Kelas Terakhir

Ini hari terakhir saya mengikuti perkuliahan. Setelah ini tidak ada lagi aktivitas di kelas. Meski masih ada satu tugas yang harus dituntaskan, sebelah kaki saya sudah berada di luar kampus. Sudah merasa lulus.

Dua tahun terasa begitu cepat. Empat semester bak empat hari. Tapi waktu selalu begitu. Terlihat lama sebelum dijalani. Menjadi ringkas setelah dilalui. Kemarin dan setahun lalu tak ada beda. Seperti saat renta nanti: ah, enam puluh tahun terasa begitu cepat. Dan setelah mati: ah dunia, terasa baru kemarin.

Di kampus ini saya sudah belajar tigabelas mata kuliah, menulis puluhan esai, dan menyelesaikan satu minor thesis.  Banyak hal baru dipelajari: teori media dari A sampai Z O, tentang civill society, globalisasi, dan beberapa hal lagi.

Jika ada satu pelajaran yang dapat diambil itu: semakin digeluti, ilmu-ilmu itu tampak semakin jelas sekaligus makin nampak kerumitannya. Karenanya seorang ilmuwan mustahil menguasai semua kompleksitas itu. Yang bisa ia lakukan adalah mengambil sehelai dari segulungan masalah itu, merunutnya dari ujung ke ujung, menghubungkannya dengan masalah lain, dan menenunnya secara perlahan menjadi makna.

Ini kelas terakhir buat saya. Bisa jadi ini juga kegiatan perkuliahan formal terakhir sepanjang hidup. Sudah hampir dua puluh tahun  waktu dilalui dari kelas ke kelas. Dari SD hingga perguruan tinggi. Mungkin itu terlalu lama. Jika sekolah adalah persiapan untuk hidup, waktu selama itu mestinya bikin orang sekolahan sangat-sangat siap menghadapi sisa hidup yang bisajadi tak beda jauh lamanya.

Tapi bisajadi tidak. Setelah lulus sekolah, setinggi apapun, orang  masih bingung saat berhadapan dengan kehidupan. Salah satu perkaranya, di sekolah kita tidak belajar dengan baik tentang apa itu hidup dan bagaimana menjalani hidup.

Bergelut dengan berjenis masalah selama kuliah–dari konglomerasi media hingga pembantaian massal di berbagai negara–saya kian yakin bahwa dunia tidak baik-baik saja dan tidak pernah baik-baik saja.

Di level perguruan tinggi, pemahaman yang memadai tentang kompleksitas problem-problem duniawi adalah keharusan dengan harapan bahwa setelah lulus para sarjana akan ambil bagian dalam penuntasan masalah itu. Tapi tidak secara gegabah. Orang yang belajar mesti paham kompleksitas setiap masalah dan mengurai dan menyelesaikannya tanpa harus meminta tumbal. Orang yang belajar dengan baik tidak gampang menyerah saat berhadapan dengan masalah dan tidak gampang bilang: tidak ada pilihan lain.

Tapi mengerti kegentingan dunia juga bisa melahirkan kecemasan bagi diri orang sekolahan. Kompetisi kian ketat. Mendapat pekerjaan kian sulit. Maka jangankan turut membantu umat, bisa menyelamatkan diri sendiri saja sudah luar biasa. Maka hidup pun menjadi masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s