Mengalami Suhu Udara 40 derajat sampai 0 derajat celsius

Saya tiba di Melbourne saat matahari tengah terik-teriknya. Hari-hari di Januari 2014 kota ini, dan kota-kota lain di Australia, sedang panas-panasnya. Suhunya berkisar di kisaran 40 derajat. Saya kira ini kali pertama saya mengalami suhu alami sepanas itu (mungkin sebelumnya pernah mengalami, misalnya saat berada di depan tungku dengan api menyala-nyala).

Panasnya Australia di musim panas waktu itu didokumentasikan oleh beberapa kawan saya dalam bentuk film dokumenter. Dalam film ini disebutkan bahwa musim panas kali ini adalah yang paling panas dalam beberapa dekade terakhir. Panasnya memasuki taraf yang cukup membahayakan. Karenanya setiap orang sangat dianjurkan memakai krim pelindung jika keluar rumah. Saya sendiri membawa krim jenis itu dari Indonesia. Tapi ternyata kadar SPF (Sun Protection Factor) -nya tidak mencukupi untuk melindung panas matahari di musim panas kali ini. Saya pun membeli sebotol krim dengan kadar SPF lebih tinggi di sini dan memakainya setiap kali saya keluar dari rumah.

Masalah suhu panas juga dialami saat berada di dalam rumah. Meski tidak terik, tapi tetap bikin badan tak nyaman. Solusinya kipas angin saja. Kalau ada AC, ya pakai AC.

Dari awal ke pertengahan tahun suhu udara bergerak turun. Mendingin. Dari kisaran di atas tiga puluhan derajat ia turun ke kisaran dua puluhan, belasan, dan akhirnya di bawah 10. Titik terendahnya dirasakan di sekitar musim dingin yang jatuh di pertengahan tahun (Juni-Agustus). 3 Agustus lalu, misalnya, suhu di pagi hari di Melbourne mencapai 0 derajat.

Saat suhu sedingin 0 derajat celsius, atau hampir 0, teman-teman saya, termasuk orang Australia, mengeluh kedinginan. Bagi saya pribadi, ini adalah kali pertama bertemu dengan suhu udara sedingin 0 derajat. Ini jelas lebih dingin dari Nagreg atau lembang di subuh hari.

Di musim dingin, pakaian hangat dan berlapis-lapis wajib dipakai terutama jika hendak berpergian keluar rumah. Di dalam rumah, selain tetap dianjurkan berpakaian hangat, pemanas ruangan juga sangat membantu. Kelemahan pemanas ruangan terutama adalah karena ia menyedot energi listrik (atau gas, jika pakai gas) yang lumayan besar (meski energi listrik yang dihabiskan itu relatif ke ukuran watt dari pemanas).

Selain pakaian hangat, yang lebih murah dari pemanas ruangan adalah selimut listrik (electric blanket). Ia di pasang di balik sprei dan sungguh menghangatkan badan saat kita tidur atau tiduran di atasnya. Memilih jenis selimut juga penting. Saya sendiri memakai selimut bulu bebek (duck feather) dan dipakai saat tidur. Dan selimut itu bekerja dengan baik. Bahkan tanpa pemanas ruangan dan electric blanket saya tak merasa kedinginan asal sekujur badan terselimuti selimut ini.

Dalam waktu dekat Australia akan memasuki musim semi dimana suhu menghangat kembali. Tapi di Melbourne musim semi tidak berlangsung ‘biasa-biasa’ saja. Di musim semi inilah, konon, cuaca asli Melbourne muncul. Dalam soal cuaca Melbourne dikenal labil (terutama di musim semi ini). Dalam sehari cuaca bisa bergantian dari dingin menggigil, hangat, hujan, dan berangin kencang.

Kabar baiknya perkiraan cuaca di sini relatif akurat dan hitungannya sudah per-jam. Jadi kalau punya rencana jalan-jalan, misalnya, sehari sebelum berangkat bisa dilihata dulu perkiraan cuaca (online) bagaimana cuaca esok hari dari jam ke jam. Dan bukan hanya panas/dingin atau hujan/kering yang dilihat. Perhatikan juga kecepatan angin yang berhembus. Tingkat kederasan hujan. Juga pada jam-jam berapa saja itu semua terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s