Seeing Like A State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed (Part 2) oleh James C. Scott (1998)

James Scott berpendapat bahwa kegagalan-kegagalan proyek pembangunan raksasa di negara-negara berkembang di akhir abad sembilan belas dan abad dua puluh, selain dilatari oleh prinsip dan praktek-praktek state simplification, juga disebabkan oleh tiga faktor lain yang satu sama lain saling berkaitan sekaligus bertautan dengan problem state simplifications. Ketiganya adalah kepercayaan akut pada modernisme lanjut (high modernism), kekuasaan politik dengan batas-batas yang sangat longgar (otoriter), dan masyarakat sipil (civil society) yang lemah. Di bagian kedua bukunya Scott memfokuskan diskusi tentang high modernism.

High Modernism (HM) dapat diartikan sebagai kepercayaan yang sangat kuat atas teknik dan pengetahuan ilmiah sebagai visi sekaligus panduan dalam proses pembangunan. Selain itu HM juga berpusat pada keyakinan atas linearitas sejarah, ekspansi produksi, serta desain atau penataan-penataan yang bersifat rasional untuk menciptakan social order (hal. 89). HM percaya bahwa untuk menciptakan kesejahteraan dan ketertiban sosial, umat manusia dan alam tempat mereka tinggal mesti diatur menurut logika rasional ilmu pengetahuan. Ia dengan kata lain merupakan simbol keadikuasaan manusia atas alam. Tentang ini Scott mengutip Zygmunt Bauman yang memberikan metafor kegiatan bertaman atau berkebun (gardening) untuk mengilustrasikan bagaimana HM bekerja. Saat seseorang berkebun, ia akan menata lahan ke dalam bentuk yang ia inginkan. Si pemilik kebun akan memindahkan pohon, membuang beberapa jenis tanaman, menambahkan beberapa tanaman baru, memasang pagar-pagar, dan seterusnya. Pengolahan dan penataan lahan menjadi sebuah kebun atau taman adalah satu metafor tentang bagaimana manusia memaksakan keinginannya atas alam dengan menggunakan prinsip-prinsip rasional dan estetika visual ala HM.

Untuk mendiskusikan HM lebih jauh, Scott mengambil dua kasus yaitu penataan kota dan revolusi politik (Rusia).

Dalam hal penataan kota, Scott mengontraskan Le Corbusier, seorang arsitek yang beriman pada HM, dan Jane Jacobs, seorang pengritik HM yang sangat brilian. Corbusier melihat  kota sebagai mesin yang bekerja secara mekanis dalam menjalankan berbagai fungsi untuk melayani kebutuhan (sebagian) penghuninya. Demi efisiensi dalam menjalankan fungsinya itu sebuah kota harus ditata dengan di antaranya melakukan pemisahan-pemisahan fungsi yang ketat (zonasi), misalnya untuk bisnis, perbelanjaan, dan seterusnya. Selain berfungsi sebagai mesin, kota yang ideal juga harus ditata sedemikian rupa sehingga jika dilihat dari kejauhan (udara) akan tampak rapi, megah, dan teratur dengan jalur-jalur yang tegas dan simetris. Selain berfungsi dengan prinsip tunggal rasionalitas, sebuah kota yang baik menurut Corbusier harus menarik secara visual. Pembangunan kota dengan prinsip HM bisa dibilang adalah visi pembangunan total yang hendak menata segalanya tanpa mengabaikan sistem yang sudah ada maupun bagaimana kehidupan kota pada nyatanya berjalan dalam keseharian. HM dalam perkotaan bertendensi untuk mengeliminir area-area yang secara ekonomi tidak produktif/tidak efisien, serta secara visual mengganggu. Karenanya daerah-daerah kumuh harus dibersihkan dan dialihfungsikan menjadi area lebih produktif, apartemen, atau ruang terbuka yang sedap dipandang mata. Jelas sudah bahwa penataan kota dalam HM yang begitu kental dengan praktek-praktek simplifikasi akan selalu memakan korban. Ringkasnya, kota bervisi HM bukanlah kota yang inklusif.

Di sebrang Le Corbusier ada Jane Jacobs, seorang pengkritik prinsip-prinsip dan praktik-praktik perencanaan kota yang berlandaskan HM. Titik berangkat dan cara pandang Jacobs dalam melihat kota sangat kontras dengan Corbusier. Jacobs memulainya dari pengamatan jarak dekat atas kehidupan mikro perkotaan yang saban hari dialami warga secara nyata. Dua frasa kunci yang penting di sini adalah pengalaman dan kehidupan keseharian warga. Ia melihat bagaimana, misalnya, warga berinteraksi dan saling tolong menolong di jalan. Menurut Jacobs, kehidupan kota adalah kehidupan yang beragam, kompleks, saling terhubung satu sama lain, dengan logika kerja dan relasi juga beragam. Sifat-sifat yang demikian itu bertentangan dengan visi HM yang mengandaikan sebuah kota yang terkotak-kotak dengan fungsi utama untuk berproduksi (misalnya bekerja dan berbisnis) dan dapat dikontrol dengan satu komando. Atau dapat juga dibilang bahwa visi HM atas sebuah kota tak lain dan tak bukan adalah visi simplifikasi dan abstraksi yang hendak meringkas dan memangkas keberagaman menjadi  satu atau beberapa kategori sosial dan ekonomi. Lebih jauh, Jacobs yakin bahwa kota dapat berfungsi secara otonom tanpa kendali satu otoritas tunggal. Kota dihuni dan dimiliki oleh kalangan beragam; bukan hanya berisi para pekerja yang pergi pagi pulang sore untuk bekerja, bukan juga hanya berisi para pebisnis. Selain mereka-mereka itu, kota juga berisi ibu rumah tangga, anak-anak sekolah, balita, manula, kaum difabel, dan banyak kelompok masyarakat dan ragam individu lainnya. Semua elemen ini adalah warga yang memiliki hak setara untuk hidup di kota. Tak ketinggalan, Jacobs pun mengkritik tendensi-tendensi utopis tentang kota ideal yang megah dan indah ala HM. “A city,” Jacobs menegaskan, “cannot be a work of art”.

Kasus kedua yang diajukan Scott adalah revolusi Russia. Meski ranahnya sangat berbeda dengan pembangunan perkotaan, terdapat dua sudut pandang yang bertentangan dalam memandang revolusi politik seperti juga Corbusier dan Jacobs berhadap-hadapan dalam soal pembangunan kota. Dalam konteks revolusi politik Russia, Lenin adalah seorang high modernist. Di sisi lain ada Rosa Luxemburg yang berperan sebagai pengritik Lenin.

Lenin berteori bahwa sebuah revolusi harus dipimpin dan dikontrol oleh elit partai dan para cerdik-pandai yang memiliki kemampuan professional tertentu. Ia melihat rakyat tidak sebagai kumpulan individu-individu, tapi sebagai massa tunggal yang harus dididik dan dikontrol seperti halnya sekumpulan anak sekolah yang harus didisiplinkan oleh gurunya yaitu si partai tadi. Dalam hubungan itu jelas ada hirarki dan relasi kuasa yang berpusat di si guru (partai). Selain itu, ketika bicara revolusi, menurut Lenin, ia harus direncakan secara matang, sistematis, dan pelaksanaannya dipimpin oleh satu komando dari atas (partai). Pandangan Lenin sangat bernuansa HM yang begitu mengutamakan keteraturan, mekanisasi, rasionalisasi dan kontrol. Jika Corbusier melihat kota sebagai mesin yang menggerakan kehidupan, Lenin melihat partai sebagai mesin revolusi.

Luxemburg, di lain sisi, berpandangan bahwa revolusi adalah satu proses yang kompleks, saling bertautan, dan tak dapat dikontrol oleh satu komando. Luxemburg, seperti halnya Jane Jacobs saat melihat kota, memandang revolusi dari apa yang terjadi di tingkat praktik. Pandangan Luxemburg terkonfirmasi dalam momen revolusi Rusia (1917) yang sesungguhnya. Dalam revolusi ini pada kenyataannya tidak ada komando tunggal yang menggerakan massa. Massa kelas pekerja nyatanya mampu bekerja secara otonom. Gerakan mogok massa (masss strike) merupakan proses alami yang kompleks dan tidak dipandu oleh satu rencana yang rigid seperti diandaikan Lenin. Revolusi, lanjut Luxemburg, pada akhirnya merupakan living process. Meski Luxemburg dan Lenin bersebrangan dalam melihat massa, revolusi, partai, serta relasi dari ketiganya , ini tidak berarti bahwa Luxemburg tidak percaya pada partai elit revolusioner. Hanya saja, Luxemburg tidak melihat partai sebagai pusat dari segalanya; ia pun melihat relasi partai dan massa rakyat secara lebih longgar dengan menempatkan massa sebagai entitas yang kompleks, tumbuh, bahkan dapat muncul sebagai elemen kreatif dalam proses revolusi serta, pada gilirannya nanti, dalam pembangunan masyarakat sosialis.

Bagian kedua dari buku Seeing Like a State ini juga menunjukkan bahwa pertama, simplikasi dan HM dapat dilakukan oleh kalangan kanan maupun kiri; liberal maupun sosialis. HM adalah visi yang dapat menempel pada ideologi manapun karena ia menawarkan sesuatu yang terdengar progresif baik secara ekonomi maupun politik. Namun demikian, di ideologi apapun HM beroperasi, ada satu kondisi politik dan institusional yang selalu diandaikan yaitu otoritas (negara/partai) yang relatif absolut dan terpusat. Kedua, sangat menarik saat Scott mempertentangkan dua pasang pemikir dalam uraian di bagian kedua ini yang mana tokoh “antagonisnya” adalah lelaki (Corbusier, Lenin) sementara lakonnya perempuan (Jacobs, Luxemburg). Jika ditarik ke dalam diskusi tentang gender, barangkali kita bisa menarik satu kesimpulan sementara bahwa lelaki cenderung ke HM-HMan sedangkan perempuan lebih kritis dan membumi.  Tentu saja ini bukan perkara kelamin, melainkan bertalian dengan struktur sosial dan pembagian kerja yang ada di masyarakat yang dalam rentang waktu tertentu telah membentuk cara berpikir yang berbeda antara sebagian lelaki dan perempuan tentang bagaimana sebuah ruang atau tatanan sosial seharusnya diatur. Ketiga, HM pertama kali muncul di barat sebagian bagian dari produk Englightenment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s