Poor Economics oleh Abhijit Banerjee dan Esther Duflo (2011)

Melalui buku ini Abhijit Banerjee dan Esther Duflo berupaya menjawab permasalahan sangat besar dan familiar yang telah lama dihadapi dunia: bagaimana membebaskan lebih dari satu milyar penduduk dunia dari kemiskinan.

Namun bagi kedua penulis ini pertanyaan besar tidak berarti membutuhkan jawaban besar yang mampu menyelesaikan segalanya dengan sekali hentakan. Jawaban-jawaban besar atas problem kemiskinan, misalnya yang berfokus pada pendekatan ideologi dan struktural, cenderung sangat idealis namun lemah dan kerap gagal di tataran praktek.

Abhijit dan Duflo berpandangan bahwa permasalahan kemiskinan harus dilihat sebagai serakan kepingan masalah yang saling bertautan dan hadir bersama kompleksitasnya masing-masing. Permasalahan pendidikan, misalnya, jika dipecah akan terdiri dari permasalahan akses atas sekolah, kehadiran guru dan murid di sekolah, dan banyak lagi. Kehadiran murid di sekolah pun jika dilihat lebih dekat bisa berkaitan dengan problem lain seperti jarak rumah ke sekolah, kesehatan lingkungan di sekitar rumah siswa dan lain-lain.

Karena kompleksitasnya, setiap kepingan masalah seperti tingkat kehadiran juga kelulusan siswa tidak boleh didekati secara gegabah atau pukul rata. Setiap titik masalah tersebut perlu dilensa secara mendetail, dianalisis secara ketat, dan pada gilirannya  diintervensi dengan cara yang tepat. Terkait hal ini buku ini juga mengajukan (mempromosikan) metode Randomized Control Trials (RCT) sebagai satu metode yang dapat digunakan secara akurat untuk keperluan riset tentang setiap problem kemiskinan sekaligus mengidentifikasi jenis intervensi apa yang paling tepat.

RCT adalah metode yang diadaptasi dari bidang studi kesehatan untuk melihat obat apa (dengan takaran berapa) yang dapat secara efektif menyembuhkan penyakit tertentu. Dalam konteks permasalahan kemiskinan, jika kita, misalnya, ingin tahu apakah penentuan mereka yang berhak menerima subsidi pemerintah (seperti BLT) oleh ketua RT dapat meningkatkan ketepatan sasaran bantuan, maka kita bisa mengambil sampel beberapa rumah tangga di beberapa desa; sebagian desa menentukan penerima bantuan melalui RT, sebagian tidak atau ditentukan secara kolektif oleh warganya sendiri; lalu lihat apa yang terjadi. Namun satu RCT belum tentu menelurkan satu solusi final. RCT kadang perlu dilakukan berkali-kali untuk menemukan temuan paling akurat atau model intervensi yang paling pas.

Setiap bab dalam buku ini diisi dengan deskripsi dan analisis rinci penulis atas berjenis problem terkait kemiskinan mulai dari kelaparan, kesehatan, pendidikan, dan usaha kecil/mikro. Penulis menyajikan data yang cukup kaya yang bersumber dari data set 80 negara tentang kemiskinan, penelitian-penelitian mereka termasuk hasil-hasil RCT yang dilalukan di berbagai negara, serta hasil-hasil riset terdahulu tentang kemiskinan.

Kontribusi utama buku ini adalah membuat permasalahan kemiskinan menjadi terlihat lebih kongkrit, dapat dipecahkan, dan karenanya memompakan optimisme baru dalam upaya-upaya pengentasan kemiskinan. Kerangka berpikir yang dipakai buku ini pun secara tidak langsung memberikan kredit penting bagi para setiap individu, lembaga, terlebih negara yang telah melakukan usaha-usaha ‘sederhana’ untuk membantu orang miskin di berbagai tempat. Bagi Banerjee dan Duflo, permasalahan kemiskinan tidak perlu dientaskan secara hingar bingar. Intervensi-intervensi kecil tapi tepat dan akurat lebih berguna daripada program-program megah tapi tak menghasilkan apa-apa. Kerja-kerja sederhana tersebut, penulis buku ini berpendapat, pada gilirannya akan terakumulasi menjadi sebuah revolusi sunyi pengentasan kemiskinan.

Problem buku ini, yang saya yakin disadari betul oleh penulisnya, adalah cara pandanganya yang pragmatis dan terkesan mengedapankan aspek-aspek teknis dalam usaha-usaha menyelesaikan masalah kemiskinan. Ia tidak memberikan perhatian yang cukup pada kenyataan bahwa kemiskinan juga dihasilkan dari hubungan kuasa yang timpang dan, apa boleh buat, kebijakan-kebijakan dan proses-proses yang lebih bersifat struktural. Untuk mengambil contoh yang besar, kemiskinan, salah satunya dapat tercipta dari krisis ekonomi (ingat krisis di Indonesia tahun 1998). Sedangkan krisis ekonomi itu sendiri jelas bukan hanya perkara teknis, ia berkaitan dengan soal bahwa ada yang salah dengan sistem ekonomi yang saat ini berjalan. Buku ini pun tidak membahas problem ketimpangan secara memadai. Ketimpangan mengindikasikan ada yang tidak beres dalam  distribusi kekayaan sekarang ini.

Namun demikian, tentu tidak adil jika kita mengharapkan sebuah buku akan secara superlengkap mengkaji suatu permasalahan. Banerjee dan Duflo telah memilih untuk mengerangkai kajiannya dengan satu cara pandang yang berbeda dengan para pemikir lain tentang kemiskinan seperti Jeffrey Sachs dan William Easterly–dua sosok yang pemikirannya cukup banyak dikritik di buku ini. Pada akhirnya buku ini tetap penting bagi para pemegang kebijakan maupun aktivis pembela kelompok marjinal sebagai salah satu (bukan satu-satunya) pegangan untuk memandu upaya mulia mereka dalam menyejahterakan kaum papa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s