Belajar Cara Belajar Dari Kang Jalal

Saya kagum pada Kang Jalal, paling tidak, karena dua hal. Pertama, Ia seorang multi-pakar. Kedua, dalam menyampaikan suatu materi atau gagasan, Ia menulis dan berbicara dengan cara yang yang mudah dimengerti. Ia seorang yang komunikatif.

Kang Jalal atau Dr. Jalaluddin Rakhmat atau KH Dr Jalaluddin Rakhmat adalah seorang pakar komunikasi, psikologi, filsafat, otak (neurologi), sufistik, dan sejarah Islam. Ia adalah seorang dosen yang kiai. Juga kiai yang dosen. Dan penulis, pasti.

Mungkin ada bidang kepakaran lain yang tak tertulis oleh saya. Untuk jelasnya, silahkan baca buku-buku buah karyanya. Lebih dari empat puluh buku yang dirakit Kang Jalal menggambarkan betapa jangkauan kepakarannya begitu luas.

Di antara buku tersebut adalah Psikologi Komunikasi (1985), Islam Alternatif (1986), Islam Aktual (1991), Retorika Moderen (1992), Reformasi Sufistik (1998), Tafsir Sufi Al-Fâtihah (1999), Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi? (1999), Rindu Rasul (2001), Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih (2002), Psikologi Agama (2003) Meraih Kebahagiaan (2004), Belajar Cerdas Berbasiskan Otak (2005), Memaknai Kematian (2006).

Sebagian kecil dari buku-bukunya pernah saya baca. Isinya oke. Cara nulisnya asik. Bukunya, Psikologi Komunikasi, adalah satu-satunya buku teks kuliah yang enak dibaca selama saya kuliah. Buku lainnya, Belajar Cerdas, adalah buku yang ilmiah, kaya, sekaligus praktis.

Cara dia menyampaikan pesan lisan pun begitu menawan. Baik dalam kuliah di kampus, kuliah rutinnya di Al Munawwarah, maupun dalam berbagai seminar dan acara publik lainnya. Salah satu kelebihannya, Ia bisa menyampaikan suatu teori dengan campuran cerita dan canda. Sehingga pendengarnya bisa memahami suatu materi yang berat seraya tertawa.

Gaya bicaranya di depan publik begitu khas dan orisinil. Saya suka gayanya.

Sederet keunggulan yang dimiliki Kang Jalal membuat saya geregetan. Apa sih rahasia di balik kehebatan dia. Di balik kemultipakarannya. Di balik kelihaiannya dalam berkomunikasi via lisan dan tulisan. Maka pada satu kesempatan, saya sampaikan juga kepenesaranan ini padanya.

“Bagaimana cara anda belajar sehingga bisa menjadi seorang yang multipakar?” demikian kurang lebih pertanyaan yang sampaikan padanya.

Inilah jawaban beliau.

Pertama, selalu pelajari hal baru. Kalau perlu, setiap tahun pelajarilah secara fokus satu subjek ilmu. Inilah rahasia mengapa area kajian dari buku-buku yang ditulis kang Jalal begitu luas. Beberapa diantaranya merupakan persandingan dua tema. Misalnya, buku Psikologi Agama yang mendekati persoalan agama dengan ilmu psikologi.

Rata-rata, setiap tahun Kang Jalal menulis satu buku. Bahkan lebih. Setiap buku yang Ia tulis merupakan hasil studinya dalam jangka waktu tertentu. Meskipun banyak buku-buku yang ditulisnya berbeda bidang kajian satu sama lain, satu tema buku yang secara konsisten ditulis Kang Jalal adalah Buku tentang Rasulullah saww.

Kedua, luaskan pergaulan. Bergaulah dengan sebanyak mungkin orang dari berbagai kalangan. Dari berbagai keahlian. Dan jangan sungkan belajar dari mereka.

Kunci kedua merupakan sambungan dari yang pertama. Kita dapat mempelajari hal-hal baru, di antaranya, dari lingkungan pergaulan kita. Jangan harap ilmu kita berkembang, jika teman kita itu-itu saja. Perluaslah jaringan. Jalin silaturahmi dengan sebanyak mungkin orang. Dan raihlah manfaatnya.

Jawaban dari beliau memang ringkas. Saya cukup puas. Meskipun Ia tidak bilang, tapi saya bisa mengetahui rahasia lain dibalik kecanggihan beliau. Sebut saja yang ketiga, yaitu tuliskan apa yang kita pelajari. Ya, Kang Jalal belajar sesuatu lalu menjasadkannya dalam buku. Ia mengikat makna yang Ia serap dari proses studinya ke dalam tulisan. Ke dalam buku-buku.

Kalau boleh, saya tambah lagi yang keempat. Yakni, rajinlah membaca. Ini mah harus. Kang Jalal memang tidak bilang tentang soal ini, tapi perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa Ia tak pernah lepas dari membaca.

Kala remaja, Kang Jalal sering menghabiskan waktunya di perpustakaan negeri, peningggalan Belanda. Ia tenggelam dalam buku-buku filsafat, yang memaksanya belajar bahasa Belanda. Di situ ia berkenalan dengan para filosof, dan terutama sekali sangat terpengaruh oleh Spinoza dan Nietzsche.

Ketika menjalani masa belajar di Iowa State University pun Ia lebih banyak memperoleh pengetahuan dari perpustakaan universitasnya. Berkat kecerdasan dan keuletannya  Ia lulus dengan predikat magna cum laude dari kampusnya. Jadi, baca-baca dan terus baca.

Hatur nuhun, Kang Jalal.

Gambar diambil dari facebook Jalaluddin Rakhmat

4 thoughts on “Belajar Cara Belajar Dari Kang Jalal

  1. Kang, hatur nuhun atas informasinya…
    Saya juga lagi pengen banyak belajar-belajar-belajar
    Kang, yang saya miris,-dijaman sekarang ini kita tuh kekurangan tokoh buat diteladani………..
    Kebetulan saya sekarang baru kelas 2 smk farmasi, terlebih saya nyantri di sebuah pesantren (memang syarat utama sekolah di smk sayakita harus pesantren)…
    pokoknya saya haturkan banyak hatur nuhun ka akang……..

  2. Sama-sama, Rifa. Pelihara terus semangat belajarnya.

    Thomas Friedman dalam bukunya, The World Is Flat, bilang bahwa PQ (Passion Quotient)+CQ (Creativity Quotient) lebih besar pengaruhnya dari pada IQ.

    Jadi gairah/ semangat (passion) belajar yang tinggi dan kreativitas (creativity) adalah kunci.

  3. Artikel yang menarik. Sepakat dengan Bung Acep, Psikologi Komunikasi adalah buku teks kuliah yang sangat enak dibaca. Andai semua buku teks disusun dengan gaya penulisan seperti itu tentu tak bakal menmbuat trauma mahasiswa:).

    Terima kasih ya sudah berbagi. Jika sempat, mampirlah ke http://www.kintaka.wordpress.com untuk menikmati tulisan-tulisan tentang penerjemahan dan kepenulisan.

    Tabik,

    Nursalam AR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s