Belajar Cara Belajar

Hari ini kantor saya kedatangan Ibu Ratna Saptari. Ia peneliti dan pengajar di Universitas Leiden, Belanda. Ia lahir dan besar di Indonesia. Pendidikan S-2-nya dituntaskan di jurusan Antropologi Universitas Indonesia dan S-3 di Universitas Leiden, Belanda. Bu Ratna adalah seorang antropolog dengan keahlian mengenai isu buruh, gerakan sosial, gender, migrasi, sejarah lisan, dan kajian Asia Tenggara. Karyanya dalam bentuk buku maupun paper ilmiah, baik dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, sudah banyak diterbitkan. Bu Ratna diundang ke kantor saya untuk berdiskusi dan memberi masukan pada teman-teman peneliti tentang rencana penelitian mengenai kesempatan kerja di Indonesia. Saya, meski bukan peneliti, ikut nimbrung dalam diskusi itu. Selalu menarik mendengarkan orang-orang cemerlang seperti Bu Ratna bercerita. Tapi, karena kedangkalan akal dan pengetahuan saya, tidak semua isi diskusi hari ini saya paham. Di antara sedikit yang saya ingat adalah cerita Bu Ratna tentang bagaimana mahasiswa tingkat sarjana di Belanda diajarkan tentang cara belajar, tentang bagaimana berpikir kritis, dalam satu semester penuh.

Di Belanda, dalam satu semester itu, setiap mahasiswa ditugaskan untuk membaca, memahami, dan menulis esai tentang tiga buku. Ada tiga jenis esai yang mereka tulis mengenai buku-buku itu. Esai pertama berisi tentang pendapat atau analisis mereka atas tampilan dan informasi buku (kemasan buku); meliputi judul, tampilan jilid, bagian belakang buku, tahun terbit, edisi, juga daftar isi. Esai kedua tentang isi (substansi) buku tersebut. Esai ketiga membandingkan isi buku dengan kemasannya; apakah tampilan buku tersebut mencerminkan isinya. Dengan jalan tersebut, mahasiswa diajarkan bagaimana teknik membaca, memahami teks, menganalisis, dan berpikir kritis atas setiap literatur yang mereka hadapi. Ketiga buku yang ditugaskan untuk dibaca itu berbeda subjek satu sama lain. Penentuan ketiganya dilakukan oleh dosen.

Saya pikir pengajaran mengenai cara belajar (memahami dan mengkritisi teks) serta metode pengajaran demikian sungguh menarik. Cerita serupa belum pernah saya dengar di Indonesia. Saya lebih sering mendengar tentang betapa mudahnya saat ini mendapatkan “sumber referensi” untuk mengerjakan tugas kuliah bahkan untuk tugas akhir seperti skripsi atau tesis. Tinggal buka google, kunjungi wikipedia, dan lain sebagainya. Meski sangat mudah, hal ini memiliki banyak celaka yang mungkin muncul. Pertama, mahasiswa tidak memahami bahkan tidak sempat membaca tuntas setiap kalimat yang ia kutip untuk tugas kuliahnya. Kedua, tidak ada sama sekali sikap kritis mahasiswa saat menggunakan teks-teks di internet sebagai referensi. Ketiga, sumbernya pun kadang tidak dicantumkan di tulisan mereka. Keempat, dari semua rujukan yang mereka kutip di internet itu, mereka tidak mampu membangun pengetahuan di benaknya. Semua informasi hanya lewat saja tanpa dimengerti, bahkan tanpa diingat.  Ringkasnya, tidak ada proses belajar di sana. Lantas, mengulang pertanyaan lama saya, benarkah internet membuat kita semakin pintar?

Di masa SMA saya mengenal satu buku tentang bagaimana cara belajar. Judulnya Quantum Learning. Ditulis oleh Bobbi De Poter dan Mike Hernacki. Itu buku sangat terkenal di masanya dan mungkin sampai sekarang (saya sudah tidak mengikuti). Banyak pelatihan atau seminar-seminar membahas buku tersebut. Terlepas dari beberapa kelemahannya, ia memberikan panduan yang memadai tentang bagaimana, misalnya, membaca teks, menulis catatan saat belajar, dan sebagainya. Ada juga kiat dan motivasi untuk para pembelajar agar proses belajar menjadi efektif dan menyenangkan. Tapi, untuk level perguruan tinggi, saya pikir diperlukan buku dengan isi dan metode yang berbeda. Saya ingat, beberapa tahun lalu ada buku-buku menyangkut—meski tidak benar-benar membahas—tema tersebut. Di antaranya buku Bambang Q Anees, Gak Sekedar Ngampus (2006) dan  Mahasiswa yang Berpikir Strategis (2006) karya M. Taufik Amir. Di kalangan pesantren salah satu buku (kitab) klasik tentang bagaimana seorang penuntut ilmu agama adalah Ta’lim Muta’alim karya Syekh Az-Zarnuji. Tapi, sejauh yang saya ingat, buku-buku tersebut tidak banyak membantu saya, sebagai mahasiswa waktu itu, belajar di perguruan tinggi.

Bukan hanya buku, alokasi waktu khusus untuk mempelajari bagaimana cara belajar, seperti halnya di Belanda, itu sangat penting. Jika pun kampus-kampus di Indonesia belum bisa mengalokasikan waktu satu semester khusus tentang bagaimana belajar di perguruan tinggi, tidak susah untuk mengalokasikan dua SKS khusus untuk mempelajari bagaimana cara belajar di perguruan tinggi, termasuk di dalamnya diajarkan tentang bagaimana membaca, menulis ilmiah, bepikir kritis, dan literasi informasi. Atau, paling tidak, gunakan masa orientasi mahasiswa untuk mengajarkan tema-tema tersebut. Jika pelajaran-pelajaran penting ini tidak pernah diberikan pada mahasiswa atau calon mahasiswa, dan jika proses kuliah berlangsung tanpa dilandasi dengan semangat berpikir kritis dan analitis, tidak aneh jika banyak skripsi mahasiswa yang tidak karuan, bukan hanya isinya tapi juga cara penulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s