Seeing Like A State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed (Part 1) oleh James C. Scott (1998)

James Scott membangun argumen mendasar untuk menjelaskan mengapa banyak proyek-proyek rekayasa sosial (social engineering) atau pembangunan-pembangunan skala besar yang dilakukan di negara-negara dunia ketiga di abad dua puluh berujung kegagalan. Untuk keperluan itu, Scott menelisik logika kerja negara dan bagaimana ia melihat dan membangun hubungan (kekuasaan) dengan rakyatnya. Bangunan argumen Scott pada dirinya sendiri sangat menarik, bahkan sebelum ia digunakan untuk menjawab misteri kegagalan proyek-proyek skala besar tadi. Dalam argumen tersebut, ada dua konsep utama yang digunakan Scott yaitu legibilitas (legibility) dan penyederhanaan (simplification).

Menurut Scott, legibilitas (keterbacaan) suatu populasi adalah isu utama dalam lingkup kenegaraan (statecraft)—bagaimana negara bekerja. Legibilitas masyarakat, lebih jauh, dapat meningkatkan kapasitas negara dalam mengintervensi, mengelola, mengontrol, dan mengambil keuntungan dari masyarakat tersebut. Semakin negara tahu tentang siapa, dimana, dan bagaimana rakyatnya hidup, semakin kuatlah posisi negara. Sebagai perbandingan, negara pramodern memiliki pengetahuan yang sangat terbatas tentang rakyatnya. Ia, karenanya, memiliki kuasa yang juga sangat terbatas untuk misalnya menarik pajak dari orang-orang atau mengontrol gerak perpindahan mereka.

Karena demikian pentingnya perkara legibilitas, negara berusaha sedemikian rupa untuk membuat masyarakatnya legibel, membuat mereka nampak dan terbaca. Di sisi lain, masyarakat beserta aspek-aspek yang melingkupinya nyatanya merupakan realitas yang kompleks (bahkan setiap individu memiliki keunikannya sendiri). Setiap kelompok masyarakat yang ada dalam negara memiliki budaya, tata aturan, dan cara hidup yang relatif berbeda satu sama lain. Nah, dalam upaya untuk ‘melegibelkan’ realitas yang kompleks itu, negara melakukan penyederhanaan-penyederhanaan (state simplifications) sedemikian rupa sehingga realitas tadi sesuai dengan skema-skema administratif dimiliki negara. Penyederhanaan-penyederhaan dilakukan di antaranya dengan menerapkan ukuran-ukuran dan satuan-satuan standar dalam berbagai aktivitas yang dijalankan masyarakat, membuat peta-peta kadaster (cadastral maps), mengabstraksikan ragam realitas ke dalam kategori-kategori tertentu, hingga memaksa warga untuk memiliki surename.

Namun Scott menunjukkan bahwa pemetaan-pemetaan, survey-survey, dan upaya-upaya pengobservasian warga lainnya tidak merekam realitas yang ada di masyarakat secara utuh. Metode-metode tersebut secara sengaja didesain untuk bersifat selektif mengacu pada kepentingan-kepentingan negara. Penyederhaan macam ini berarti juga pengabaian bahkan penghancuran atas aspek-aspek lain yang ada di masyarakat. Scott memberikan analogi cemerlang dengan menggunakan hutan yang merupakan entitas kompleks dan bagaimana ia dilihat dan disederhanakan menjadi sumber penghasil kayu untuk keperluan industri semata. Cara pandang yang diikuti tindakan-tindakan eksploitasi ini mengabaikan organisme lain yang hidup di hutan, hewan-hewan, sampai masyarakat adat yang meninggali hutan tersebut. Cara pandang yang menyederhanakan  kompleksitas dan keragaman realitas, dengan demikian, juga membahayakan keragaman itu sendiri termasuk, dalam kaitannya dengan masyarakat, mengancam keberadaan nilai-nilai, budaya, bahkan penghidupan yang dijalankan masyarakat.

Penyederhanaan diperlukan di antaranya agar negara dapat secara maksimal dan mudah mengeksploitasi rakyatnya. Sebagai contoh, dengan menyederhanakan pemilikan lahan dari komunal yang berputar atau berganti-ganti dari satu kelompok/individu ke kelompok/individu lain ke dalam kepemilikan individu yang tetap, menjadikan objek pajak negara lebih definitif. Secara politik, negara juga perlu menyederhanakan masyarakat dan realitas di sekelilingnya supaya mereka lebih mudah diawasi dan dikontrol. Mungkin karena itu pula, Scott mengingatkan bahwa hasrat negara atas penyeragaman kehidupan rakyatnya menunjukkan bahwa pengelolaan negara modern merupakan proyek kolonisasi internal (internal colonization) (hal. 82).

Gambaran Scott atas negara terlihat begitu muram. Tentang ini di bagian awal buku Scott sudah membuat disclaimer dengan mengatakan my argument is an anarchist case against the state itself (hal. 7). Meski begitu, kesimpulan-kesimpulan Scott saya kira masih dapat dikonfirmasi keabsahan dalam realitas praktek bernegara (belum tentu di Indonesia, lho) hari-hari ini. Selain itu, kerangka analisis yang dirakit Scott masih relevan untuk menganalisa ragam perkembangan pembangunan dan tindakan-tindakan lain yang dilakukan negara di abad 21 seperti, sebut saja, digital surveillance.

Kita belum memasuki bagian tentang bagaimana model penyederhanaan ala negara ini membuat intervensi-intervensi negara, terutama dalam bentuk pembangunan, berujung kegagalan. Bagian selanjutnya kemungkinan akan membahas masalah itu.

 

4 thoughts on “Seeing Like A State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed (Part 1) oleh James C. Scott (1998)

  1. Kang acep…bagus sekali tulisan2nya. Oh.ya kang, saya Taufiq yang tgl 1september 2016 nanti tiba pertama kalinya di melbourne. Agak sedikit khawatir, saya butuh sekali bantuan untuk bertemu dengan orang indonesia. Saya perlu di briefing tentang melbourne, transportasinya, sholat, makanan dll.

    Saya dari depok jawabarat kang, berniat menghadiri education show di Melbourne Exhibition. Saya seorang guru.

    Senang sekali bila bisa bertemu akang.

    • Halo Mas Taufik. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.

      Saya kebetulan sudah pulang ke Bandung. Tapi saya bisa kasih sedikit kisi2 soal Melbourne.

      Pertama tentang orang Indonesia. Ada cukup banyak orang Indonesia di Melbourne, termasuk yang lagi sekolah. Mas Taufik bisa bergabung di grup facebook IndoMelb https://www.facebook.com/groups/319354934807237/ atau mailinglistnya di indomelb@yahoogroups.com. Kalau sudah di Melbourne, titik-titik yang hampir selalu ada orang Indonesianya di antaranya rumah makan Indonesia seperti Nelayan. Lokasinya di pusat kota. Ada banyak orang Indonesia juga yang bekerja di Victoria Market. Dari Melbourne Exhibition Mas Taufik bisa jalan kaki santai atau naek bis ke Kampus Melboourne University. Nah kalau Mas Taufik pergi ke Masjid/Mushola kampus, hampir selalu ada orang Indonesia yang solat di sana.

      Kedua tentang transportasi. Melbourne bagus sekali public transportnya. Yang Mas Taufik butuhkan hanya satu kartu, namanya MyKi. Itu bisa dipakai buat naik tram, bis, dan kereta. Belinya bisa di seven-eleven, kantor pos, atau kios-kios kecil. Google Map akan sangat bisa diandalkan di sana. Semua titik penting bisa dilacak lokasi dan jalurnya melalui Google Map. Transportasi utama di Melbourne pakai Tram. Mas Taufik bisa download applikasi namanya TramTracker. Di situ lengkap semua: rute-rute seluruh kota dll.

      Ketiga tentang Salat. Kalau dekat Exhibition Melbourne bisa ke Musola kampus Melbourne Uni. Kalau jalan kaki, paling 10 menitan. Pintunya kadang dikunci, kalau mau masuk bareng saja sama mahasiswa yang punya ID card untuk masuk.

      Keempat tentang makanan. Makanan Indonesia (halal) banyak di Melbourne. Selain Nelayan, ada Bali Bagus, Esteler77, rumah2 makan Malaysia, dll. Jangan kuatir.

      Terakhir, orang Melbourne pada umumnya ramah-ramah pada siapa saja. Jadi jangan segan untuk bertanya jika kebetulan menemui masalah.

      Semoga berguna informasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s