Profesi yang Memperkaya Diri

Hanya demi uang?Pengacara adalah profesi yang menjanjikan uang banyak. Tapi saya yang polos ini tidak menyangka bahwa uang yang mereka hasilkan sebegitu banyaknya. Selain ditumpuk, sebagian uang itu cukup untuk membeli belasan mobil mewah,  puluhan rumah, atau untuk membeli ratusan hektar tanah.

Hotman Paris Hutapea adalah contohnya. Pengacara satu ini mengoleksi belasan mobil sekelas Ferari dan 60-an rumah. Semua didapat dari aktivitas kesehariannya sebagai pengacara.

Kompas hari minggu, 31 Januari 2010, bercerita tentang gemerlap harta para jago hukum di Indonesia.

Selain Hotman, pada lembar yang sama, dibahas juga kekayaan Elza Syarief, dan O.C. Kaligis yang diraih dari hasil kerjanya sebagai pengacara.

Beda dengan Hotman yang gemar mengoleksi rumah dan mobil mewah, Elza lebih senang menukar uang hasil keringatnya dengan ratusan hektar tanah yang tersebar di beberapa daerah. Di balik hobinya itu Ia punya cita-cita mulia. Ia berharap dengan tanah-tanahnya itu kelak bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Kaligis lain lagi. Pengacara senior ini berkata “Ada masa di mana saya punya mobil balap, punya lima mercedes. Rasanya semua mobil hebat di masa itu saya punya. Tapi belakangan saya berpikir, untuk apa ya semua itu?..”. Sebagai pengacara senior, OC kini mengedepankan sifat altruistik daripada (atau disamping) prinsip materialistik. Pembelaan cuma-cuma yang Ia berilan pada Prita adalah salah satunya buktinya.

Selain pengacara, dokter adalah profesi lain yang telah lama tersohor asik dari segi penghasilan. Apalagi dokter spesialis. Tahulah kita, berapa uang yang harus dikeluarkan oleh pasien yang cuap-cuap beberapa menit dengan seorang dokter spesialis kulit dan kelamin, misalnya.

Di http://cengkunek.blogdetik.com/2009/03/01/10-profesi-berpenghasilan-terbesar , disebutkan bahwa dari sepuluh jenis profesi yang berpenghasilan terbesar, delapan di antaranya adalah aneka dokter spesialis. Dari Gigi hingga kandungan. Rata-rata penghasilan mareka di atas satu milyar setiap tahunnya.

Pantas saja Doel Soembang pernah berseloroh dalam salah satu lagunya : Can aya caritana, dokter hirup sangsara (belum ada ceritanya, dokter hidup sengsara). Wajar saja setiap tahun ribuan lulusan SMA berduyun-duyun memburu kursi di jurusan kedokteran di berbagai perguruan tinggi. Karena profesi dokter memang menjanjikan materi dan gengsi yang tinggi. Bahkan jika setiap kursi di jurusan kedokteran dihargai ratusan juta rupiah, mereka (orang tuanya) akan menebusnya.

Mari lihat data lain. Menurut survei yang dilakukan oleh Pusat Data dan Analisis Tempo 2008, bekerja di sektor pertambangan, teknologi informatika, akutan, dan pengacara menjadi idaman banyak sarjana baru. Di samping faktor ini itu, besaran penghasilan yang dijanjikan berbagai profesi tersebut tentu menjadi faktor yang sangat menentukan banyaknya anak muda yang mendambakan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Di bidang keuangan, Riko Asri (29) bisa jadi contoh. Ia adalah manajer kuangan PT Unilever untuk kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Turki. Gajinya Rp 20 juta sebulan. Bandingkan dengan gaji Pustakawan yang telah bekerja puluhan tahun. Hehehe.

Tapi di atas profesi-profesi itu, menjadi pengusaha tentu lebih heboh lagi penghasilannya. Jangan dulu bicara pengusaha-pengusaha kelas paus macam Arifin Panigoro atau Ciputra. Sebut saja Elang Gumilang. Umurnya baru 24. Dengan status yang mahasiswa Ia telah menjadi direktur sebuah pengembang perumahan. Nilai proyek yang ada ditangannya sudah menembus 17 milyar.

Atau Agung Nugroho Susanto, 25 tahun, yang dari bisnis mencuci kiloan telah membeli dan meninggali rumah seharga 1,5 milyar, mengoleksi dua BMW keluaran terbaru, sebuah kijang Inova, dan tiga sepedah motor.

Betapapun indahnya, semua cerita di atas bukanlah cerita abra kadabra. Semuanya adalah cerita tentang kekerasan upaya. Tentang kekukuhan tekad.

Dalam meniti usahanya, Agung Nugroho pernah gagal. Tapi kegagalannya hanya dianggap angin lalu. Ia terus melaju. Demikian juga dengan pribadi-pribadi berpenghasilan tinggi lainnya. Sepertinya mustahil di antara mereka ada yang gampang nurut pada kemalasan.

Disamping faktor tekad dan kerja keras, tak dinafikkan juga, sedikit-banyak faktor modal pun berperan. Jika profesi-profesi di atas bisa diraih dengan sekolah hingga tinggi, maka sekolah hingga tinggi amat sulit diraih tanpa biaya.

Diolah dari berbagai sumber. Sedangkan gambar diambil dari http://www.coinexinc.com/images/welcome.jpg

3 thoughts on “Profesi yang Memperkaya Diri

    • komentar anda sgt klasik spt org2 awam pada umumnya yg blm mendalami apa itu pengacara. pengacara tugasnya itu membela hak-hak yg dimiliki seseorang baik dia salah ataupun benar. org salah jg punya hak kali, kalo haknya bener2 ilang brati dia ga lbh dari budak dicabut HAMnya. mengenai pengacara membela yg bayar, saya rasa itu trmasuk jg ke profesi2 lain misalnya pengusaha. pengusaha tentu menjual jasa/barangnya kpd org yg mampu membayar/membeli jasa/barangnya kan. sama aja pengacara jg menjual jasanya kpd org yg mampu bayar. tapi itu semua balik ke msg2 pengacaranya lg. bnyak kok pengacara yg memberikan jasanya scr cuma2 khusus utk org yg tdk mampu.

  1. sebagai tambahan, profesi non-litigation lawyer (kerja di kantor law firm) bisa lbh menjanjikan drpd litigation lawyer (pengacara di pengadilan.cntohnya yg suka muncul2 di tv). bedanya non-litigation gaji lbh tetap, penghasilan bisa ampe puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah (bila bener2 sukses) per bulan tapi jam kerja numpuk. kalo litigation penghasilan ga tetap tergantung bnyknya client, menang/kalah kasus, honor yg diberikan client. perbedaan lainnya, non-litigation dikenal lbh “bersih” drpd litigation, krn litigation sering dihadapkan kpd hal2 yg menggoda, cthnya sogok hakim (utk bbrp hakim), manipulasi data.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s