristiwa menarik yang merupakan jualan mereka, kini mudah didapat. Berderetnya peristiwa-peristiwa yang menarik perhatian pemirsa membuat para pemilik usaha media kian kaya.

Salah satu soalnya adalah, sering kali, demi mengejar rating dan memancing iklan, para pengelola media ini menyajikan berita secara berlebihan untuk satu isu dan mengenyampingkan mengenyampingkan berita lainnya. Hal demikian sangat kentara dari cara pemberitaan media TV.

Misalnya, ketika gempa Padang melanda, berita tentang gempa Tasik beserta duka para korbannya sirna seketika. Kalaupun muncul, hanya sebagai selingan atau runing teks saja. Akibatnya, masyarakat pun beramai-ramai memberi perhatian dan sumbangan untuk korban gempa Padang dan ‘melupakan’ derita korban gempa Tasik yang tak kalah pilunya. Ini salah satu contoh efeknya saja.

Beda TV beda lagi koran. Sebagai sumber berita, bagi saya, koran lebih utama daripada televisi. Misalnya, di halaman pertamanya. Meskipun di sana headline utamanya tentang kasus Century, tapi di samping kiri masih ada berita tentang cuaca yang tidak stabil. Di samping kanan ada berita tentang perdagangan bebas yang mengancam para petani dan pengusaha lokal. Di pojok kiri bawah ada berita soal Jazz. Di sela-sela itu semua, terselip juga berita tentang olah raga.

Koran ibaratnya toko yang dilengkapi etalase tempat di mana berita-berita di pajang. Pembaca tinggal memilih, mana yang hendak dibaca lebih dulu. Mana yang yang belakangan. Mana yang tak perlu dibaca, dan seterusnya.

Sementara TV, ibaratnya sales yang menghampiri ‘pembeli’ sambil terus mengoceh dan menjejalkan barang dagangannya. Dia terus-terusan presentasi dan hanya memberi ruang amat sempit bagi ‘pembeli’ untuk memilih. Tak jarang, pembeli tak bisa memilih sama sekali.

Saya tidak tahu bagaimana pendapat anda soal ini. Tapi begitulah pendapat saya sebagai seorang pemirsa TV sekaligus pembaca koran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s