Email, Media Sosial, Dokumentasi

Saya sempat berpikir bahwa sebaiknya email-email (kerja, obrolan santai, milis kelas) yang sudah lama-lama itu dihapus saja dari kotak masuk. Dengan begitu email saya terkesan lebih singset. Efisien. Nggak ribet. Tak sesak dengan tumpukan surel yang tidak relevan dengan kerja-kerja saya hari ini. Dan saya pun mulai melakukan penghapusan itu walau hanya sedikit saja yang sudah dihapus.

Tapi belakangan saya berpikir ada manfaatnya juga kalau saya membiarkan email-email itu tetap memadati kotak masuk. Bukankah dengan begitu saya sudah melakukan dokumentasi sederhana dari kegiatan komunikasi saya. Dan arsip-arsip email itu, saya yakin, akan menyenangkan jika dibaca sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh tahun yang akan datang dimana saya sudah melalui lebih banyak lagi peristiwa dan memiliki ragam perspektif yang berbeda atau lebih banyak. Di masa depan saya akan melihat puluhan ribu surel yang bersesakan di kotak email saya sebagai tumpukan arsip sejarah yang bisa dikenang atau bahkan dianalisis dengan berbagai pendekatan atau pilihan subjek.

Prinsip sama bisa juga dilakukan di media sosial seperti facebook. Facebook, selain bisa digunakan sebagai media berkomunikasi dan bersosialisasi, juga bisa dimanfaatkan sebagai wadah dokumentasi dari kegiatan bareng keluarga, kawan, dan lain sebagainya (dengan tetap memperhatikan privasi). Berpuluh tahun yang akan datang, jika tidak musnah seperti friendster, melalui facebook kita bisa melihat bagaimana perspektif kita atas berbagai perstiwa bergeser (atau tidak) dari waktu-waktu. Kita juga bisa menganalisis gaya berpose dan berpakaian dari masa-masa melalui koleksi foto yang terpasang di facebook dari waktu ke waktu. Apakah, misalnya, status-status yang dibuat di masa SMP dengan isi dan gaya alay itu akan tetap begitu sampai ia kuliah, kerja, berkeluarga. Kapan, misalnya, gaya berpose cewek dengan menyimpan telunjuk di bibir itu berakhir dan gaya berfoto apa yang kemudian muncul.

Sependek pengetahuan saya, studi-studi tentang media sosial masih jarang (jika bukan tak ada) yang memperlakukan data-data yang tertera di sana sebagai suatu arsip yang dilihat dari perspektif sejarah; kesinambungan, perubahan, dan sebagainya. Padahal, jika dipikir, di sana terdapat limpahan data yang luar biasa tentang banyak hal. Yang diperlukan adalah ketelitian dan ketekunan dalam menyeleksi data-data tersebut; mana yang sahih, mana yang tidak; mana yang berguna, mana yang tidak.

Email dan media sosial tidak sengaja dibuat untuk mendokumentasikan peristiwa. Fungsinya di antaranya ya untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dan menambah pengetahuan dan hiburan. Tapi kita, penggunanya, bisa memanfaatkan media-media itu untuk kegiatan dokumentasi. Tidak perlu upaya khusus untuk melakukannya. Kita gunakan saja email seperti biasa, facebook seperti biasa. Tapi jangan terlalu cepat berpikir, “hapus ini” “hapus itu”. Biarkan saja. Kelak, berpuluh-puluh tahun yang akan datang, kita bisa melihat kembali perjalanan hidup kita dari arsip-arsip baik berupa tulisan atauĀ  gambar yang tersimpan di email atau media sosial kita. Dan itu pasti menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s