Jalan yang Tak Seindah Namanya

MONCONG SEDAN BIRU itu diliputi aneka sampah. Plastik, potongan rumput, kerikil.  Sambil jongkok, seorang lelaki bercelana selutut membersihkan sampah-sampah itu dengan perlahan. Beberapa orang lainnya tampak sedang membersihkan teras rumah dari lumpur dan air kotor. Di pinggir jalan, beberapa gunduk pasir yang digali dari selokan terparkir bersama beberapa mobil.

Jam delapan malam di jalan Terusan Batik Halus, kawasan Sadang Serang, Bandung. Seperti dilakoni saban hari, malam itu saya pulang dari tempat kerja melalui jalan tersebut. Motor saya pacu perlahan.

Terusan Batik Halus adalah jalan alternatif. Memperpendek jarak menuju jalan Jalaprang, Sukaluyu, dimana saya tinggal. Jalan ini sering dipakai para pengendara untuk menghindari kemacetan yang kerap terjadi di dua pertigaan di sepanjang jalan Sadang Serang menuju jalan Ciwastra dan Jalan Pahlawan. Karena terlalu banyak kendaraan yang menjadikan jalan ini sebagai jalur alternatif, tak jarang jalan sempit ini pun ikut macet. Kondisi ini diperparah karena di sepanjang Terusan Batik Halus kerap terparkir mobil-mobil.

Kondisi Jalan Terusan Batik Halus

Posisi jalan dan perumahan di sana lebih rendah dari jalan Sadang Serang. Juga lebih rendah dari daerah perumahan lain di sebelah barat dan utara. Ketika hujan, bukan hanya kendaraan yang belok ke Terusan Batik Halus, cileuncang pun ikut belok. Jika hujan tampil besar-besaran, air yang meliuk ke sana bisa membludak.  Saluran air yang nampaknya bermasalah membuat gelontoran air itu tidak tertampung. Air pun pergi ke rumah-rumah penduduk di pinggiran jalan. Para pemilik rumah tak dapat berbuat banyak kecuali menunggu hujan reda. Kala hujan berhenti, permukaan air di rumah-rumah pun surut. Alat-alat kebersihan disiapkan. Operasi bersih-bersih dimulai.

Kolam berbatu di Terusan Batik Halus

Siang tadi hujan turun amat deras. Guntur menggelegar berkali-kali. Terusan Batik Halus banjir kembali. Meskipun tidak sedahsyat seperti yang terjadi di titik-titik lain di kota Bandung, banjir di Terusan Batik Halus cukup merepotkan dan merugikan penduduk di sana untuk kesekian kalinya.

Selain banjir, Terusan Batik Halus punya masalah lintas musim. Jalan ini rusak berat. Kontras dengan namanya yang elok. Sebagian besar permukaan jalan telah mengelupas. Batu kecil dan besar menyembul di sana-sini. Kolam dan tebing-tebing terjal’ di tengah jalan pun tercipta. Beberapa di antaranya memiliki kedalaman sekitar sejengkal orang dewasa. Ketika berkendara di jalur ini menuju jalan Sadang Serang, saya selalu memacu motor dalam gigi dua. Atau satu.

Jalan ini pendek. Tak lebih dari seratus meteran. Jika masuk dari tikungan jalan Sadang Serang,  Terusan Batik Halus bakal nyambung ke jalan batik halus.

Daerah Batik Halus sudah masuk kawasan perumahan (aduh saya lupa apa nama perumahannya). Nama-nama jalan di perumahan ini memang eksotik. Diambil dari nama-nama batik. Selain Batik Halus, ada Sidomukti, Rereng Adumanis, Merak Ngibing, Pekalongan, Yogyakarta, dan banyak lagi.

Siapapun yang punya ide penamaan jalan-jalan di sana, saya salut. Kreatif. Dan siapapun yang bisa menyelesaikan masalah ‘kecil’ di jalan Terusan Batik Halus, juga tak kalah kreatif. Harusnya sih banyak yang bisa. Bandung kan, katanya, Kota Kreatif. Apalagi Walikotanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s