Diri di era banjir informasi

Era banjir informasi begitu melelahkan untuk diikuti. Ia berlari dan manusia dipaksa mengikuti. Di era ini, segala hal datang bertubi-tubi dan membetot kita untuk terlibat di dalamnya. Di beragam portal berita kabar-kabar tak penting dikemas begitu memikat. Kadang provokatif. Energi dan emosi kita pun terkuras. Di media sosial, orang-orang meluapkan beragam omongan, gambar, tautan. Mulai dari yang serius, ngocol, hingga yang menyebalkan. Kita pun ikut tertawa, marah, atau iba. Kita pun terlibat di dalamnya, berkomentar bahkan berdebat. Debat kusir.

Era banjir informasi, selain menyajikan banyak manfaat, juga punya madarat. Ia kerap mengundang kita untuk memasuki dan terlibat dalam dunia yang jauh dari diri kita. Jika demi tambah wawasan atau tamasya tentu tak masalah. Hiburan lah. Perkaranya, ia bisa juga menjadi penguasa atas diri kita. Merampas konsentrasi kita. Menggerogoti waktu-waktu kita yang mestinya digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Era banjir informasi seperti mewakili watak dunia yang penuh pesona dan melenakan. Membuat kita lupa pada tujuan asali sebagai manusia.

Apakah banjir informasi ini membantu manusia untuk lebih mengenali diri sendiri? Entahlah. Rasa saya, banjir informasi ini membuat momen refleksi begitu mahal karena saya lebih sibuk melihat dunia di luar sana, memperhatikan orang-orang nun jauh di sana (kata-kata, foto-foto; hidupnya, kelemahannya), dan lupa melihat dan memikirkan diri sendiri. Saya kritisi dunia dan manusia-manusia lain, tapi lupa mengkritisi diri sendiri. Sialan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s