Seeing Like A State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed (Part 3-4) oleh James C. Scott (1998)

James Scott memberikan beberapa contoh proyek social engineering skala besar yang berefek buruk bagi warga dan berujung kegagalan. Dua di antara beberapa kasus itu adalah program kolektivitasasi (collectivization) pertanian di Uni Soviet di penghujung 1920an sampai awal 1930an. Yang kedua adalah program villagization di Tanzania di tahun 70an.

Kolektivisasi adalah program agraria/pertanian di Uni Soviet yang bermaksud untuk menggantikan kepemilikan individu atas lahan pertanian menjadi kepemilikan komunal atau bersama. Kepemilikan kolektif ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memudahkan kontrol negara atas industri pertanian. Stalin ingin program raksasa ini dilangsungkan dalam tempo singkat. Itu tentu tidak mudah. Banyak petani di pedesaan menolak program itu. Negara pun memaksa, memenjara, bahkan membunuh. Sepanjang program pemaksaan ini, korban jutaan bergelimpangan. Berjatuhannya jutaan korban ini saja sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa sebagai sebuah proyek pembangunan program kolektivitasasi adalah tragedi. Dan bukan hanya itu. Produktivitas yang dibayangkan dari sistem pertanian yang dikontrol negara pun tidak terwujud. Pertanian yang dikelola keluarga atau individu dengan luasan lahan yang tidak luas ternyata masih lebih produktif dibandingkan dengan pertanian skala raksasa ini.

Kasus kedua adalah program desaisasi (villagization) di Tanzania pada tahun 70an. Pada waktu itu pemerintah Tanzania menjalankan program untuk menempatinggalkan warga di area pedesaan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh negara supaya warga tersebut dapat bekerja di lahan pertanian secara lebih produktif, dapat mengakses layanan kesehatan, dan secara estetika lebih rapi dan teratur. Tapi lebih penting dari itu semua, program ini akan membuat warga lebih mudah dikontrol. Jumlah orang yang hendak didesakan itu lima juta jiwa. Sama halnya dengan kasus collectivization di Uni Soviet, program raksasa ini pun jauh dari mulus. Banyak warga menolak yang akhirnya negara harus memaksa dengan berbagai cara sampai korban pun berjatuhan. Dan ketika bagian dari rencana itu terealisasi, tujuan yang diklaimkan seperti peningkatan produktivitas pertanian malah tidak tercapai.

Meski target menyejahterakan warga tidak tercapai, baik di Uni Soviet maupun Tanzania, proyek-proyek bervisikan high-modernism yang mereka jalankan telah mampu mengokohkan posisi negara di tengah-tengah warganya. Proyek-proyek tersebut, meski gagal, telah memperluas apa yang oleh Scott disebut “state space”-suatu area/ruang yang terjangkau, terpantau, terkontrol oleh negara.

Di dua proyek tersebut nampak jelas apa yang terjadi jika high modernism dipaksakan pada realitas kompleks masyarakat oleh kekuatan negara dengan kontrol yang sangat kuat. Saya kira tidak terlalu sulit untuk menemukan contoh-contoh kasus lain dan lebih baru tentang bagaimana proyek-proyek pembangunan yang dilatari oleh kombinasi dari simplification+high modernism+outhoritarianism+weak civil society berujung tragedi.

Nah, jika ada satu kalimat yang dapat menjelaskan penyebab dari kegagalan-kegagalan proyek raksasa di atas maka Scott menulis: progenitors of such plans regarded themselves as far smarter and farseeing than they really were and, at the same time, regarded their subjects as far more stupid and incompetent than they really were (hal 343). Segelintir orang di atas sana merasa diri paling pintar dan menganggap semua warga di bawah sana sebagai orang-orang bego yang harus diatur. Selain itu, seperti telah dijelaskan di bagian pertama buku ini, para penguasa dan pembuat rencana itu selalu bertendensi untuk menstandarisasi atau menyeragamkan warga. Di mata orang-orang yang duduk di menara itu, warga have, for the purposes of the planning exercise, no gender, no tastes, and no distinctive personalities to contribute to the enterprise (346). Lebih jauh desain-desain high-modernists tend to diminish the skills, agility, initiative, and morale of their intended beneficiaries (349).

Meski tidak menyebutnya sebagai solusi (dan sepertinya Scott memang tidak memfokuskan bukunya untuk itu), Scott secara ringkas memberikan alternatif jalan pembangunan sebagai kritik atas highmodernism. Ia membaginya menjadi empat. Take small steps; favor reversibility; plan for surprises; and plan on human inventiveness.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s