Bad Samaritans: The Myth of Free Trade and the Secret History of Capitalism oleh Ha-Joon Chang (2007)

Apa yang membuat Korea Selatan mampu beranjak dari negara miskin menjadi negara kaya dalam kurun waktu empat dekade?

Bagi banyak ekonom, jawabannya adalah perdagangan bebas dan sederet kebijakan ekonomi (neo)liberal lainnya.  Tapi kenyataanya, menurut Chang, bukan itu. Korea menjadi negara kaya raya dalam tempo kurang dari lima dekade karena di fase-fase awal pembangunan ekonominya negara ini menerapkan sistem ekonomi bercorak nasionalis yang diatur oleh negara. Pemerintah Korea di tahun 70an, misalnya, memilih industri-industri yang akan diperkuat, memberikan subsidi, serta dengan berbagai cara melindunginya dari persaingan keras dan tidak seimbang dengan perusahaan-perusahaan luar negri. Baru setelah industri-industri itu cukup tangguh, Korea membuka diri dan terlibat dalam perdagangan bebas.

Jadi, Korea menjadi kaya bukan karena menerapkan perdagangan bebas,atau kebijakan ekonomi neoliberal lainnya; tapi ia merengkuh kebijakan-kebijakan tersebut karena  sudah kaya. Trade liberalization has been the outcome rather than the cause of economic development (hal 58).    

Sejarah perkembangan ekonomi Korea adalah jalan sejarah yang dialami negara kaya lain, termasuk Inggris dan Amerika. Di fase-fase awal pembangunan ekonominya, kedua negara ini menerapkan kebijakan-kebijakan ekonomi nasionalis yang sangat melindungi industri dan pasar dalam negri. Barulah setelah ekonomi mereka kuat, mereka mulai membuka diri terhadap pasar bebas. Inggris raya, misalnya, baru menerapkan perdagangan bebas di pertengahan abad 19.

Nah, yang menyebalkan adalah negara-negara yang sudah kaya ini belakangan mendorong (jika bukan memaksa) negara berkembang untuk menjalankan ekonomi neoliberal dengan dalih supaya negara-negara ini jadi makmur. Padahal sudah jelas bahwa Amerika dan geng negara-negara kaya lainnnya menjadi kaya bukan karena neoliberalisme tapi karena sistem ekonomi yang lebih menekankan penguatan dan perlindungan industri dalam negri. Dengan kata lain, mereka seperti orang-orang yang telah berhasil memanjat ke tempat tinggi melalui tangga, namun saat banyak orang lain ingin naik ke tempat itu, mereka malah menendang tangga tadi dan menyarankan orang-orang di bawah untuk menggunakan cara lain untuk naik ke atas. Ha Joon Chang menyebut kelakukan negara-negara kaya ini sebagai kicking away the ladder yang juga merupakan judul dari buku yang dia tulis sebelum Bad Samaritans.

Lebih parah lagi, melalui saran-sarannya itu mereka mengambil untung dari negara-negara yang  sedang kesusahan di antaranya melalui berbagai skema kerjasama ekonomi seperti perdagangan bebas yang timpang. Dan itulah watak Bad Samaritans: taking advantage of others who are in trouble; meskipun, kata Chang, Bad Samaritans hari ini tidak ngeuh bahwa mereka sedang membuat negara berkembang menderita dengan kebijakan-kebijakan yang mereka dorong bahkan paksakan tadi (xxii).

Kelompok negara kaya mendesakkan sistem ekonomi neoliberal ke negara-negara berkembang melalui lembaga-lembaga keuangan, pembangunan, dan perdagangan internasional yakni IMF, World Bank, dan WTO. Chang menyebut tiga lembaga ini sebagai the Unholy Trinity. Meski hampir semua negara di dunia menjadi anggota dari lembaga-lembaga tersebut, namun struktur, tata-kelola, dan dengan demikian kebijakan lembaga-lembaga tersebut lebih didominasi kepentingan negara-negara kaya.

Perdagangan bebas dan sistem ekonomi neoliberal yang memayunginya telah menjadi mitos yang dipercaya akan membawa negara-negara menuju kemakmuran. Mantra-mantra tersebut, bersama globalisasi, seakan tak terelakan dan merupakan sebuah proses yang alamiah. Penulis buku ini menunjukkan bahwa alih-alih sebagai sebuah keniscayaan, globalisasi serta perdagangan bebas lebih tepat disebut sebagai pemaksaan yang bersifat politis (terutama diatur oleh kebijakan, dan bukan digerakkan oleh teknologi).

Sepanjang bukunya Ha-Joon Chang mengajukan fakta-fakta dan sederet argumen yang menunjukkan kecatatan-kecacatan doktrin neoliberal. Contohnya, sementara neoliberalisme menganjurkan provatisasi, Chang menunjukkan bahwa di banyak negara perusahaan yang dikendalikan oleh negara justru lebih efisien dan menguntungkan dibanding perusahaan-perusahaan privat.

Dengan pendekatan sejarah, buku ini secara gamblang membongkar mitos perdagangan bebas dan globalisasi sebagai sebuah keniscayaan ekonomi dan jalan menuju kemakmuran. Dalam rentang sejarah ekonomi dunia pasca perang dunia kedua, Chang menunjukkan bahwa justru di era dimana ekonomi neoliberal belum diterapkan—tahun 60an-70an—pertumbuhan ekonomi di negara kaya maupun berkembang malah lebih baik daripada saat ekonomi neoliberal sudah merajalela seperti saat ini.

Bad Samaritans hari ini

Jika buku Bad Samaritans dibaca hari ini, kita akan melihat sebuah ironi terjadi. Mereka yang sangat gigih mendorong globalisasi, saat ini merasa keteteran menghadapi itu semua. Inggris telah memutuskan untuk mundur dari Uni Eropa karena mereka melihat lalu lintas kapital dan orang yang sedemikian bebas di antara negara-negara eropa dinilai tidak menguntungkan buat negara mereka. Di Amerika, jutaan orang mendukung Donald Trump yang berkoar-koar bahwa perdagangan bebas sering tidak menguntungkan Amerika. Jika demikian, siapa yang diuntungkan? Satu yang sudah pasti adalah kelompok 1% terkaya di dunia yang menguasai perusahaan-perusahaan raksasa yang menggurita di berbagai negara di seluruh dunia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s