Menunda Kesimpulan

Sikap atau penilaian kita atas sesuatu tidak pernah netral. Ia selalu mengandung bias. Itu di antaranya dipengaruhi oleh latar belakang subjek yang menilai; etnis, agama, ideologi, dan sebagainya. Juga dipengaruhi oleh hubungan atau pengalaman subjek dengan objek atau peristiwa yang dinilai atau disikapinya. Dengan kata lain—mengadopsi pernyataan Gadamer, bahwa setiap pemahaman mengandaikan pra-pemahaman—setiap penilaian pun mengandaikan pra-penilaian.

Demikianlah saat tempo hari presiden PKS dinyatakan sebagai tersangka kasus suap oleh KPK. Banyak pengurus dan kader PKS menyimpulan bahwa tuduhan itu tidak benar. Mereka mengenal dan mempercayai ketua mereka sebagai seorang yang saleh, jujur, dan seterusnya sehingga tidak mungkin melakukan kejahatan itu. Di antara mereka pun ada yang menyebut ini sebagai konspirasi untuk melemahkan PKS jelang pemilu 2014. Sementara itu, ada banyak orang yang menyimpulkan bahwa pastilah benar bahwa Lutfi Hasan Ishaq salah dalam kasus ini. Semua politikus sama saja. Dan KPK tidak mungkin salah dalam menetapkan tersangka. Demikianlah dua kesimpulan tersebut dibuat sebelum proses pengadilan menghasilkan putusan. Yang kadang konyol adalah karena kesimpulan-kesimpulan tersebut juga diikuti dengan cercaan, cacian, dan berjenis ungkapan negatif lainnya baik oleh pihak pertama atau kedua.

Dua hal yang dapat dipelajari di sini. Pertama, seperti disebut di atas, setiap penilaian mengandaikan pra-penilaian. Sangat sulit untuk bisa melihat suatu masalah secara benar-benar jernih tanpa pra-konsepsi apapun. Kedua, kerap munculnya penilaian atau kesimpulan yang mendahului akhir cerita.

Memang sangat sulit untuk melakukan penilaian yang bening atas segala sesuatu. Meski demikian, kita bisa mengupayakan untuk menunda penilaian tersebut sampai suatu cerita tuntas hingga ujungnya. Sambil kita menunggu ujungnya, perhatikan proses bagaimana cerita itu berlangsung. Prinsip ini tidak hanya perlu dipraktikkan saat menghadapi perkara-perkara besar seperti yang muncul di media massa. Yang takkalah penting adalah dalam praktik kehidupan keseharian kita. Kita boleh saja, misalnya, dalam hati menilai seseorang sebagai ini ini ini saat pertama kali bertemu dengannya. Tapi tundalah, simpanlah dulu penilaian itu, ragukanlah dulu penilaian itu, sampai kemudian bukti-bukti menunjukkan bahwa orang tersebut sesuai atau tidak sesuai dengan penilaian kita.

Masalahnya adalah kesimpulan yang dibuat sebelum kita benar-benar mengenal seseorang atau sesuatu akan memberikan kerangka bagaimana kita bersikap atau berinteraksi dengan orang atau sesuatu tersebut. Saat ada orang menilai seseorang itu bukan orang baik hanya karena di lengannya ada tato, misalnya, besar kemungkinan orang tersebut akan menutup diri pada si orang bertato itu. Padahal sebetulnya orang bertato tersebut adalah seorang yang tulus dan berhati lembut, misalnya.

Maka, kenalilah dulu orangnya, kenalilah dulu objeknya, pahamilah dulu peristiwanya, baru kemudian kita ajukan kesimpulan. Waktu dan proses yang berlangsung itu kita jadikan penguji benar-tidaknya penilaian kita di awal. Dan kesimpulan tidak mesti tunggal dan stabil. Ia bisa juga jamak dan berubah di kemudian hari.

Tetaplah bersikap kritis dan terbuka terhadap beragam kemungkinan. Sungguh saya sendiri belum mampu untuk melakukan segala ideal di atas dan masih terus berusaha untuk bisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s