Banjir dan Masalah Lainnya: Siapa dan Siapa

Jakarta, 17 Januari 2012.

Jam 10 pagi. Operator travel Citi Trans Plaza Festival, Kuningan, Jakarta, mengabarkan bahwa seluruh jadwal perjalanan hari itu dibatalkan. Uang pembelian tiket pun dikembalikan. Banjir yang melanda sekujur Jakarta membuat lalu lintas macet di banyak titik, termasuk kendaraan yang keluar masuk jakarta dari arah Bandung. Sekitar satu jam sebelumnya, panitia acara yang hendak saya ikuti hari itu juga mengabarkan bahwa acara hari itu dibatalkan. Sejam kemudian panitia menelpon saya, mengabarkan bahwa acara jadinya dilaksanakan besok pagi. Saya pun kembali ke hotel.

Siapa dan Siapa

Karena banjir ini banyak rencana dibatalkan; banyak perjalanan diurungkan; banyak acara ditunda; beberapa nyawa melayang; milyaran rupiah kerugian; dan entah berapa banyak lagi kerugian. Saya pikir beberapa penyebab banjir sudah umum diketahui. Di sini saya akan menggunakan pendekatan siapa dan siapa untuk menjelaskannya secara ringkas sekaligus mengaitkannya dengan sederet masalah lain.

Di antara pangkal masalah dari bencana banjir, jika ditelusur, adalah karena pertumbuhan ekonomi, pembangunan ini-itu yang tidak diimbangi oleh pengelolaan ruang-ruang  perkotaan dan pembangunan infrastruktur yang memadai; ia juga punya pangkal soal di tindakan serakah dan masa-bodo dari sebagian manusia. Mereka membangun vila di daerah tangkapan air; mereka membangun perumahan mewah di daerah aliran dan serapan air. Dalam iklan-iklan di televisi tanpa malu mereka bilang, perumahan mewah yang dibangunnya bebas banjir. Tapi mereka tidak bilang bahwa perumahan yang dibangunnya menyebabkan banjir di daerah lain. Sementara itu pemerintah, yang mestinya menjadi pengatur, juga kerap sama saja. Saya melihat lingkaran masalah ini bukan hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya tapi juga di Bandung, dan mungkin kota lainnya. Ada prinsip sederhana tapi tampak sulit diamalkan banyak orang: apa pun yang kita lakukan, pertimbangkan pula akibatnya bagi orang lain.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun ini terbilang bagus dibandingkan banyak negara lain yang beberapa di antaranya tengah dilanda krisis ekonomi. Dengan menggunakan kerangka siapa dan siapa, pertanyaannya adalah, siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi itu dan siapa yang tidak pernah kebagian atau hanya kebagian ampasnya saja. Terang sudah, bahwa saat ini, di negri ini, yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin, bahkan tambah miskin. Indeks gini bukti datanya. Kenyataan lapangan bukti nyatanya. Pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati sebagian orang dan limbahnya mengalir deras ke banyak orang. Tak jarang orang-orang menjadi kian kaya dengan mengeksploitasi orang miskin. Mereka yang membangun gedung-gedung, jutaan orang lain yang kebagian banjir.

Kesenjangan sosial-ekonomi di Indonesia bermakna bahwa negara ini bukan lagi milik bersama. Negara yang didirikan oleh para pejuang dari kalangan elit hingga petani kecil ini, sekarang hanya dimiliki oleh sebagian kecil manusia saja. Para konglomerat, para birokrat, dan orang-orang di sekelilingnya.

Kontradiktif

Hari-hari ini kita juga melihat kenyataan yang saling bertentangan dan ironis. Akses internet makin hari makin cepat, tapi jalanan kian macet. Orang bisa berhubungan dengan banyak orang lain dari berbagai belahan dunia, tapi kesulitan untuk bertemu langsung dengan teman satu kota. Harga pulsa semakin murah, harga pangan semakin mahal. Harga berjenis perangkat elektronik semakin murah, harga rumah kian melangit. Saya sedang memikirkan apa makna di balik kenyataan ini. Yang nyata adalah, sebagai makhluk berjasad, pertama-tama kita memerlukan beberapa material untuk hidup, termasuk di antaranya makanan, kesehatan, dan tempat tinggal. Teknologi dan informasi boleh saja makin canggih dan murah, tapi itu tidak bermakna apa-apa jika makanan murah dan sehat makin sulit didapat. Silakan pasang berjenis perangkat canggih di sekolah, tapi itu hanya aksi pamer-pamer saja jika biaya pendidikan di sekolah itu setinggi langit.

Pertanyaanya, lagi-lagi, dengan kerangka di atas, siapa yang benar-benar menikmati segala macam kecanggihan teknologi itu, siapa yang menikmati dan menjadi kesusahan dengan harga pangan, pendidikan, dan tempat tinggal yang kian mahal itu.

Teknologi informasi dan komunikasi yang canggih dan murah pertama-tama bermanfaat bagi para pemilik modal besar. Para pebisnis besar di Amerika, misalnya, bisa melemparkan pekerjaannya ke India dan negara Asia lain, dengan upah buruh murah, berkat teknologi ini. Memanfaatkan kecanggihan TIK, para buruh di Filipina, misalnya, bekerja sebagai petugas layanan konsumen (costumer service) bagi perusahaan Amerika dan konsumen di berbagai negara. Karenanya, para pengusaha besar itu pun mendapatkan untung yang lebih besar. Para pedagang dan pengusaha kecil di pedesaan saat ini juga didorong untuk memanfaatkan TIK dalam kegiatan usahanya. Itu bagus. Dan semoga membawa manfaat bagi mereka. Tapi jangan dialpa, ada beberapa hal yang menjadi kebutuhan  prioritas para pedagang dan pengusaha keci ini. Itu adalah modal yang memadai, jalur distribusi yang sehat, juga pasar yang adil.

Yang kepayahan dengan harga pangan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal yang kian mahal tentu saja mereka yang memiliki sedikit uang. Mereka yang miskin. Yang diuntungkan tentu saja para produsen besarnya. Orang-orang banyak uang bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan mahal dan pada gilirannya dapat mempertahankan atau menambah-nambah kekayaannya. Mereka dapat membeli rumah-rumah mahal lalu menjualnya bebeapa tahun kemudian dengan untung berlipat. Dan begitu seterusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s