Di Melbourne: Para Tetangga

ACEP MUSLIM

Suatu pagi di musim dingin tahun lalu saat hendak berangkat menuju kampus saya melihat tetangga saya Brad terkapar di depan flatnya. Ia memakai jaket oranye, kupluk merah kuning hijau, kacamata hitam. Tangan kirinya memegang botol minuman.

Matahari sudah bangun tapi masih bersembunyi di balik selimut kelabu.Tanpa cahaya sang surya udara dingin kian leluasa menerpa dan menembus berlapis pakaian yang saya kenakan. Temperatur saat musim dingin di Melbourne jarang sekali mencapai di titik minus. Tidak ada salju. Meski begitu, suhu di bawah sepuluh derajat sudah cukup menyiksa. Tapi Brad seperti tak merasakannya. Ia terlentang begitu saja di lahan parkir seolah tengah merebahkan badan setinggi 180an centinya di atas kasur untuk menghilangkan rasa pegal setelah perjalanan panjang.

Sadar saya melintas, Brad mengangkat kepala dengan berat, mendengus dan mengatakan sesuatu sambil melambaikan tangan. Mungkin ia bilang selamat pagi atau apa kabar atau apapun. Saya balik melambaikan tangan, mengangguk, dan berlalu. Tidak jelas apakah Brad baru bangun atau baru mau tidur. Tampaknya pasangan Brad, Linda, tidak membukakan pintu rumah lagi untuknya.

Unit flat Brad dan Linda tepat berada di kanan unit saya dan keluarga. Apartemen yang kami tinggali memiliki dua belas flat. Dua lantai. Enam flat di bawah, enam lain di atas. Flat saya dan Brad ada di lantai bawah. Dari dua belas keluarga yang tinggal di sini, saya hanya mengenal sepertiganya. Dan dibanding semuanya, Brad yang paling saya kenal. Dari seluruh penghuni flat, hanya Brad dan saya yang tidak punya mobil maupun motor. Karenanya, beda dengan para pemilik kendaraan yang tinggal berjalan beberapa langkah dari tempat parkir menuju pintu, kami selalu berjalan dari stop tram hingga pintu flat masing-masing. Saat berjalan kaki itulah yang sering menjadi momen sosial bagi kami. Di situ kadang kami berpapasan dan bersapaan. ”Good day, mate”. ”How are you doing”. ”Hahaha”.

Meski sering bertemu, saya tak hapal benar wajah Brad karena Ia selalu memakai kacamata hitam dalam cuaca cerah maupun mendung, siang maupun malam, sadar maupun mabuk. Di kepalanya selalu menempel kupluk. Rambut pirang Brad dipintal bergulung-bergulung sebesar ibu jari kaki dan menjuntai tak beraturan hingga punggung. Janggut lebatnya tumbuh semerawut di dagu dan kedua pelipisnya. Setiap kali saya bertemu Brad, ia hampir selalu tengah memakai jaket jingga kumal yang mungkin belum pernah dicuci sejak berbulan-bulan lalu.

Karena flat kami hanya berbatas dinding tembok, suara-suara nyaring dari flat Linda dan Brad kerap terdengar jelas terdengar. Mereka sering mengadakan pesta bersama teman-teman atau keluarga besarnya. Makan-makan. Minum-minum. Nyanyi-nyanyi. Hahaha. Hihihi.

Tapi tak jarang juga pasangan ini bertengkar. Mengumpat kasar. Membanting pintu. Melempar botol-botol minuman hingga pecah. Kalau sudah begini, semua tetangga kena bising. Tapi para tetangga ogah langsung turut campur urusan domestik Brad dan Linda. Jika sudah kelewat kesal mendengar kebisingan Brad dan Linda, salah seorang tetangga akan menghubungi polisi. Selang beberapa menit biasanya satu atau dua orang polisi datang. Kadang lelaki, kadang perempuan, kadang keduanya. Brad dan Linda tidak ditangkap. Selama beberapa menit mereka hanya ditanya ini itu dan diberi peringatan. Lalu polisi pergi. Dan kedua pasangan yang masing-masing sudah berusia 40an tahun itu pun menjadi hening.

Meski tempat tinggalnya sama sedekatnya dengan Brad, selama belasan bulan saya tidak pernah mengenal nama tetangga di sebelah kiri flat saya. Flat itu mulanya ditinggali seorang perempuan berumur tigapuluhan. Saya kadang melihat dia pagi-pagi pergi joging atau tengah duduk di depan pintu sambil merokok. Dua atau tiga minggu sekali perempuan ini dikunjungi pacarnya. Biasanya saat pacaranya datang inilah terjadi sedikit kegaduhan. Suara-suara ritmis dari tempat tidur yang bergoyang. Lenguhan perempuan. Kadang berakhir dengan teriakan. Tapi sudah beberapa bulan kemudian suara-suara itu hilang. Si perempuan pergi entah kemana. Mungkin mereka putus. Sekarang yang tinggal di flat itu (mantan) pacarnya.

Kehidupan pertetanggaan di Melbourne simpel-simpel rumit. Kadang pertenggaan bisa mewujud komunitas sosial dimana orang-orang yang tinggal berdekatan saling mengenal, sering berkumpul, dan saling membantu saat membutuhkan. Kadang tidak. Orang-orang menjalani kehidupan masing-masing dan mengatur jarak dari orang lain sehingga tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Cukup say hello kalau kebetulan berpapasan. Tidak ada RT atau RW, sudah jelas. Sisi baiknya, warga dan kehidupan pribadi tidak terlalu diawasi oleh negara. Di Indonesia, dari satu sisi, RT bisa dilihat sebagai representasi negara di tingkat terendah yang mengawasi dan mengadministrasi warganya sedemikian rupa sehingga pergerakan, kegiatan, dan kehidupan keseharian mereka terawasi oleh negara. Warga baru dan lama yang pindah mesti lapor. Tamu 1×24 jam wajib lapor.

Tapi ketua RT juga bagian dari warga yang pada taraf tertentu secara sosial berfungsi untuk mengatur kerukunan warganya. Jika ada warga bertengkar, RT menjadi penengah. Dan jenis kepemimipinan dengan fungsi sosial seperti ini mungkin telah ada lama sebelum negara ada. Negara hadir memberi label pada tipe kepemimpinan lokal seperti ini sekaligus memanfaatkannya sebagai perpanjangan tangan kekuasaan di tingkat paling rendah.

Banyak kegiatan-kegiatan sosial muncul dengan batasan lingkungan adminstratif RT/RW. Kegiatan-kegiatan yang juga menjadi platform sosial sehingga memungkinkan warga saling mengenal dan syukur-syukur saling peduli satu sama lain. Ada pertemuan rutin bulanan, pengajian, arisan, kerja bakti, dan lain-lain. Dengan demikian, selain kedekatan jarak, negara pun pada level tertentu turut menentukan siapa dekat dengan siapa, siapa bekerjasama dengan siapa. Tapi karakter sosial pertetanggaan di Indonesia (terutama di perdesaan?) tentu saja tidak terutama dibentuk oleh sistem administrasi negara; bahkan bisa malah sebaliknya. Warga suatu kampung akan tetap guyub dengan atau tanpa sistem pembagian wilayah berdasarkan RT atau RW. Terkait ini, jenis mata pencaharian bisa jadi lebih menentukan karakter sosial warga di suatu daerah. Warga yang kebanyakan bekerja di pabrik atau kantor yang pergi pagi pulang petang bisa jadi memiliki kohesi sosial yang lebih renggang daripada yang bermatapencharian sebagai petani. Kelompok warga pertama tidak memiliki banyak waktu dan keperluan untuk saling bertemu dengan tetanggga. Warga kelompok kedua hampir sebaliknya.

Dari obrolan soal kehidupan pertanggaan di negara ’barat’ seperti Australia dan negara ’timur’ seperti Indonesia kita bisa menemukan perbedaan unit sosial terkecil yang ada di kedua negara. Di Australia, unit sosial terkecil adalah individu. Di Indonesia, itu adalah kelompok. Pandangan ini tentu harus diperdebatkan terutama di tengah dinamika sosial seperti saat ini yang ditandai dengan, di antaranya, cepatnya proses urbanisasi di banyak daerah di Indonesia dan masyarakat yang kian terfragmentasi.

Tapi jika pandangan tentang unit sosial ini diteruskan, kita akan bertemu dengan dua konsep berbeda tentang kebebasan. Di barat, kebebasan yang utama adalah kebebasan individu. Sedangkan di Indonesia, dan Asia Tenggara umumnya, ia adalah kebebasan kelompok. Karenanya, seperti kata James Scott, kebebasan di Asia Tenggara dibangun di atas pengaturan jarak suatu unit (kelompok) sosial dari negara; dari seberapa otonomkah sebuah kelompok sosial dari intervensi negara sehingga mereka bisa menjalani kehidupan berdasarkan nilai-nilai dan cara-cara sesuai dengan pilihan kolektif kelompok warga tersebut. Kebebasan, dengan kata lain, dapat dilihat dari keberagaman nilai dan cara hidup dari tiap-tiap kelompok warga yang bisa jadi berbeda satu sama lain. Kebebasan macam ini terenggut tatkala negara mengintervensi dan berupaya mengontrol warga dengan cara mengadministrasikan mereka serta menerapkan sistem, tata cara hidup, dan bahkan mata pencaharian yang ditentukan negara. Pada jaman kolonial, misalnya, warga dipaksa untuk menanam tanaman yang bukan merupakan kebutuhan utama mereka (seperti kopi) demi kepentingan ’ekonomi nasional’ yang berorientasi ekspor. Penyeragaman, dari kasus ini, adalah jalan negara untuk mengontrol sekaligus mengeksploitasi warganya.

Di negara seperti Australia, individu adalah yang utama. Tidak ada orang seperti ketua RT/RW yang memiliki otoritas tertentu untuk mengatur kehidupan warga dari jarak sangat dekat. Yang bisa meminta warga untuk bekerja bakti atau melakukan siskamling. Yang bisa mengintervensi (dan membantu menyelesaikan) konflik antara dua individu warga yang tidak bisa diselesaikan oleh warganya sendiri. Di Australia, untuk menyelesaikannya konflik antar individu bahkan yang sepele, polisi (negara di level yang lebih tinggi) yang akan turun tangan. Dalam sebuah tayangan televisi, saya pernah menonton seorang berita tentang seorang nenek yang melapor ke polisi karena tidak suka ada sekelompok anak-anak yang bermain basket di jalan di depan rumahnya. ”Jalanan itu sepi dan tentu bukan milik pribadi si nenek”, kata anak-anak itu. Jadi sah-sah saja mereka bermain di situ. ”Tapi”, kata si nenek, ”bola basket yang mereka mainkan kadang-kadang masuk ke halaman rumahnya”. Dan bagi si nenek, itu mengganggu. Polisi yang ditelpon si nenek itu pun berusaha menengahi dan, setelah proses komunikasi yang cukup lama untuk soal sekecil itu, meminta anak-anak untuk sedikit menggeser tempat bermainnya menjauhi halaman rumah si nenek.

Tapi tanpa tangan negara di tingkat komunitas pun, bukan berarti negara seperti Australia tidak memiliki kontrol terhadap warganya. Di kota-kota besar seperti Melbourne dan Sydney kamera CCTV ada dimana-mana. Bukan hanya di tempat perbelanjaan, tapi juga di taman dimana orang-orang bersantai dan bercengkarama. Kamera-kamera itu seperti mata-mata negara yang tidak pernah tidur untuk mengawasi pergerakan warganya. Selain itu, tahun lalu pemerintah federal telah mengesahkan Undang-undang Metadata yang memberi keleluasan pada negara untuk melihat lalu lintas komunikasi warganya (dengan siapa satu orang, misalnya, bertukar email), atau websites apa saja yang mereka kunjungi. Di Amerika, melalui NSA, model kontrol negara macam ini, sudah lama terjadi. Hidup di negara-negara macam ini seperti bebas padahal tidak juga. Di kampung saya Pak RT tahu kegiatan saya sehari-hari tapi tidak akan tahu situs online apa saja yang saya kunjungi. Tapi badan intelejen negara-negara maju bisa jadi tahu dengan siapa saja warganya berkirim pesan melalui perangkat digital. Tidak ada privasi. Bukan tak mungkin, Indonesia pun akan mengikuti jalan keparnoan tingkat tinggi macam itu dimana negara menjadi sangat kepo terhadap apa saja yang dilakukan warganya di dunia offline maupun online.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s