Internet dan Nalar yang Memudar

ACEP MUSLIM

Dalam sebuah pidato di universitas Notre Dame pada tahun 1955, David Sarnoff, seorang pengusaha media, menyatakan bahwa segala teknologi (termasuk teknologi media) pada dasarnya netral. Bagaimana orang menggunakan teknologi itulah yang menentukan nilai teknologi tersebut. Pernyataan Sarnoff ini merupakan bagian dari upayanya menepis kritikan banyak kalangan terhadap efek (buruk) media massa yang menjadi area bisnis perusahaannya.

Marshall McLuhan, seorang pakar media massa saat itu yang melegenda hingga sekarang, mencibir pernyataan Sarnoff tersebut. Menurut McLuhan, setiap media pada dasarnya dapat mengubah diri pemakainya. Teknologi seperti media massa lebih dari sekedar saluran informasi yang menghimpun dan menyebarluaskan informasi yang dengannya dapat memengaruhi pikiran dan tindakan khalayak. Untuk melihat dampak dari media massa, tidak cukup dengan meneliti isi dari media itu, tapi juga perlu ditelisik diri dan watak media massa-nya itu sendiri (Barker: 2001). Itulah makna dari perkataan McLuhan yang sangat terkenal: the medium is the message.

Perdebatan antara ‘Kubu Sarnoff’ dan ‘Kubu McLuhan’ tidak berhenti di situ. Di kemudian hari, seiring bermunculannya aneka media baru, perdebatan itu terus berlanjut. Internet, media yang sangat populer dalam setidaknya satu dekade terakhir, pun tak lekang dari perdebatan itu. Satu kubu menganggap bahwa internet pada dasarnya netral; dampak positif dan negatifnya tergantung isi yang dimuat dan bagaimana cara orang menggunakan internet itu. Kubu lain berpendapat internet, lepas dari isi dan cara menggunakannya, sedikit banyak tetap memberi dampak tertentu bagi pemakainya. Di kubu terakhir inilah Nicholas Carr, penulis The Shallows: Apakah  Internet Mendangkalkan Pikiran Kita?, berdiri.


Judul Buku: The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?;
Penulis: Nicholas Carr; Penerbit: Mizan;
Cetakan: Juli, 2011; Tebal: 279 Halaman.

Karena Otak Dapat Berubah
Selain mengutip pendapat McLuhan, dalam porsi lebih besar Nicholas Carr dalam bukunya mengemukakan argumen neurologis tentang bagaimana internet dapat memengaruhi otak dan cara bertindak manusia. Konsep neurologis yang menjadi kunci argumen Carr adalah neuroplasticity (kelenturan saraf otak).

Inti konsep neuroplasticity adalah bahwa otak manusia terus menerus berubah, menyesuaikan diri, termasuk pada perubahan kecil dalam keadaan dan perilaku kita (hal. 28). Semua sirkuit saraf  kita—baik yang terlibat dalam merasa, melihat, mendengar, bergerak, berpikir, belajar, memahami, atau mengingat—bisa berubah (hal. 24).

Termasuk hal paling berpengaruh terhadap struktur otak kita adalah teknologi yang kita gunakan untuk mencari, mengorganisisir, menafsir, dan menyimpan informasi. Semua teknologi yang dari waktu ke waktu telah memengaruhi bagaimana kita menemukan, menyimpan, dan menerjemahkan informasi, bagaimana kita mengarahkan perhatian kita dan menggunakan indra kita, bagaimana kita mengingat dan bagaimana kita lupa, telah membentuk struktur fisik dan cara kerja pikiran manusia (hal.48).  Ketika seseorang terbiasa menggunakan internet untuk mencari dan mengorganisir informasi, misalnya, maka otak kita akan membentuk pola tertentu sesuai kebiasaan itu.

Dari Membaca Buku yang Tidak Selesai hingga Pikiran yang Dangkal
Salah satu dampak nyata penggunaan internet terhadap otak, menurut Carr, adalah kian sulitnya otak pengguna internet untuk fokus dan berkonsentrasi ketika membaca buku. Ia hanya mampu membaca beberapa halaman, kemudian merasa gelisah dan mulai mencari-cari hal-hal lebih menarik di buku itu atau memutar perhatian ke sekelilingnya, bosan, lalu berhenti membaca sebelum buku itu tuntas.

Itu terjadi karena orang yang terbiasa menggunakan internet biasa membaca teks-teks pendek dan gurih dengan banyak tautan (link) di sekitarnya. Setelah membaca semua atau sebagian teks itu ia pindah membaca informasi lain dengan mengklik tautan yang ada di dekat tulisan itu. Selain itu, ketika menggunakan internet, orang bisa mendapat informasi dengan sangat cepat. Dengan Google, orang tinggal memasukan kata tertentu di kotak pencarian dan sedetik kemudian berderet-deret tautan menuju informasi yang berkaitan dengan kata itu akan bermunculan.

Pola penemuan dan pembacaan informasi demikian lama-lama terbentuk menjadi kebiasaan dan otak menyusunnya sebagai pola atau prosedur standar yang digunakan jika ia ingin mendapatkan dan menyerap suatu informasi. Maka, ketika seseorang membaca buku, secara tergesa ia ingin menemukan sesuatu yang menarik di buku itu. Ketika ia tidak menemukannya dalam waktu segera, kebosanan pun muncul dan ia memilih mencari buku atau hal lain di sekitarnya yang lebih menarik. Membaca buku pun tidak lagi menjadi momen kontemplatif dimana orang meresapi satu demi satu makna yang berserakan di dalamnya.

Kesulitan membaca secara mendalam (deep reading) dan tuntas hanya bagian atau gejala dari kondisi lebih serius pada diri seseorang karena seringnya menggunakan internet. Soal lebih besar itu adalah menurunnya kamampuan berpikir linear, kontemplatif, dan mendalam yang berganti dengan berpikir tergesa, instan, atau grasa-grusu.  Kesulitan untuk fokus ketika membaca, dan makin asingnya cara berpikir linear, dalam, dan kontemplatif  inilah yang yang secara ringkas disimpulkan oleh Nicholas Carr bahwa penggunaan internet bisa mendangkalkan pikiran. Ini tentu saja kesimpulan yang mencemaskan mengingat pengguna internet saat ini sudah berjumlah milyaran dan akan terus bertambah. Jika kesimpulan Nicholas Carr itu valid berarti dunia saat ini dihuni oleh lebih dari satu milyar orang yang berpikiran dangkal.

Manusia Larut di Hadapan Internet
Walau menyertakan sederet dalil dan temuan ilmiah, pemikiran Nicholas Carr bukan tak mengandung kelemahan. Di antara kelemahan itu terletak pada asumsi yang mendasari analisis-analisis Carr yang menyatakan bahwa ketika orang menggunakan internet, ia akan larut, kehilangan kemampuan memilih dan pikiran kritisnya. Asumsi itu juga berbunyi bahwa di depan internet orang menjadi pasif dan dikuasi internet sedemikian rupa sehingga dirinya dibentuk oleh internet. Carr  agaknya hendak menyamakan semua pengguna internet dengan dirinya yang, seperti ia ceritakan, telah banyak berubah sejak ia menjadi ‘adiktif’ terhadap  internet. Carr bahkan harus mengasingkan diri ke daerah dengan akses internet yang sangat terbatas agar bisa fokus dan tuntas menulis buku The Shallows ini.

Meski begitu, buku finalis Pulitzer Award 2011 ini sangat penting sebagai pewanti-wanti bagi kita para pengguna internet untuk lebih berhati-hati agar tidak menjadi adiktif dan obsesif terhadap internet sehingga kita terlalu mengandalkannya untuk mencari, mengolah, menafsir, dan menyimpan informasi melebihi otak kita sendiri. Internet cukup digunakan untuk membantu sebagian kecil kerja otak dan bukan untuk menggambil alih sebagian besar apalagi seluruh fungsinya. []

Edisi ringkasnya terbit di Koran Tempo 13 November 2011

One thought on “Internet dan Nalar yang Memudar

  1. wah saya salah satu penggemar internet,tapi saya ttp suka juga baca buku,terutama buku2 yang memang menarik minat,salah satu tujuan internet adlah menggatikan buku yang mungkin harganya sulit dijangkau oleh kalangan tertentu..dengan adanya internet penulis pun bebas mengekspresikan gagasannya yang baik yang kreatif.internet telah membuka mata kita lebar2 tanpa batasan negara.namun internet memang spt pisau bermata dua,inormasi yang sifatnya terlalu “ringan”bahasannya,pornografi bisa diakses juga dgn mudah.jadi pengguna internet juga sebearnya perlu dibekali ilmu yang benar mengenai pemanfaatan internet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s