Prinsip-Prinsip Pengembangan Diri Orang Yahudi

Eran Katz, pemegang Guinness Book of World Record for Memory Stunts, menulis buku tentang kecerdasan orang Yahudi. Judulnya Jerome Becomes A Genius (2009). Pada tahun yang sama Penerbit Ufuk menerjemahkan buku tersebut dalam bahasa Indonesia dengan judul serupa ditambah anak judul: mengungkap rahasia kecerdasan orang Yahudi.

Ini tentu bukan buku pertama yang mengungkit soal otak orang Yahudi. Jika kita jalan di beberapa toko buku, buku-buku soal kepintaran orang Yahudi tak susah dicari. Di beberapa toko, buku-buku itu dipajang di satu baris khusus.

Saya tidak akan menulis kembali daftar ilmuwan atau hartawan berlatar Yahudi. Mereka sudah galib dikenal. Eran pun tak secara khusus mendaftar orang-orang itu di bukunya. Di buku yang ia tulis dengan bahasa renyah itu, Eran fokus pada upaya mencari tahu apa sebenarnya yang bikin orang-orang Yahudi di berbagai belahan bumi ini relatif lebih pintar, kaya, dan berkuasa dibanding orang-orang dari agama lainnya. Padahal secara statistik mereka adalah minoritas di dunia.

Eran melacak misteri tadi di antaranya dari kitab-kitab, para tokoh, dan dari sejarah perjalanan orang-orang Yahudi.  Berikut adalah beberapa temuan Eran tersebut. Mereka dirangkum dalam lima prinsip.

Prinsip Imajinasi. Sesuatu yang tidak logis dapat menjadi logis dengan bantuan imajinasi kreatif. Imajinasikan kenyataan yang berbeda, tinggalkan logika dan kemungkinan, wujudkanlah yang tidak mungkin dengan cara-cara yang mungkin.

Kecerdasan mempertahankan hidup. Ubah kenyamanan dan hal-hal rutin. Teruslah mengembara secara fisik maupun mental untuk mengetahui dan mengalami wilayah-wilayah lain. Sebaiknya kau tidak pernah merasa puas atau merasa telah mencapai suatu tingkat kenyamanan dan keamanan finansial.

Prinsip pengetahuan yang paling pokok. Belajarlah selamanya.  Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan dan jangan pernah membuat asumsi apa-apa dahulu.

Prinsip peningkatan mutu. Tak ada alasan membuang-buang waktu dengan melakukan sesuatu mulai dari awal kembali. Lebih baik gunakan apa yang sudah ada dalam sebuah cara yang paling sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan khususmu.

Prinsip Inspirasi. Temukan seorang teladan untuk kau tiru, berjalanlah tepat dalam langkah-langkahnya (tidak secara membabi buta) dan tambahkan inovasi-inovasimu sendiri sepanjang jalan itu.

Dari buku Eran, saya jadi punya duga  bahwa semua agama memiliki prinsip-prinsip pengembangan diri. Dalam Islam, misalnya, ada prinsip tentang perubahan yang akan terjadi jika yang mau berubah berupaya untuk berubah, ada juga ajaran tentang keutamaan waktu dan bagaimana menggunakan waktu.

Kendati begitu, saya masih ragu bahwa orang Islam atau Yahudi bisa cerdas semata karena mereka taat penuh pada ajaran agamanya. Soal ini sayangnya tidak dijelaskan dengan terang dalam buku Eran.

Albert Einstein dan Sigmund Freud tak diragukan adalah dua di antara banyak ilmuwan besar abad dua puluh berlatar Yahudi.  Tapi, apakah mereka berotak cemerlang dan berkarir gemilang lantaran bersungguh-sungguh mengamalkan ajaran agamanya ?

Bagi saya, alih-alih isinya, yang lebih  menarik dari karya Eran ini adalah metode penulisannya. Beda dengan banyak buku pengembangan diri lain, buku Eran minim gambar atau ilustrasi. Ia sepenuhnya menggunakan kekuatan kata, kekuatan cerita. Jerome Becomes A Genius adalah sebuah narasi yang begitu hidup.

One thought on “Prinsip-Prinsip Pengembangan Diri Orang Yahudi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s