Mudahnya Bertemu Orang Indonesia di Melbourne

Di hari pertama tiba di Melbourne, saya diajak teman makan di sebuah rumah makan Indonesia di sana. Namanya Nelayan. Siapapun orang Indonesia di Melbourne, saya yakin, tidak asing dengan Nelayan. Waktu itu sudah jam makan malam. Saya memesan makanan kepada pelayan dengan bahasa Indonesia kemudian memilih tempat duduk di antara puluhan pengunjung lain yang kebanyakan adalah orang Indonesia. Di hari pertama tiba di Melbourne saya sudah bertemu dengan sekumpulan orang Indonesia yang sedang makan makanan Indonesia.

Selanjutnya, hampir tiada hari tanpa pertemuan dengan orang Indonesia. Dua kawan serumah saya adalah orang Indonesia. Sehari-hari kami umumnya bicara bahasa Indonesia dan makan makanan Indonesia. Di kampus, pada masa Introductory Academic Program (IAP) yang diberikan kepada seluruh penerima beasiswa Australia Awards dari berbagai negara, saya pun bertemu dengan banyak orang Indonesia. Bagaimana tidak, saat itu jumlah mahasiswa penerima AAS asal Indonesia adalah yang terbanyak dibanding negara-negara lain di Melbourne University. Jumlahnya 49 orang. Saya bahkan hanya mengenal sedikit dari 49 orang itu. Sementara itu, dari negara lain tidak ada yang mahasiswa penerima AAS yang lebih dari 30 orang.

Orang-orang Indonesia yang tinggal di Melbourne bukan hanya mahasiswa. Yang bekerja pun banyak. Saya tidak tahu berapa persisnya. Sebagai gambaran, saat pemilihan presiden yang dilaksanakan di KonJen RI di Melboourne lalu, ada lebih dari 5000 orang Indonesia turut berpartisipasi. Meski pemilihan saat itu meliputi seluruh negara bagian Victoria (dan Tasmania?), tapi saya kira mereka yang berasal dari Melbourne lebih banyak daripada daripada yang berasal dari daerah-daerah lain seantero Victoria.

Gambaran lainnya, saat Hari Raya Idul Fitri bulan lalu, ada lebih dari tiga lokasi Solat Ied yang dipenuhi (dan diselenggarakan) orang Indonesia di Melbourne. Di lokasi tempat saya solat, daerah Brunswick, ada sekitar lima ratus orang turut dalam solat Ied. Seusainya, aneka makanan Indonesia khas lebaran di sajikan. Opor ayam, ketupat, kue-kue, dan banyak lagi.

Pertemuan-pertemuan saya dengan orang Indonesia (termasuk pegawai toko vodafone yang membantu saya mengurus nomor baru di Australia) membuat saya berpikir ulang tentang apa itu ‘luar negri’, tentang apa itu ‘negara asing’. Meski tentu saja masih banyak hal yang berbeda antara Bandung dan Melbourne, antara Indonesia dan Australia, tapi Melbourne yang saya kenal hari ini beda dengan yang saya bayangkan (imagine) sebelum saya tiba di sini. Melbourne ternyata tidak terlalu asing. Ia multikultur dan kultur Indonesia ada di situ. Dan hampir setiap kultur di sini mendapat ruang ekspresi yang memadai. Orang Indonesia bisa tetap menari saman di sini; menyalurkan hobi bermain badminton; bahkan mengikuti pengajian-pengajian yang diisi penceramah asal Indonesia.

Saya kira hal yang sama dialami banyak orang dari negara lain yang ada di Melbourne.  Melbourne adalah sebuah kota yang memberikan ruang kepada setiap orang dari berbagai negara untuk tetap menjadi diri mereka, tetap menjadi Indonesia, tetap menjadi India, secara bahasa, budaya, agama, makanan, dan lain sebagainya.

Namun demikian, tentu sangat sayang jika orang mengisolasi diri dalam lingkungan yang tidak ‘asing’ baginya dan melewatkan kesempatan untuk mengalami ‘dunia’ Melbourne. Betul, Melbourne dalam beberapa hal adalah miniatur dunia. Bukan hanya ada Australia di situ. Cina, Bangladesh, Ekuador, Yunani, Arab, dan banyak lagi. Semua ada di sana menunggu dijelajahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s