Cerita Dari Jalan Raya (Pembuka)

JALAN RAYA KAYA AKAN CERITA. Bukan hanya tentang macet dan tabrakkan; di sana ada pula cerita pertengkaran dan gebuk-gebukkan. Pungutan liar. Pungutan ‘resmi’. Polusi. Polisi. Galian kabel. Klakson-mengklakson. Pengemis. Geng Motor. Dan banyak lagi.

Sekira dua jam dalam sehari dan lima hari dalam seminggu saya pulang pergi bekerja dengan bermotor. Saya tinggal di pinggiran Bandung Selatan dan bekerja di daerah Dago di Bandung Utara. Perjalanan saya setiap hari adalah perjalanan membelah kota Bandung. Dari jalan Soekarno Hatta, Kiara Condong, Jalan Jakarta, Supratman, Diponegoro, muter ke Dipati Ukur, lalu Dago.

Sepanjang perjalanan pergi-pulang itu banyak hal menarik saya saksikan. Lebih dari sekali saya melihat dua pengendara motor bertengkar gara-gara salah satu pengendara menyenggol pengendara lainnya. Pernah pula saya menyaksikan tabrakan beruntun. Sebuah Toyota Avanza yang dikendarai seorang perempuan belia sepertinya direm mendadak. Akibatnya, sekitar empat sepeda motor di belakang mobil itu bertumbukkan. Salah seorang pengendara motor itu  menghampiri pengendara mobil yang sudah keluar dari mobilnya. Mereka beradu mulut di trotoar.

Yang saya sebut menarik dari jalan raya  bukan hanya kejadian-kejadian berupa kecelakaan atau konflik antar pengendara. Kondisi fisik jalan  menarik. Spanduk-spanduk yang bergelayutan di pinggir jalan  menarik. Stiker-stiker yang menempel di mobil dan motor pun menarik. Mereka punya ceritanya masing-masing.

Stiker-stiker yang menempel di bagian belakang sebagian sepeda motor  menempati posisi khusus di antara cerita-cerita lain dari jalan raya. Saya kerap memerhatikan stiker-stiker itu dan kadang dibikin geli karenanya . Stiker-stiker itu seakan menyuarakan pikiran dan emosi para pengendara.

Di antara stiker itu ada yang berisi perdebatan antara pengendara motor matic dan pengendara motor  bergigi. Salah satu stiker yang menempel di sebuah motor matic berbunyi “Hari gini masih over gigi, cape deh”.  Stiker lain yang menempel di sebuah motor bergigi melawan “Hari gini pake matic, sekalian aja pake lipstick”.

Karena begitu banyak cerita yang bisa diungkit dari jalan raya, saya berniat membuat tulisan berseri seputar jalan raya. Tulisan ini adalah tulisan pembuka.

Saya sadar betul bahwa pengalaman saya di jalan raya adalah pengalaman yang jamak dialami pengendara lainnya. Karenanya, kalaupun saya ceritakan, bukanlah cerita unik dan menarik untuk dibaca orang lain. Tak apa. Saya punya motif pribadi menuliskan pengalaman itu di sini. Ini, sebut saja, semacam rekaman perjalanan saya selama berkendara di kota Bandung. Sangat mungkin seri tulisan ini melebar melebihi batas pengalaman pribadi. Misalnya, pengalaman orang lain atau nukilan dari buku. Yang pasti, semuanya takkan kabur jauh dari jalan raya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s