Kecepatan, Kemelimpahan, Kebingungan

Acep Muslim

Information overload, conceptual imageSeorang penulis Italia di abad 16 mengeluh, “begitu banyak buku sehingga kita tidak punya waktu lagi bahkan untuk membaca judulnya saja”. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Asa Briggs dan Peter Burke (2006), buku, sejak abad 16 di Eropa, menjadi begitu melimpah karena proses produksinya dapat dilakukan dengan mudah oleh banyak percetakan yang tersebar di Eropa berkat mesin cetak (movable print) yang ditemukan seabad sebelumnya. Sejarawan Lucien Febvre dan Henri Jean-Martin meyakini bahwa sekitar 200.000.000 jilid buku telah dibuat sebelum tahun 1600.
Kondisi ini amat berbeda dengan era pra-Gutenberg dimana  buku hanya tersedia dalam jumlah sangat terbatas di kalangan gereja dan bangsawan saja.Jika seabad sebelumnya banyak orang kesulitan dalam mendapatkan buku dan bahan bacaan lainnya, seabad kemudian ada pula orang-orang  yang mengeluh karena begitu melimpahnya buku-buku sehingga mereka “tidak punya waktu lagi bahkan untuk membaca judulnya saja.” Kelangkaan dan kemelimpahan informasi memiliki masalahnya sendiri.
 Kebingungan
Jika apa yang terjadi di penghujung abad 15 dan 16 itu merupakan revolusi informasi gelombang pertama, maka akhir abad 20 dan abad 21 dunia tengah mengalami revolusi informasi gelombang kedua. Kali ini gelombangnya jauh lebih besar dari yang terjadi di era Gutenberg. Hari ini informasi diproduksi dalam jumlah yang tak terhitung setiap hari, jam, menit, detik. Bentuknya macam-macam. Cetak, audio-visual, digital. Produsennya bukan hanya media massa atau penerbit buku, tapi juga berbagai organisasi hingga individu-individu. Dan bagi para pemilik akses internet, semua informasi itu bisa didapat dengan cepat, mudah, dan murah.
Kemelimpahan informasi dan kecepatan serta kemudahan dalam mendapatkannya membuat orang dapat mengonsumsi informasi dalam jumlah sangat banyak di waktu yang relatif singkat. Sebuah studi yang dilakukan University of California (San Diego) menemukan bahwa pada tahun 2008 rata-rata orang menerima informasi 300 persen lebih besar daripada tahun 1960. Jika dilihat hari ini, angka itu tergolong konservatif karena tahun demi tahun limpahan dan kecepatan informasi yang didukung aneka perangkat pengaksesnya berkembang amat cepat.
Tapi, seperti halnya revolusi dalam jumlah produksi buku sejak ahir abad 15 yang diikuti dengan keluhan-keluhan tentang sulitnya membacai buku-buku yang begitu banyak itu, revolusi informasi gelombang kedua ini pun memiliki masalah yang mirip tapi skalanya lebih besar dan lebih kompleks: bagaimana menyerap dan memahami arus deras informasi itu.
Untuk memahami sesuatu, orang perlu berpikir. Dalam proses berpikir itu, ada proses analisis. Masalahnya, seperti diungkap Richard Watson dalam bukunya Future Minds (2010) juga Nicholas Carr dalam The Shallows (2010), era digital, dengan kemelimpahan dan kecepatan arus informasinya, dapat mengurangi kemampuan manusia untuk berkonsentrasi dan berpikir. Ibaratnya, persediaan aneka makanan terus bertambah, sementara kemampuan mengunyah dan mencerna kita terus menurun; tapi kita terus memaksakan diri mengonsumsi makanan-makanan (yang belum tentu dibutuhkan tubuh) itu.
Saat membaca ratusan berita, artikel, gosip, status twitter, facebook berserta sederet komentar di bawahnya, orang kerap tidak sempat memikirkan apa yang tengah kita lakukan (baca). Hanya mengalir saja. Kebenaran dan konteks dari informasi tersebut, keterkaitan informasi itu dengan informasi lain, sering luput dari perhatian.
Diri dan Dunia Nyata
Masalah lain, keterhubungan manusia dengan internet beserta lautan informasi di dalamnya ternyata tidak menjamin manusia kian memahami dunia tempatnya tinggal. Yang banyak terjadi, para pengakses internet, termasuk para facebookers, malah keasyikan tinggal dan berselancar di alam maya dan melupakan dunia nyata tempatnya tinggal (termasuk orang-orang yang duduk di sampingnya). Dalam beberapa kasus, keakraban manusia dengan internet malah dapat merenggangkan hubungannya dengan orang-orang terdekat di sekitarnya.
Di samping itu, mereka boleh jadi mengetahui berita-berita terbaru, yang unik-unik, dari berbagai penjuru dunia, atau yang bersifat nasional, tapi kesulitan menemukan informasi tentang hal-hal di sekitar dirinya atau tempat tinggalnya. Yang lokal, sering luput dari keserbaadaan informasi di alam maya.
Lalu, apakah informasi tentang bermacam hal yang tersedia dalam jumlah melimpah dan dapat diakses dengan mudah itu membantu manusia untuk lebih memahami dirinya dan orang atau kelompok lain dan memunculkan kesalingpahaman di antara mereka? Ini patut diragukan. Karena yang terlihat, hari-hari ini, di dunia maya, polarisasi dan pertentangan orang-orang berdasarkan aspirasi politik, paham keagamaan, sampai dukungan atas tim sepakbola masih kuat. Tidak sulit untuk menemukan perdebatan sarkartis, saling cemooh, antar antar aliran dalam satu agama di beberapa situs di internet.
Masalah-masalah tersebut selayaknya membuat kita kembali bertanya secara kritis tentang segala ideal yang digembar-gemborkan banyak pihak ikhwal teknologi informasi dan komunikasi, tentang keutamaan akses informasi untuk peningkatan kualitas hidup manusia. Sebaik-baik teknologi, sebaik-baik informasi, adalah yang bermanfaat bagi manusia. Bukan terutama yang paling canggih, yang paling cepat, atau yang dapat menyediakan informasi paling melimpah.
information_overload_hydrant
Gambar diambil dari sini dan sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s