Kejahatan di Perpustakaan

MENCURI BUKU di perpustakaan lebih kriminal dari mengutil jepit rambut di toko asesoris. Mencuri buku di perpustakaan bahkan lebih jahat daripada mengembat buku di toko buku.

Jika orang mencuri buku di toko buku, yang rugi hanya toko buku tersebut. Tapi kalau buku perpustakaan dicuri, yang rugi ratusan orang. Koleksi buku di perpustakaan diperuntukkan untuk kepentingan seluruh pengguna (pemustaka) perpustakaan. Mencuri buku di perpustakaan sama dengan menghalangi banyak orang memperoleh informasi yang terkandung dalam buku tersebut.

Dari segi materi perpustakaan pasti rugi. Setidaknya puluhan ribu atau ratusan ribu rupiah melayang tiap kali sebuah buku hilang dari perpustakaan. Apalagi kalau buku yang dicuri adalah buku langka. Kerugian yang satu ini tak terhitung secara materi.

Meskipun jelas-jelas merugikan, amat jarang—jika bukan tidak sama sekali—saya mendengar ada orang dihukum atau disanksi karena mencuri buku di perpustakaan. Tidak harus dituntut ke pengadilan, tapi setidaknya diberi sanksi yang mendidik. Misalnya, jika seorang mahasiswa kedapatan mencuri buku di perpustakaan, maka pihak kampus bisa memberinya sanksi tegas. Bisa berupa pengurangan jatah SKS atau pemberian skorsing selama jangka waktu tertentu.

Sulit untuk memberikan efek jera jika pencurian buku di perpustakaan hanya diganjar nasehat dari pustakawan. Si pencuri minta maaf. Urusan selesai. Besok-besok, bisa jadi Ia mencuri lagi. Toh, resikonya kecil. Toh mencuri buku di perpustakaan tidak akan membuat pencurinya disebut pencuri. Tidak akan diteriaki maling. Di lain sisi, ketika melakukan pencurian buku, pencurinya pun bisa jadi tidak merasa dirinya sebagai pencuri. Mungkin hanya menganggap dirinya orang ‘nakal’.

Selain pencurian, ‘kejahatan’ yang rentan terjadi di perpustakaan adalah vandalisme. Menyobek sebagian halaman buku atau mencoretinya dengan berbagai alat tulis. Ini pun jelas merugikan. Menyobek sebagian halaman buku dapat mengurangi kandungan informasi dalam buku tersebut. Sedangkan mencoreti buku dapat mengurangi kenyaman dalam membaca.

Kenapa ada orang yang sampai hati mencuri, menyobek, atau mencoreti buku yang notabene bukan punya dirinya sendiri. Mungkin sebabnya adalah karena buku, bagi sebagian orang, tak lebih berharga dari sandal jepit. Ironi memang. Tapi begitulah adanya.

Mencegah Pencurian
Salah satu cara mutakhir untuk menghindari pencurian buku di perpustakaan adalah dengan memasang chip pada setiap buku. Chip yang tipisnya hampir sama dengan kertas ini bisa ditempel di bagian belakang buku atau di bagian lain. Dengan chip ini, orang yang membawa buku keluar dari perpustakaan tanpa melalui proses peminjaman, bakal terdeteksi.

Baru-baru ini perpustakaan yang telah melakukan pemasangan chip di koleksinya adalah perpustakaan daerah Kota Palembang, Sumatra Selatan. Sebanyak 180.000 buku di Perpustakaan itu dipasangi chip. Tujuannya tak lain untuk menghindari pencurian buku yang sebelumnya marak terjadi.

Selain dipasangi chip, ada cara lain untuk menghindari terjadinya pencurian koleksi perpustakaan. Yakni dengan melakukan sistem pelayanan tertutup. Pada sistem pelayanan tertutup, pengunjung atau pengguna perpustakaan tidak diperkenankan mengambil buku sendiri di rak kemudian membaca atau meminjamnya. Pada sistem ini, jika pengguna membutuhkan suatu buku, maka Ia beritahukan buku yang dicarinya itu pada pustakawan yang bertugas. Pustakawan inilah yang mencarikan buku yang dibutuhkan si pengguna.

Meskipun lebih aman, jenis layanan ini mengandung kelemahan. Pengguna tidak bisa leluasa mencari buku yang dibutuhkannya. Ia tidak bisa ‘browsing’ atau melihat-lihat buku di rak sambil sesekali membukai halamannya.

Penyadaran
Mungkin terdengar berlebihan jika pencurian buku di perpustakaan disebut sebagai kejahatan sehingga pencurinya perlu diberi sanksi. Tapi panggilan apa yang kita gunakan untuk orang yang diam-diam merogoh uang di saku kita. Pencuri, copet, maling. Apa bedanya dengan orang yang menyelendupkan buku perpustakaan dan diam-diam membawanya keluar. Dan setelah itu dijadikan koleksi pribadi atau mungkin dijual di pedagang buku bekas.

Inilah tugas pustakawan. Pustakawan perlu memberikan penyadaran kepada setiap pengguna bahwa pencurian buku di perpustakaan adalah tindakkan yang amat merugikan. Pencurian yang tak ada bedanya dengan pencurian uang atau barang lain. Perncurian ini merugikan secara materi. Dan yang lebih merugikan, tindakkan tersebut menghalangi orang lain untuk mengakses pengetahuan yang dikandung pada buku yang dicuri.

Membangun Keakraban
Sanki tegas perlu diberikan pada pencuri buku di perpustakaan. Tapi hal ini jangan sampai membuat suasana perpustakaan menjadi tidak nyaman. Tegas jangan disamakan dengan seram.

Pustakawan harus lebih aktif berkomunikasi dengan para penggunjung yang datang ke perpustakaan. Kalau perlu jalinlah persahabatan dengan mereka. Hapuslah citra pustakawan yang bertampang manyun atau judes. Keakraban antara pustakawan dengan pengguna perpustakaan dapat menghindari atau paling tidak mengurangi kemungkinan terjadinya pencurian buku. Orang akan berpikir ulang untuk mengembat buku perpustakaan jika pustakawan yang bertugas telah begitu dekat dengannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s