Cepat Sembuh

Dari salah satu kamar rawat di lantai lima Rumah Sakit Al Islam, saya menatap langit Bandung Timur.  Di sana ada biru cerah bersaput awan putih tipis. Di bawahnya, perumahan, perkantoran, pusat perbelanjaan,  dan menara BTS berserakkan. Sejauh mata memandang, ada sekira selusin menara BTS berdiri di beberapa titik.

Tempat tinggal saya hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari Rumah Sakit ini. Salah seorang tetangga saya, yang telah belasan tahun tinggal di sana, bilang, dulu dari perempatan Kiaracondong (UNINUS) orang bisa memandang bebas tanpa halangan sampai Cipamokolan. Bandung Timur waktu itu didominasi hamparan sawah. Perumahan tempat tetangga saya  tinggal waktu itu terpencil dari keramaian kota. Hari ini, telah banyak yang berubah. Bandung Timur kian ramai oleh manusia, kendaraan, gedung, BTS. Sayangnya, itu semua tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan publik. Kebutuhan primer seperti air bersih masih sulit didapat oleh banyak rumah tangga. Saban hari macet merajalela. Sampah memadati sungai-sungai. Di musim hujan, banjir menerjang. Saya kerap bingung, apa makna slogan Bandung sebagai Kota Kreatif di tengah carut marut ini.

Ini hari keempat saya dirawat di Rumah Sakit.  Saya dilanda radang tenggorokan akut. Demamnya terasa sejak Kamis, tiga hari sebelum Ramadan. Jumat, atas saran seorang dokter kenalan saudara, saya minum antibiotik. Tapi tidak berefek. Tenggorokan malah terasa kian sakit. Sabtu saya pergi ke dokter. Ia memberikan empat jenis obat, dua di antaranya antibiotik. Tapi hingga senin, sehari setelah lebaran, tenggorokan saya masih sakit. Luka-lukanya menganga. Demam terus menerus. Makan dan minum susah. Selasa pagi akhirnya saya memutuskan pergi ke rumah sakit. Setelah diperiksa darah, untuk proses penyembuhan dan perawatan yang lebih intensif, saya disarankan dirawat di rumah sakit.

Selama di rumah sakit saya, lagi-lagi, dikasih berjenis antibiotik, kebanyakan disuntikkan langsung melalui infus. Saya curiga jangan-jangan radang tenggorokan kali ini susah sembuh karena ia telah kebal pada beberapa jenis antibiotik. Seingat saya, beberapa bulan lalu saya pernah kena radang tenggorokan juga, meski tak separah sekarang. Dan waktu itu dokter juga memberi antibiotik.  Saat dirawat kali ini, saya pikir jenis antibiotik yang diberikan lebih ‘keras’ lagi. Selain yang berupa cairan-cairan yang disuntikkan, ada pula yang berupa pil, termasuk yang berharga puluhan ribu sebutir.  Tapi dalam keadaan tenggorokan yang sakit sesakit-sakitnya itu yang ada dipikiran saya hanya satu: ingin sembuh segera. Barangkali itu juga yang ada di benak dokter-dokter yang mengobati saya: bagaimana agar pasiennya cepat sembuh.

Di hari kelima saya pulang. Kondisi saya sudah membaik. Tidak ada lagi demam. Tenggorokan tak lagi sakit. Yang tersisa hanya lemas dan sesekali mual. Di hari ketiga sepulang dari rumah sakit, saya dijenguk oleh Ibu-ibu. Jumlahnya kurang lebih 20 orang. Usianya rata-rata di atas 40 tahun. Rombongan ini  dipimpin Bu RT. Ruang tengah rumah saya penuh sesak. Saya kaget sekaligus terharu dengan perhatian ibu-ibu itu. Meski beberapa wajah mereka sudah familiar, tidak satu pun dari mereka saya kenali nama aslinya. Saya hanya kenal nama mereka merujuk nama suaminya. Bu Marno, Bu Joko, Bu Sarekal, Bu Hikmat, dan kawan-kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s