Peduli Perpustakaan

ACEP MUSLIM

Ini adalah berita duka: 47 Kota/Kabupaten di Indonesia tidak memiliki institusi khusus perpustakaan dan dari 77.977 desa/kelurahan, baru 21.607 di antaranya yang memiliki perpustakaan (Kompas/14/04/2011). Fakta itu menggenapkan kemalangan kondisi dunia pendidikan, pengetahuan, budaya, sastra, dan perbukuan di negara kita.

Ada tidaknya perpustakaan di berbagai kota/kabupaten adalah satu masalah. Sedangkan bagaimana kondisi perpustakaan-perpustakaan yang sudah ada adalah masalah lain. Mari kita tengok perpustakaan di kota masing-masing. Hampir bisa dipastikan bahwa perpustakaan-perpustakaan itu bukanlah tempat yang penting dan menarik untuk dikunjungi. Jajak pendapat yang dilakukan Kompas menunjukkan hanya satu dari sepuluh orang warga yang sering datang ke perpustakaan di daerahnya (27/03/2011).

Masalah perpustakaan di berbagai daerah berderet dari rendahnya sosialisasi tentang keberadaan perpustakaan; jumlah dan ragam koleksi yang minim; suasana dan kegiatan yang monoton; hingga petugas perpustakaan yang tidak dapat mengelola dan mengembangkan perpustakaannya dengan baik. Padahal perpustakaan kota/kabupaten mestinya merupakan “sekolah terbuka” dimana masyarakat dari berbagai usia dan beragam latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan bisa bebas belajar dan mengembangkan diri. Ia pun menjadi alternatif pendidikan bagi masyarakat yang tidak mampu mengakses jalur pendidikan formal. Di sana tersedia koleksi lengkap mulai dari bermacam novel atau buku cerita untuk segala usia, buku-buku tentang beragam ilmu pengetahuan, aneka ensiklopedia, hingga berjenis majalah dan koran.

Kegiatannya pun bukan hanya membaca dan meminjam buku, tapi juga diskusi, nonton bareng, lomba-lomba, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan lain di luar membaca dan meminjam buku penting diselenggarakan karena di samping sebagai tempat belajar perpustakaan juga bisa dijadikan ruang publik dan tempat rekreasi. Orang bisa datang ke perpustakaan untuk menghibur diri, kumpul-kumpul dengan teman, sekaligus mendapat pengetahuan bermakna.

Dokumentasi Pengetahuan dan Budaya Lokal
Salah satu fungsi khusus perpustakaan kota/kabupaten semestinya adalah menyediakan informasi dalam berbagai bentuk (buku, manuskrip, terbitan berkala, film dokumenter) yang menyimpan segala macam informasi tentang kota/kabupaten tersebut. Sehingga jika seseorang ingin mengetahui bagaimana sejarah atau seluk beluk suatu kota, misalnya, ia bisa mengunjungi perpustakaan kota setempat.

Dalam hal ini perpustakaan berfungsi sebagai pusat dokumentasi kekayaan pengetahuan dan budaya lokal dimana perpustakaan itu berada. Anak-anak, generasi muda, semua warga, kini dan nanti, bisa kenal secara mendalam ikhwal daerah tempat tinggalnya dengan mempelajarinya di perpustakaan.

Sudahkah fungsi-fungsi di atas terpenuhi? Di beberapa kota kita malah bisa lebih banyak mendapat pengetahuan tentang seluk beluk atau sejarah kota-kota itu di beberapa perpustakaan milik pribadi daripada di perpustakaan (pemerintah) kota-kota itu.

Waktu buka dan jam layanan adalah masalah lainnya. Perpustakaan-perpustakaan di berbagai daerah, seperti halnya institusi pemerintah lain, kebanyakan hanya buka di hari dan jam kerja. Di hari kerja tentu saja kebanyakan warga pun bekerja atau bersekolah. Orang tidak bisa mengunjungi perpustakaan sepulang kerja, karena perpustakaan sudah tutup. Orang tua dan anaknya tidak bisa main ke perpustakaan di hari libur karena perpustakaan pun libur.

Siapa Peduli Perpustakaan?
Tiadanya institusi perpustakaan di puluhan kota/kabupaten di Indonesia serta belum optimalnya beragam fungsi dari perpustakaan-perpustakaan kota/kabupaten yang sudah ada, cukup menjadi bukti bahwa kepedulian pemerintah di berbagai tingkatan begitu rendah atas keberadaan perpustakaan. Kritisnya kondisi PDS HB Jassin, beberapa waktu lalu, adalah bukti lainnya. Sebelum itu, puluhan ton koleksi buku milik mantan Wakil Presiden RI Adam Malik yang dijual ke pedagang buku bekas lantaran tiadanya biaya untuk mengelola peninggalan beliau yang amat berharga itu (Koran Tempo/30/01/2011). Kita bisa menyelidik beberapa perpustakaan atau ribuan koleksi buku peninggalan tokoh lain yang nasibnya menyedihkan.

Di antara berita-berita muram itu, kabar baik justru datang dari bawah, dari masyarakat. Di berbagai daerah muncul individu-individu dan berbagai komunitas yang berinisiatif membangun perpustakaan atau taman bacaan. Mereka menggelorakan semangat literasi dari daerahnya masing-masing. Di Kabupaten Bandung, misalnya, ada Perpustakaan Sariwangi dan Sudut Baca Soreang; di Bogor ada Warung Baca Lebak Wangi; di Sumedang ada Perpustakaan Batu Api; di Banten ada Rumah Dunia; di Yogyakarta ada Perpustakaan Iboekoe; dan banyak lagi.

Banyak di antara orang-orang yang membangun dan mengembangkan perpustakaan dan taman bacaan itu bukanlah orang yang secara materi melimpah. Tapi mereka punya kepedulian, kemauan, bahkan kerelaan berkorban demi menyediakan kesempatan, ruang, dan pengetahuan bagi masyarakat. Ayi Rohman, pengelola perpustakaan Sariwangi, di masa merintis perpustakaannya, rela menyisihkan beberapa ribu rupiah tiap hari dari hasil usahanya berjualan gorden keliling kampung demi bisa membeli buku untuk perpustakaannya.

5 thoughts on “Peduli Perpustakaan

  1. Wah oke banget kalo orang-orang peduli ini ngumpul dan membentuk sebuah komunitas untuk bisa lebih memperluas lagi jaringan perpustakaannya, supaya lebih banyak kota yang memiliki perpustakaan yang lebih memadai.🙂

  2. harusnya coba cek lapangan lagi untuk melihat lebih dekat, apakah para pejuan literasi itu masih mengelola perpustakaannya dengan baik. nuhun

    • betul, kang agus. salah satu masalah yg beberapa kali sy temui itu adalah ketidakberlanjutan dari kegiatan-kegiatan tersebut. tapi yg baru-baru pun terus bermunculan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s