Tetangga Meninggal

Ketika saya dan dua orang lain  mengangkatnya, jenazah itu terasa begitu ringan. Kesan serupa dikatakan pula oleh dua pengangkat jenazah lain. “Hampang..” kata seorang. “hampang pisan” kata yang lain. Bobotnya kira-kira tak lebih dari 30 Kg. Amat ringan untuk ukuran lelaki dewasa berusia 37 tahun.

Kami bertiga mengangkat jenazah itu dari pemandian menuju ruang tengah. Sampai di ruang tengah, jenazah diletakkan di atas kain kafan yang telah dilapisi kapas di atasnya. Setelah posisi jenazah pas, kafan pun dipasangkan. Seorang lelaki umur 50 tahunan menyiprat-nyipratkan minyak wangi di atas jenazah yang telah terbungkus kafan itu. Ditaburkannya pula kapur barus yang telah dihaluskan. Aroma khas menyeruak memenuhi ruangan. Aroma kepergian seseorang. Aroma kepiluan keluarga yang ditinggalkan.

Waktu menunjukkan pukul 03.45. Suara-suara yang mengajak umat Islam bangun dari tidur mulai terdengar dari beberapa masjid.

Jenazah yang baru selesai dimandikan itu adalah Jenazah Mas Rana. Ia meninggal pukul 01.30 dini hari tadi. Ia pergi setelah menderita  sakit selama hampir dua tahun. Ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan berumur enam tahun.

Mas Rana adalah tetangga saya. Ia bersama istri dan anaknya tinggal bersama  di rumah mertua yang letaknya  berdekatan dengan tempat tinggal saya.

Saat terakhir kali menjenguknya, dua minggu lalu, saya melihat tubuh Mas Rana amat kurus. Setengah badannya yang tertutup selimut hampir rata dengan tempat tidur. Kedua tangan yang melipat di atas tubuhnya tinggal tulang belaka. Ketika istrinya menyibakan pakaian Mas Rana, yang nampak di dadanya hanya belulang yang berderet menurun ke arah perut yang cekung.

Dia adalah orang terkurus yang pernah saya lihat.

Bulan-bulan terakhir Mas Rana dihabiskan di tempat tidur. Segala hajatnya dilakukan di sana. Ia terlalu lemas bahkan sekedar untuk duduk menyandar pada tumpukkan bantal.

Penyakit yang mendera Mas Rana adalah penyakit  aneh. Begitu pikir keluarga. Demikian juga pikir saya. Aneh karena penyakit yang dideritanya tak jelas apa sebabnya. Setiap dokter yang didatangi kebingungan. Semua hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa tak ada penyakit di tubuh Mas Rana.

“Kata dokter, tekanan darah, jantung, ginjal, dan bagian dalam tubuh lainnya normal” Istri Mas Rana bercerita pada saya satu hari jelang kepergian suaminya.

Sementara semua dokter yang didatangi kebingungan, tubuh Mas Rana kian menyusut. Tenaga dan konsentrasinya terus berkurang.

Mulanya Ia hanya menderita sakit di kepala. Sakit yang awalnya dikira sakit kepala biasa. Tapi sakit itu mulai menghawatirkan karena sering membuat Ia tiba-tiba terjatuh. Sakit di kepala kemudian menemukan pola. Dari ba’da maghrib hingga tengah malam, sakit itu menghebat. Bukan hanya kepala, perutnya pun ikut sakit. Ia meraung. Makanan yang telah ditelan keluar lagi. Ia meraung. Badannya meregang menahan sakit. Ia meraung. Semua anggota keluarga di sekitarnya sedih dan khawatir sangat.

Jelang pagi hingga siang hari, barulah sakitnya mereda. Di waktu duha, saya sering melihatnya duduk berjemur di teras rumah.

Sakit di kepala Mas Rana berlanjut ke kaki. Kakinya lumpuh. Dayanya kian meniada. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Bermacam obat, serta sedikit makanan dan minuman yang setengah dipaksa masuk ke perutnya tak memberi dampak apa-apa. Badannya kian mengempes. Otot-otot di wajah, tangan, kaki, dan sekujur badan, terus berkurang.

Istri dan seluruh keluarganya sudah tak tega melihat penderitaan Mas Rana. Upaya untuk menyembuhkannya sudah maksimal. Mereka tinggal menyerahkan segalanya pada Allah swt. Bagaimanapun harapan mereka masih ada. Selalu ada. Dan Allah mahakuasa. Setiap ba’da magrib, istri, dan anggota keluarganya membacakan Al Quran untuk Mas Rana.

Apa hendak di kata. Manusia ada harap dan upaya. Dan Allah saja yang mahamenentukan. Dini hari tadi adalah akhirnya. Mas Rana pergi. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga amal ibadahnya diterima Allah swt. Semoga setumpuk penderitaan dan berlapis kesabarannya diganjar dengan balasan yang mewah. Dan semoga segala salah-dosanya diampuni.

Anggota keluarga dan para tetangga mengenal Mas Rana sebagai seseorang yang sederhana. Tak banyak bicara. Tak pernah bikin masalah. Cinta dan kesetiannya pada keluarga tak diragukan. Istrinya bercerita panjang lebar pada saya tentang bagaimana tingkah-laku suaminya selama hidup bersamanya. 10 tahun sudah Ia dan Mas Rana menjalin cinta. Selama itu pula tak pernah ada kecewa yang dibikin suaminya.

Jam sembilan pagi jenazahnya dikuburkan. Bersama keluarga Mas Rana dan puluhan tetangga, saya ikut mengantarnya ke pemakaman. Sepulang dari pemakaman saya langsung ke tempat kerja. Dua jam kemudian, di jam istirahat, saya pergi ke bengkel untuk mengganti kunci motor yang kemarin hilang entah ke mana.

Kemarin sore saya mengobrak-ngabrik isi rumah mencari di mana itu si kunci. Tapi tak juga ditemui. Kemarin sore saya amat kesal.

Tapi hari ini saya sadar apalah arti kunci motor itu dibanding  sehat yang selalu menempel di raga saya. Dibanding kehidupan ini. Di banding kesempatan ini. Saya jadi malu.

Gambar diambil dari  cintahakiki.wordpress.com

One thought on “Tetangga Meninggal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s