Mengapa Menulis di Blog itu Masih Penting

Bagi sebagian orang, barangkali, menulis di blog kini sudah bukan jamannya. Saat ini, facebook lebih populer daripada blog. Menurut data dari Alexa (Akses 7/8/12), di Indonesia popularitas facebook bahkan mengalahkan google yang berada diurutan kedua. Blogspot ada di urutan keempat, dan wordpress kedelapan. Saya sudah berbulan-bulan tidak menulis di blog ini dan lebih sibuk mengurusi facebook. Sampai ketika beberapa hari belakangan ini saya sadar bahwa saya harus mulai menulis lagi  di blog ini karena beberapa alasan,

1. Berbagi Pengetahuan, Berbalas Kebaikan

Ini alasan yang mestinya sejak lama saya sadari. Selama ini saya sangat dibantu oleh keberadaan blog-blog yang bertebaran di alam maya. Membantu pekerjaan, belajar, atau sebagai sumber hiburan dan inspirasi. Saat bekerja, misalnya, saya perlu informasi tentang cara dan perangkat lunak apasaja yang dapat digunakan untuk mengubah file pdf ke word atau sebaliknya. Saat saya melakukan pencarian via google, kebanyakan informasi yang menjawab masalah itu saya dapat dari blog dalam sajian yang praktis dan lengkap (disertai tautan untuk mengunduh perangkat lunak berkaitan).

Nah, rasanya kurang adil jika saya hanya menjadi penerima manfaat saja dari kebaikan orang-orang yang membagikan ilmu dan pengalamannya di blog mereka masing-masing. Saya mesti andil dalam kegiatan berbagi pengetahuan ini dengan menuliskaan apa yang saya tahu di blog. Betul, saya hanya tahu sedikit tentang sedikit hal. Tapi toh sebagian pengetahuan yang pernah saya tulis di blog ini juga diapresiasi positif oleh beberapa pembaca.

Pekan lalu, saya baru mengunjungi blog irtiqa dan langsung kagum sekaligus iri atas isinya. Blog ini ditulis ilmuwan Amerika yang berisi tentang sains dan hubungannya dengan agama. Blog seperti ini mematahkan pikiran saya yang pernah menganggap blog hanyalah tempat untuk menulis soal-soal sepele dan ringan. Di Indonesia, blog bermutu seperti irtiqa tidak sedikit. Blog milik Andreas Harsono dan AS Laksana adalah dua di antaranya. Saya sangat suka dua blog itu.  Saya banyak belajar soal menulis dari dua pesohor dalam bidang tulis-menulis itu.

Lagi pula, yang tak kalah penting daripada tingkat kedalaman isi suatu blog adalah kadar manfaatnya bagi pembaca. Sebuan artikel blog tentang tips-tips agar tetap bugar menjalankan puasa, misalnya, tidak bisa dianggap sepele dibandingkan dengan, sebut saja, sebuah artikel panjang tentang puasa dan hubungannya dengan moral bangsa. Setiap orang, setiap pembaca, punya kehidupan dan kebutuhan pengetahuan yang relatif berbeda-beda.

2. Melawan Lupa, Melawan Pendangkalan Pikiran

Menulis adalah bagian dari ikhtiar melawan lupa. Supaya kita tidak mudah lupa atas suatu masalah, pengalaman, atau peristiwa. Di sini, menulis diartikan sebagai aksi dokumentasi.

Tapi, bagi saya, menulis di blog berbeda dengan menulis di catatan harian yang bersifat pribadi yang disimpan sebagai file pribadi di komputer pribadi. Saat menulis di blog, saya tidak bisa asal. Menulis di blog bukan hanya menulis untuk diri sendiri, tapi juga menulis untuk orang lain. Ada tanggung jawab kepenulisan di sana. Untuk itu, perlu diupayakan sebisa mungkin tulisan itu akurat dari segi isi dan jelas dari segi sajian. Untuk itu, kala menulis di blog saya harus berpikir. Tidak asal tulis, tidak asal copy-paste dari blog lain.

Nah, dengan tetap menulis di blog, saya tetap berpikir; dengan berpikir saya terhindar dari pendangkalan pikiran (pembegoan diri).

3. Sumber Informasi/Pengetahuan Alternatif

Awal tahun 2012 ini Merlyna Lim, seorang intelektual Indonesia yang mengajar di Arizona State University, Amerika, menerbitkan sebuah laporan penelitian tentang media massa di Indonesia. Salah satu isi dari hasil penelitiannya itu menunjukkan bahwa dari sekian banyak media cetak, televisi, radio, dan online yang ada, nasional dan lokal, ternyata mayoritasnya dimiliki oleh 13 grup perusahaan. Laporan lengkapnya bisa dilihat di sini. Beberapa di antara orang-orang puncak di grup perusahaan itu berkaitan langsung dengan kegiatan politik praktis. Sebut saja Aburizal Bakrie, Hari Tanu, dan Surya Paloh. Beberapa penguaha lain punya hubungan dekat dengan orang-orang dari parpol.

Arti semua ini jelas, bahwa dari pembiritaan mereka, setidaknya secara politik, tidak mungkin berimbang.

Di lain sisi, citizen journalism  saat ini saat ini mulai lekat hubungannya dengan media besar itu melalui fasilitas blog yang disedikan media-media online seperti detik dan kompas. Sadikin Gani, di blognya,  menulis satu analisis padat mengenai masalah ini.

Di sinilah, menurut saya, masih penting bagi kita untuk tetap menulis di blog. Menulis dari perspektif pribadi (non-media massa mainstream). Menulis tentang masalah-masalah yang biasa dibahas oleh media mainstream dan, yang lebih penting, tentang masalah-masalah yang sering luput atau sengaja tak diliput oleh mereka. Bukankah pada mulanya sebuah berita yang disajikan sebuah media massa tak lain adalah hasil amatan dari satu-dua orang wartawan atas suatu peristiwa atau masalah. Nah, jika hasil amatan wartawan ini mesti melalui proses yang kompleks dan politis hingga ia tersaji dalam rupa berita (yang belum tentu sama dengan apa yang dilihat wartawan tadi), kita, para bloger, punya kesempatan untuk menulis dan menganalisis secara mandiri dan independen, lepas dari kepentingan ini-itu, terutama kepentingan politik praktis dan uang dan uang.[]

Gambar 1 diambil dari http://techtalkafrica.com/5-beginner-mistakes-that-will-keep-your-blog-without-earning.html/
Gambar 2 diambil dari http://merlyna.org/?p=2580

One thought on “Mengapa Menulis di Blog itu Masih Penting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s